Berbeda-beda Tetapi Soto Jua

Soto, sroto, saoto, tauto dan coto. Itu beberapa nama untuk menyebut satu jenis makanan: soto. Ya, kalau ada satu jenis makanan yang menjadi lambang bagi kebhinekaan negeri kita soto patut disebut sebagai contoh. Sebab soto identik dengan nama daerah asalnya. Banyak daerah di Indonesia memiliki soto-nya masing-masing: Soto padang, soto banjar, soto betawi, soto ambengan, soto kudus, soto lamongan dan banyak lagi.

Ada berapa jumlah soto di Indonesia?

Di infografis bumbu- bumbu masak untuk soto laman Beritagar.id menyebut 25 jenis di Indonesia menggunakan 33 jenis bumbu dari bawang putih, bawang merah, kayu manis, kencur hingga susu cair. Bisa jadi jumlahnya lebih banyak dari 25 jenis. Sebab ada beberapa daerah yang punya soto lebih dari sejenis.

Berbagai jenis soto.

Soto aslinya dipercaya berasal dari Tiongkok. Kata “soto” konon berawal dari bahasa Hokkian, “saoto.” Menurut Agni Malagina, sinolog Universitas Indonesia di laman National Geographic Indonesia, orang Tiongkok biasa menyantap hidangan bernama caotu tang alias sup babat—jeroan sapi. Di buku Nusa Jawa: Silang Budaya, Dennys Lombard mengatakan masakan sejenis soto pertama kali populer di wilayah Semarang. Sejak berabad silam Semarang jadi tempat singgah imigran Tiongkok dari wilayah Jiangmen yang berbicara Hokkian.

Imigran Tiongkok yang menyebar di Nusantara kemudian mengenalkan saoto di wilayah yang mereka tinggali. Di situ lalu saoto bertemu dengan bumbu-bumbu dan rempah-rempah lokal. Mi dan soun yang asli dari Tiongkok bercampur dengan bawang, jahe, cengkeh, kapulaga, hingga kunyit yang kuahnya kemudian mirip kari dari India. Artinya, soto merupakan campuran dari berbagai tradisi hingga asal-usulnya sulit ditelusuri.

Bahan dasar soto juga macam-macam. Bisa ayam, bisa pula semua bagian sapi dari daging sampai kikil dan jerohannya seperti pada soto betawi. Di Kudus, Jawa Tengah, ada soto yang memakai daging kerbau. Konon lahir dari penghormatan bagi penganut Hindu di daerah itu yang mengkeramatkan sapi.

Soto betawi.

Variasi soto bertambah jika ada penjual yang memberi ciri khas untuk memberi ciri khas dan jadi pembeda dengan soto yang lain. Di Semarang misalnya ada tiga versi soto terkenal: soto bangkong, soto selan, dan soto bokoran. Apa bedanya? Soto selan tidak memakai soun dan kuahnya lebih kental, warnanya kuning. Soto bokoran lebih cokelat dari soto bangkong dan rasanya lebih manis. Perbedaan kecil ini terasa besar bagi penggemar soto.

Semua soto Semarang berkuah bening. Begitu juga soto sulung dan soto ambengan. Kedua soto ini intinya adalah soto madura. Yang satu dari jerohan dan daging sapi, satunya lagi dari daging ayam. Nama mereka diperoleh dari nama jalan tempat soto itu dijual, di jalan Sulung dan jalan Ambengan di Surabaya.

Lalu ada pula sroto sokoraja yang berbeda sendiri. Saat makan, kuahnya diberi sambal kacang atau sambal tempe. Rasanya dijamin jadi lebih menggigit. Yang juga unik, tauto dari Pekalongan yang memperoleh namanya dari soto yang diberi tauco serta soto bandung yang kuahnya diberi lobak dan ditaburi kedelai goreng. Keduanya disantap dengan daging sapi.

Soto solo juga enak dan ringan disantap. Soto solo terbagi dalam dua versi, soto gading dan soto triwindu. Dibilang ringan karena kuah soto solo bening sekali seperti air tak berbumbu.

Soto berkuah bening biasanya disantap untuk sarapan. Sedang soto yang agak berat karena bersantan, lebih cocok untuk makan siang atau malam. Variannya lebih sedkit dari soto bening. Yang paling populer, soto betawi yang dibuat dari daging dan jerohan sapi, disajikan dengan potongan tomat, taburan daun bawang dan seledri, serta emping belinjo. Soto kediri yang dari ayam termasuk soto bersantan. Persis dengan soto banjar juga punya dua versi: bening dan bersantan.

Coto makassar.

Yang sulit diklasifikasikan adalah coto makassar, sebab kepekatan kuahnya bukan karena santan namun dari gerusan kacang tanah dan petis. Rasa kuahnya gurih. Coto berisi daging sapi atau jerohannya. Disantap bukan dengan sepiring nasi, tapi dengan ketupat atau buras. Kalau ingin makan coto seperti orang Makassar, peganglah ketupat di tangan kiri, lalu dicungkil sedikit demi sedikit memakai sendok. Sambil mengunyah ketupat, kita bisa menyendok kuah dan isinya, sehingga coto dan ketupat bercampur di dalam mulut. Unik, kan?

Well, mau soto, sroto, tauto atau coto yang penting satu jua: Indonesia. (ade/berbagai sumber)


Leave A Reply

Please Login to Leave a Reply