Baduy: Negeri Dimana Waktu Berhenti

Sumber foto header: tripsantai.com 

Seratus enam puluh kilometer dari Jakarta terdapat sekelompok masyarakat yang masih mempertahankan cara hidup nenek moyangnya berabad lalu. Suku yang dikenal dengan nama Baduy tersebut menghuni lembah-lembah di Pegunungan Kendeng, Kabupaten Lebak, Banten. Suku tersebut mudah dikenali dari bajunya yang berwarna hitam atau putih. Laki-laki di suku tersebut mengenakan ikat kepala hitam atau putih.

Perjalanan menuju Baduy dengan menggunakan angkutan umum cukup mudah. Dari Jakarta, pengunjung naik kereta ke arah Rangkasbitung. Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan naik elf dari terminal ke arah Ciboleger. Selanjutnya, pengunjung harus berjalan kaki karena kendaraan tidak diperbolehkan memasuki kawasan Baduy.

Sumber foto: arifsetiawan.com

Sebelum memasuki perkampungan Baduy, pengunjung harus mengisi buku tamu di rumah Jaro—kepala kampung. Tinggalkanlah sumbangan secukupnya. Di tempat itu pengunjung diberi tahu pantangan yang harus ditaati selama berada di kawasan Baduy. Seperti dilarang membawa pemutar musik, dilarang mencabut tanaman, hingga dilarang mandi dengan sabun dan pasta gigi di Baduy Dalam.

Wilayah Baduy terbagi dua: Baduy Luar tempat masyarakat yang mulai beradaptasi dengan dunia luar dan Baduy Dalam tempat aturan adat masih kuat ditaati. Perbedaan cara hidup dua masyarakat tersebut mudah dilihat dari cara berpakaian dan rumah mereka. Suku Baduy Dalam mengenakan baju warna hitam atau putih yang mereka tenun dan jahit sendiri. Suku ini juga tidak pernah mengenakan alas kaki. Sedangkan Suku Baduy Luar, meskipun baju mereka masih berwarna hitam dan putih, kebanyakan menggunakan barang buatan pabrik. Rumah Suku Baduy Dalam bentuknya seragam, sama seperti yang nenek moyang mereka bangun ratusan tahun lalu. Rumah panggung tersebut tidak memiliki lemari dan dibangun tanpa menggunakan paku dan kunci. Lain halnya dengan rumah Suku Baduy Luar. Rumah-rumah tersebut memiliki sekat-sekat ruangan dan kunci, lemari serta perabot rumah tangga bukan hal yang tabu untuk mereka miliki.

Sumber foto: www.republika.co.id

Pengunjung bisa dengan mudah pergi ke Baduy Luar. Namun mereka memerlukan penunjuk arah untuk sampai ke Baduy Dalam karena jalan setapak menuju ke sana memiliki banyak cabang. Pengunjung bisa mencari orang Baduy yang biasa berkumpul di warung-warung Ciboleger sebagai penunjuk arah.

Perjalanan ke Baduy membutuhkan fisik yang prima karena pengunjung akan melalui hutan dan bukit. Selain menggunakan sepatu yang nyaman untuk berjalan, pengunjung perlu membawa payung atau topi untuk melindungi wajah dari terik matahari. Karena Pegunungan Kendeng memiliki curah hujan tinggi, ada baiknya membawa jas hujan untuk berjaga-jaga.

Sumber foto: travel.kompas.com

Bambu merupakan rumpun yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Baduy. Selain rumah, mereka juga membangun jembatan dan lumbung padi dari bambu. Lumbung padi tersebut berbentuk seperti rumah panggung berukuran lebih kucil. Letaknya terpisah dengan perkampungan supaya jika kampung terbakar, penduduk Baduy tidak kehilangan persediaan pangan mereka.

 


1 Comment

  • Thumb profile carafe

    Love Loli

    25 July 2016

    Selain rumah, mereka juga membangun jembatan dan lumbung padi dari bambu

Leave A Reply

Please Login to Leave a Reply