5 Hal yang Wajib Kita Ketahui Sebelum Menikmati Keindahan Wisata Gunung Bromo

1. Keindahan Gunung Bromo

Terletak sekitar 85 kilometer dari Kota Surabaya, Gunung Bromo adalah surga bagi parawisatawan karena keindahannya. Di gunung setinggi 2.392 meter ini, jutaan orang setiap tahun menikmati matahari terbit sebagai suguhan utamanya. Suasana yang hening, dingin dan sedikit berkabut menjadi penyegar penat dikala akhir pekan atau musim liburan.

Gunung Bromo bisa dijangkau dari Probolinggo atau Malang. Namun jalur normal bagi wisatawan biasanya lebih memilih dari Probolinggo. Sementara jalur dari Malang wisatawan harus melintasi lautan pasir dan tentunya jumlah kendaraan transportasi yang terbatas.

Di Gunung Bromo sudah banyak tersedia akomodasi yang memadai. Pada bulan Juni – Agustus adalah saat terbaik menikmati pemandangan Bromo karena cuaca sedang cerah-cerahnya di puncak musim kemarau.

Jika wisatawan bisa berkunjung pada bulan Kesada (bulan menurut kalender suku Tengger), wisatawan bisa menyaksikan upacara adat Kasada yang sudah tersohor di dunia pariwisata internasional. Saat itu, ratusan warga Tengger akan melarung berbagai hewan ternak dan hasil bumi ke kawah Gunung Bromo sebagai wujud syukur.

2. Sunrise di Penanjakan

Momen utama yang tak boleh dilewatkan saat berkunjung ke Gunung Bromo adalah menikmati matahari terbit dari sisi Penanjakan. Jika Anda menginap di villa atau hotel, sebaikkan usahakan bangun pagi sekitar pukul 03.00 WIB. Untuk ke Penanjakan, wisatawan harus menyewa Jeep yang bisa didapatkan di penginapan.

Dari sisi penanjakan, sebelum subuh jika Anda beruntung dan cuaca sedang cerah, matahari yang terbit terselimuti oleh cahaya kuning keemasan. Suguhan selanjutnya adalah, lansekap yang pelan-pelan tersapu oleh cahaya dari Timur dengan view Gunung Bromo berdampingan dengan Gunung Bathok dengan bonus latar belakang Gunung Semeru.

Perkampungan suku Tengger dan jejeran penginapan serupa miniature yang disaput kabut terlihat dari Penanjakan. Suasana mistis tersebut bisa membuat bulu roma merinding menyaksikan kebesarah Tuhan yang menciptakan bentang alam Bromo yang begitu mempesona.

Hamparan hutan pinus dan lahan pertanian dengan berbagai macam sayuran menghijau juga menyejukkan mata. Biasanya di titik Penanjakan inilah, para wisatawan yang membawa kamera memberondongkan jepretan kamera penuh nafsu. Ibarat kata, menjepret kamera dengan mata tertutup sekalipun di Gunung Bromo, tetap saja akan terekam keindahannya.

3. Lautan Pasir dan Kawah Gunung Bromo

 

Setelah puas menikmati sunsire di Penanjakan, wisatawan bisa langsung turun untuk menuju lautan pasir. Karena dahulu pernah digunakan untuk lokasi shooting film “Pasir Berbisik”, maka areal seluas 15 km2 ini sering disebut wisatawan sebagai lautan Pasir Berbisik.

Jika ingin menikmati keindahan  lautan pasir, wisatawan bisa turun dari kendaraan dan bisa berkeliling dengan berjalan kaki atau menyewa jasa kuda. Di akhir pekan juga tak jarang komunitas Motocross melintasi lautan pasir ini.

Puas menikmati lautan pasir, wisatawan bisa langsung menuju Kawah Bromo. Lokasi ini melintasi Pura yang konon tidak ikut hancur saat Gunung Bromo Meletus. Jika masih ada tenaga, wisatawan bisa berjalan kaki dari area parkir menuju kawah.

Jasa kuda menjadi alternative jika wisatan tidak bersedia berlelah-lelah jalan kaki menuju kawah Bromo. Anda bisa menyewanya mulai Rp 50.000 – Rp 80.000, atau tergantung kesepakatan. Namun jangan senang dahulu, dititik akhir pemberhentian jasa kuda, Anda harus menaiki tak kurang dari 300 anak tangga untuk sampai di atas kawah Gunung Bromo.

5. Masyarakat Tengger

Konon masyarakat asli Suku Tengger keturunan dari Roro Anteng (putrid Raja Majapahit) dan Joko Seger (putra Brahmana). Suku Tengger sangat berpegang teguh pada istiadat dalam hidup bermasyarakat. Mereka sangat dihormati masyarakat karena selalu bersikap jujur dan tidak mempunyai sifat iri.

