Asal-usul Sate Nusantara, dari Kebab ke Taichan



Sate mungkin salah satu variasi dari makanan tertua yang disantap manusia. Nenek moyang sate bisa ditelusuri hingga satu juta tahun lalu ketika manusia purba Homo Erectus berkeliaran di permukaan Bumi. Kala itu, nenek moyang kita baru saja bisa mengendalikan api. Dengan api mereka sadar kalau daging yang dimasak, dipanggang di atas api, rasanya lebih enak daripada dimakan mentah.

Meski tak sebanyak soto, beragam jenis sate tersebar di seantero Nusantara. Kita tentu kenal sate madura atau sate padang. Selain itu ada pula sate maranggi serta sate tegal. Pertanyaan yang segera mengemuka kemudian, bagaimana sate tiba di Nusantara? Dari mana asal muasalnya?

Sate ayam

Dari segi bahasa, sate dipercaya berasal dari bahasa Tionghoa dialek Hokkian, sa (tiga) dan te (butir). Konon, dulunya sate terdiri atas tiga daging yang ditusuk. Namun bukan berarti sate berasal dari Tiongkok. Sate tak dikenal dalam masyarakat Tiongkok yang sehari-hari bicara Hokkian di provinsi Fujian, daerah selatan negeri Tirai Bambu. Menurut ahli kuliner William Wongso, sebagaimana dikutip Koran Tempo (15/6/2014), sate yang ditusuk dan dibakar dikenal di wilayah Xinjiang yang mayorotas muslim dan sangat terpengaruh makanan Timur Tengah. "Sate Xinjiang, sebagaimana makanan Arab, memakai daging kambing," kata William.

Karena itu, sate mungkin sekali datang ke Indonesia dari Timur Tengah. Muasal sate adalah kebab. Mungkin sekali para saudagar muslim dari Timur Tengah tak hanya menyebarkan agama baru ketika tiba di Nusantara pada abad ke-13, namun juga tradisi kuliner. Ahli kuliner lain, Hiang Marahaimin menulis di edisi khusus kuliner Intisari (2006), kebab dibawa pedagang Persia (kini Iran) ke Nusantara. Tempat orang Iran tinggal dan menetap disebut "koja" yang artinya pasar orang Iran.

Seperti pecinan jadi tempat orang keturunan Tionghoa bermukim, kita juga mengenal istilah pakojan atau pekojan ketika bertemu lidah lokal. Daerah pekojan ini bisa ditemukan di kota-kota pelabuhan pantai utara Pulau Jawa dan kota-kota dagang lainnya.

Kebab Iran

Diakui, ada kemiripan antara sate dan kebaba. Kebab Iran dibuat dari daging domba, ayam, atau sapi ayng dipotong besar-besar atau dicincang. Kebab Iran dibuat dari faging yang ditusukkan pada sebatang besi, lalu dipanggang sambil diolesi ghee atau mentega leleh. Terlebih dahulu daging direndam bumbu dari campuran bawang bombai parut, garam, merica hitam.

Nah, sebagaimana banyak masakan lain yang berubah wujud ketika kena pengaruh lokal begitu juga sate. Besi tak mudah ditemukan di Nusantara, maka diganti kayu dari bambu yang tersebar di mana-mana, berlimpah ruah di pelosok Nusantara. Perbedaan kedua ukuran dagingnya. Potongan daging sate lebih kecil dengan maksud supaya tengahnya matang ketika dipanggang. Soalnya, orang Indonesia paling takut makan daging mentah. Sama seperti kebab, sate bisa direndam bambu atau diolesi bumbu waktu dipanggang.

Yang terjadi kemudian perantau dari Fujian, Tiongkok, menyantap sate tiga tusuk bikinan orang Indonesia. Di situ ia menamakan makanan baru itu sate.

Tahun 2017 ini dibuka dengan tren varian sate baru, sate taichan. Lagi-lagi muasalnya juga dari orang asing. Alkisah, pada suatu ketika di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, sepasang kekasih (ada juga yang bilang suami-istri) berbeda warga negara memesan sate Madura di salah satu gerobak pedagang. Si pria, ada yang bilang warga Korea, ada pula yang bilang orang Jepang, berinisiatif mengolah sendiri karena merasa tak cocok dengan bumbu kacang dan kecap.

Sate taichan.

Daging ayam ia lumuri sedikit garam dan perasan jeruk nipis, sebelum dipanggang. Sebagai pengganti bumbu kacang dan kecap, ia meminta sambal untuk teman makan sate varian baru itu. Waktu ditanya apa nama satenya, si orang asing bilang sekenanya, “sate taichan.”

Tak tahunya, sate model begitu disukai orang. Maka, sate taichan pun kini menjamur di mana-mana. Kini popularitas sate itu telah meluas tak hanya di kawasan Senayan. Di restoran-restoran banyak pula ditemukan menu baru sate taichan dengan berbagai variasinya. (ade/berbagai sumber)

Leave a Comment