Berdoa di Kelenteng Poncowinatan Yogyakarta

Apa perbedaan kelenteng dengan vihara? Vihara hanya melayani uamt Buddha, sedangkan kelenteng selain meyalani umat Buddha, juga umat Kong Hu Chu dan Taoisme.

Nah, di Yogyakarta ada kelenteng yang sudah ditetapkan sebagai cagar budaya. Namanya Kelenteng Poncowinatan. Ini tergolong kelenteng tua. Berdiri sejak 1881. Pembangunannya atas bantuan Sultan Hamengkubuwono VII. Nama asli kelenteng ini Kelenteng Zhen Lin Gong atau Tjen Ling Kiong.

Sejarah klenteng ini dimulai tahun 1860-an. Kala itu kawasan di sebelah utara Tugu Jogja ini ditetapkan oleh Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai kawasan penduduk Tionghoa. Sri Sultan HB VII memberikan tanah seluas sekitar 6.224 meter persegi ini kemudian digunakan untuk mendirikan vihara atau klenteng.

lenteng Poncowinatan sendiri sudah ada sejak tahun 1881 yang lalu. Menurut sejarah, pada tahun 1907 orang Tionghoa telah memikirkan pendidikan. Mereka membangun sekolah modern Tionghoa pertama di Jogja bernama Tiong Hoa Hak Tong (THHT) yang menginduk pada Tiong Hoa Hwe Koan (THHK) di Batavia. Lokasi pembangunan sekolah ini tidak lain berada di area klenteng. Beberapa waktu setelah berdiri, sebagian kawasan klenteng dipinjamkan untuk keperluan Lembaga Pendidikan.

Dalam Bangunan Klenteng

Dalam perkembangannya, akhirnya area di sekitar klenteng dibagi menjadi tiga area, ruang ibadah, ruang pendidikan serta area olahraga dan kebudayaan. Area di sisi barat seluas 1.200 meter persegi digunakan untuk sekolah, di bagian tengah 2.000 persegi untuk rumah ibadah dan sisanya untuk area olahraga dan pendidikan.

Bentuk fisik bangunan dan ornamen di dalam bangunan sangat unik. Atap kelenteng berbentuk Ngang Shan, dan patung naga Liong yang saling berhadapan dengan bola api di tengahnya. Seluruh bangunan bernuansa merah dan emas, lambang bersemangat menuju hidup makmur sentosa dan kaya raya. Di dalam kelenteng terdapat 17 altar pemujaan. Altar utama berada di bangunan utama yaitu altar Dewa Kwan Kong (dewa perang). Bangunan di sebelah barat untuk altar pemujaan bagi umat Taoisme. Bangunan di sebelah timuruntuk altar pemujaan uamt Buddha. Bangunan di sebelah utara untuk umat Kong Hu Chu.

Pada saat perayaan Imle dan Cap Go Meh, kelenteng ini ramai dikunjungi umat Kong Hu Chu. Biasanya digelar bakti sosial pembagian sembako untuk fakir miskin, pertunjukan barongsai dan liong. Demikian juga saat hari besar umat Buddha seperti Waisak, Khatina, Asadha, dan Magha Puja. Pengunjung yang bersembahyang sampai ratusan orang. Di hari biasa kelenteng ini sangat lengang. Yang bersembahyang tak sampai sepuluh orang.

Tata Cara Ziarah

Pengunjung atau peziarah kelenteng diwajibkan melepas sandal atau sepatu, memberi hormat dan berdoa kepada Thian (Tuhan), berdoa ke altar tuan rumah yaitu Dewa kwan Kong. Kemudian menuju altar sesuai keyakinan dan kepercayaan masing-masing.

Di hari biasa kelenteng buka pukul 8 pagi hingga jam 5 sore, sedangkan pada hari raya buka 247 jam. Tersedia areal parkir yang luas. Juga tersedia perlengkapan sembahyang seperti lilin, uang kertas, dan hio dengan paket harga Rp 10-30 ribu.

Lokasi klenteng Poncowinatan mudah ditemukan karena berada di pusat kota Yogyakarta, tepatnya di utara Tugu. Dari bandara Adisucipto bisa ditempuh hanya dalam waktu 10 menit, melalui jalan Solo ke arah barat hingga Tugu, lalu ke utara masuk Pasar Kranggan. Klenteng ini berada di utara pasar.* (ade/berbagai sumber dan buku: Wisata Ziarah oleh Gagas Ulung, 2013)


Leave A Reply

Please Login to Leave a Reply