Berebutan Durian Jatuh di Wonosalam Jombang

 

Apa jadinya jika buah durian yang memiliki duri-duri tajam dilempar ke udara dan diperebutkan? Ribuan orang setiap tahun hadir untuk berebut durian di Wonosalam, Jombang. Selain terkenal dengan wisata alam dan arung jeram, desa ini juga dikenal sebagai salah satu penghasil buah durian terbaik.

Pada sebuah dini hari, puluhan orang telah berkumpul di lapangan desa Wonosalam, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Langit tampak pucat, rerumputan masih terlihat basah oleh sisa hujan semalam. Bagaimanapun jika hujan turun lagi festival tahun ini bisa sepi. Namun satu jam kemudian matahari mulai menampakkan senyumnya.

Beberapa pedagang keliling mulai sibuk menata tenda tempat berjualan. Kesibukan juga terjadi di kantor Kecamatan Wonosalam, sekitar 300 meter dari lapangan. Ratusan warga sedang menyiapkan gunungan Durian. Sebanyak sembilan gunungan durian akan diarak dari kantor kecamatan menuju lapangan. Sementara sebuah gunungan raksasa dari tumpukan buah durian berada ditengah lapangan. Konon jumlah durian yang ditata menyerupai gunungan tersebut berjumlah 2000 butir.  Gunungan tersebut dikelilingi pagar besi dan dijaga sejumlah petugas keamanan desa.

Sekitar pukul 09.30 WIB arak-arakan dimulai, ada sembilan desa di Kecamatan Wonosalam yang berpartisipasi mengarak hasil bumi dan durian. Durian-durian tersebut di tata menyerupai gunungan seperti di pesta-pesta rakyat.  Para pengarak menari-nari dan bernyanyi disepanjang jalan. Ada juga yang berhias menyerupai Suku Asmat di pedalaman Papua.

 

Seni Berebut Durian

Sesampai di lapangan, ribuan orang telah menunggu untuk memperebutkannya. Kurang dari setengah jam, sembilan gunungan durian tersebut ludes dikeroyok massa. Perhatian massa beralih ke gunungan durian raksasa setinggi lebih dari 15 meter menjulang di tengah lapangan. Awalnya pembagian durian tertib, namun tiba-tiba dorongan massa merubuhkan pagar besi pembatas. Mereka pun lantas berhamburan memanjat gunungan. Chaos tak terhindarkan.

Beberapa rombongan peserta ternyata sudah memiliki tim dengan tugas masing-masing. Ada yang bertugas memanjat gunungan, ada yang meraihnya di bawah dan ada juga yang bertugas mengumpulkannya. Namun ada juga peserta yang beranggotakan dua orang, satu memanjat dan yang dibawah karena posisi agak jauh terpaksa bertugas menangkap.

Sebagian ada yang telah melakukan persiapan dengan baik, membawa sarung tangan untuk menangkap durian. Tapi sebagian juga nekat dengan tangan kosong, mungkin ini untuk pertama kali peserta itu hadir di acara ini.

“Kaki saya terluka karena saya luput menangkapnya, sehingga durian meluncur menghantam jempol kaki saya,” kata Nurkholis menunjukkan dua jempol kakinya yang bercucuran darah. “Untung saya mengenakan helm, jadi tidak menghantam kepala saya,” tambahnya. Luka-luka minor di telapak tangan dan tubuh lazim terjadi pada sebagian peserta. “Ah sudah biasa mas, tahun lalu tangan saya juga berdarah, kali ini sudah pengalaman jadi ya bawa sarung tangan,” kata Suroso menimpali.

 

Penghasil Durian

Kenduren Wonosalam dimulai pada tahun 2012 lalu. Awalnya, ini adalah respon masyarakat Wonosalam yang sukses panen buah durian pada tahun tersebut, karena sebelumnya pada tahun 2011 hampir seluruh pohon durian di daerah tersebut gagal panen. Acara yang awalnya terjadi karena swadaya  masyarakat tersebut akhirnya berubah menjadi festival tahunan.

Desa Wonosalam yang berada 30 kilometer di Tenggara kota Jombang atau 70 kilometer Barat Daya dari Kota Surabaya memang sudah terkenal sejak lama sebagai penghasil durian kualitas unggul. Nama durian “Bido” sudah menjadi garansi durian dengan biji kecil namun berdaging tebal. Rasanya gabungan manis dan pahit, ini adalah rasa yang menurut penggemar durian paling pas. Pemerintah telah menetapkan durian jenis ini sebagai varietas unggul dengan menerbitkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No.340/Kpts/SR.120/5/2006.