Sejak jaman Majapahit, konon daerah yang saat ini dihuni oleh Suku Tengger dikultuskan sebagai tempat suci karena mereka dianggap abdi-abdi Kerajaan Majapahit. Bahasa sehari-hari mereka adalah bahasa Jawa Kuno, yang tidak memiliki kasta bahasa atau tingkatan bahasa.

Hingga saat ini, masyarakat Suku Tengger memeluk agama Hindu. Tidak seperti pemeluk Hindu di daerah lain yang memiliki candi-candi sebagai tempat ibadah, Suku Tengger membangun sebuah pura di lautan pasir Gunung Bromo.

Sejarah umat Hindu di Bromo konon bermula pada kisah pemerintahan Kerajaan Majapahit pada era kepemimpinan Dinasti  Brawijaya. Permaisuri kerajaan pada masa itu mempunyai anak perempuan bernama Roro Anteng, yang setelah dewasa jatuh cinta pada seorang pemuda berkasta Brahmana, Joko Seger.

Saat Kerajaan Majapahit ditaklukkan oleh kerajaan Islam Demak Bintoro, Roro Anteng dan Joko Seger beserta sejumlah keluarga dan abdi dalem melarikan diri ke kawasan pegunungan Tengger. Sejak saat itulah, mereka mengembangkan agama Hindu Tengger di sekitar tempat tinggal mereka di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

 

6. Upacara Yadnya Kasada

Setiap tahun, masyarakat Tengger menggelar upacara Yadnya Kasada. Upacara ini menjadi favorit wisatawan untuk berbondong-bondong mengunjungi Bromo. Upacara ini berlangsung di Pura Luhur Poten yang berada di kaki Gunung Bromo. 

Upacara Yadnya Kasada diselenggarakan mulai tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama di Bulan Kasodo menurut kalender masyarakat Tengger (biasanya jatuh pada sekitar bulan Agustus – September). Setelah upacara pada dini hari selesai di Pura, selanjutnya dilanjutkan dengan ritual di kawah Gunung Bromo.

Jika ingin menyaksikan secara langsung ritual ini, sebaiknya wisatawan hadir sebelum tengah malam. Anda bisa menyaksikan para dukun Suku Tengger mempersiapkan upacara. Saat Upacara Kasada, diangkat seorang tabib atau dukun di setiap desa Suku Tengger. Mereka bertugas untuk melafalkan mantra-mantra saat upacara Kasada berlangsung.

Beberapa hari sebelum Kasada, calon dukun menyiapkan sesaji yang dibutuhkan. Sesaji ini berupa hasil pertanian dan hewan ternak, yang kemudian akan dilempar ke kawah Gunung Bromo. Kemudian para calon dukun ini, pada malam ke 14 bulan Kasada dilantik oleh seorang dukun sepuh masyarakat adat Tengger. Setelah dilantik itulah, para dukun bisa memimpin upacara-upacara adat Tengger.

Setelah upacara pelantikan selesai, sesaji berupa hasil bumi dan hewan ternak diarak menuju Kawah Bromo. Berbagai sesaji tersebut kemudian dilempar ke dalam kawah sebagai bentuk pengorbanan atau persembahan kepada nenek moyang. Di dalam kawah, masyarakat sudah menunggu untuk berebut sesaji-sesaji tersebut.

 

 

***Panduan Menuju Bromo***

Dari Surabaya banyak transportasi menuju Gunung Bromo, baik menggunakan armada bus ataupun mobil rental. Untuk mempermudah perjalanan, wisatawan disarankan menyewa mobil apalagi jika dengan rombongan kecil. Di Bandara Juanda, Surabaya mudah ditemukan penyewaan mobil beserta dnegan sopirnya. Lama perjanalan menuju Bromo sekitar 4-5 jam.

Jika terpaksa menumpang kendaraan umum, dari terminal Bungurasih bertanyalah pada petugas bus jurusan Probolinggo. Tarif bus menuju Probolinggo bervariasi, mulai Rp 50.000 untuk bus ekonomi dan Rp 80.000 untuk bus Patas.

Dari terminal Probolinggo, wisatawan bisa menumpang mobil elf menuju Cemoro Lawang. Biasanya diterminal mudah menjumpainya. Namun perlu dingat, mobil menuju Cemoro Lawang hanya beroperasi mulai pukul 08.00 – 14.00 WIB. Tarifnya sekitar Rp 25.000 per orang. Dari Cemoro Lawang, anda bisa menyewa Jeep secara berombongan dengan wisatawan lainnya.

Menuju Surabaya dari namapun, pesawat terbang menjadi pilihan paling menarik karena tiket pesawat sudah semakin murah. Maskapai penerbangan juga sering memberikan promosi yang menarik. Namun jika Anda dari Jakarta dan ingin memumpang kendaraan darat, Anda bisa menumpang bus langsung Jakarta – Probolinggo dengan tariff sekitar Rp 250.000 untuk kelas eksekutif.

Feature dan Foto: Arief Priyono


Leave A Reply

Please Login to Leave a Reply