Hampir setiap rumah di Wonosalam mempunyai pohon durian. Di sepanjang jalan, banyak penjaja durian yang menggantungkan dagangannya di gubuk-gubuk permanen. Ada juga yang hanya beratapkan langit menawarkan durian pada masyarakat yang melintas di jalanan desa tersebut. Ada juga pasar yang memang khusus menjual buah durian.

“Kulit durian Bido agak kehijauan, kalau membeli langsung di Wonosalam dijamin enak, karena matang di pohon,” kata seorang pedagang durian yang saya temui di Pasar Durian Wonosalam. Saya pun tak kuasa untuk mencoba durian Bido, “tolong pilihkan yang paling enak,” pinta saya pada pedagang tersebut. Dan ternyata benar adanya, durian Bido istimewa rasanya, legit manis bercampur pahit, daging buahnya lembut seperti margarin.

 

Ingin Menyaksikan Festival Durian? Datang Lebih Pagi!

 

Jika Anda ingin menyaksikan festival durian Wonosalam, datang sehari sebelum acara adalah pilihan yang bijak. Atau jika terpaksa, datang dini hari akan membuat Anda mudah menuju lokasi. Jalanan desa yang sempit, sering kali menghambat laju kendaraan karena ribuan orang dipastikan hadir setiap festival berlangsung. Apalagi jika warga sudah parker serampangan di sepanjang jalan.

“Tahun kemarin saya terjebak kemacetan, kita sebaiknya berangkat sehari sebelumnya”,  kata seorang pengunjung Luhur Wahyu. Fotografer yang juga staff humas Pemda Jombang ini berinisiatif membawa VW Combi kesayangan sehari sebelum acara berlangsung ke Wonosalam,” Bisa untuk kamar menginap darurat di sana,” katanya.

Ucapan Luhur Wahyu ternyata benar, ratusan kendaraan telah berjubel di jalanan sekira pukul 08.00 WIB. Karena sudah padat, petugas dari Dinas Perhubungan dan Polres Jombang menghentikan kendaraan 1 kilometer sebelum lokasi penyelenggaran festival. Kendaraan-kendaraan tersebut harus diparkir jauh dari lokasi, dan penumpangnya terpaksa berjalan kaki menuju lokasi acara.

Namun jika Anda datang ke Wonosalam, sebaiknya tidak hanya sehari. Anda bisa mengunjungi beberapa objek wisata lainnya selain hanya menyaksikan festival durian. Udara pegunungan yang sejuk, berbagai paket wisata alam dan adventur, serta villa-villa dengan harga sewa terjangkau cocok untuk liburan bersama keluarga atau bersama pasangan.

 

Menuju Wonosalam

Jika Anda ingin menikmati durian atau sekedar ingin melihat keriuhan festival durian, datanglah pada awal tahun sekitar bulan Februari – Mei. Jadwal festival durian menyesuaikan dengan kelender panen raya durian. Sebaiknya update informasi dengan mengunjungi website www.wonosalam.com atau rajin-rajin lah berkunjung ke fan-page Pariwisata Wonosalam di Facebook (klik disini).

Rute Menuju Lokasi:

Dari Surabaya:

Jika menggunakan kendaraan pribadi dari Surabaya setelah melewati Trowulan – Mojokerto dan menemui  Terminal Mojoagung berbelok ke kiri sampai ketemu Pasar Mojoduwur. Dari sana lurus hingga menjumpai pertigaan Pengaron,  lurus ke Wonosalam.

Dari Nganjuk/Yogyakarta

Dari Nganjuk lurus ke arah Surabaya, setelah melewati Kota Jombang anda akan menjumpai Terminal Mojoagung berbelok ke kanan sampai ketemu Pasar Mojoduwur. Dari sana lurus hingga menjumpai pertigaan Pengaron,  lurus ke Wonosalam.

Untuk meminta panduan ke lokasi, memesan villa, informasi paket wisata dan adventur atau jadwal Festival Durian Wonosalam, Anda bisa menghubungi lebih lanjut ke : 0321 7287825 (www.wonosalam.com)


Leave A Reply

Please Login to Leave a Reply