Bertemu Boneka Si Unyil Asli di Museum Wayang

Anda yang pernah merasakan masa muda tahun 1980-an pasti tahu serial boneka Si Unyil yang tayang di TVRI. Dari catatan di dunia maya, serialnya tayang 5 April 1981 sampai berakhir tahun 1993. Jika anak-anak generasi sekarang menyukai serial Upin & Ipin bikinan Malaysia, generasi 1980-an lebih beruntung karena disuguhi tontonan menghibur dan edukatif bikinan anak negeri sendiri, ya Si Unyil itu.

Walau bagi generasi sekarang Si Unyil muncul lagi lewat serial edukasi-dokumenter Laptop Si Unyil, serial aslinya yang tayang di TVRI
dahulu tak bisa dilupakan. Si Unyil telah menjadi salah satu bagian tak terpisahkan dari budaya populer di Indonesia, dan banyak orang tidak dapat melupakan berbagai unsur seri ini, mulai dari lagu temanya yang dimulai dengan kata-kata "Hom-pim-pah alaiyum gambreng!" sampai tokoh-tokoh seperti Pak Raden dan Pak Ogah dan kalimat seperti "Cepek dulu dong!"

Bagi yang ingin bernostalgia dengan Si Unyil versi 1980-an bisa menonton video lawasnya di Youtube. Namun, bagaimana bila ingin melihat boneka Si Unyil, kawan-kawannya serta penduduk Sukamaju (desa Si Unyil--red) lainnya? Tahukah Anda di mana bisa bertemu mereka?

Ternyata, Unyil dan yang lainnya masih di Jakarta. Mereka tersimpan rapi di Museum Wayang di kawasan Kota, tepatnya di Jalan Pintu Besar Utara 27.

Koleksi Museum Wayang

Untuk masuk ke museum ini tiketnya murah, hanya Rp 5.000. Di sana kita bisa mebikmati museum yang menyimpan koleksi wayang dari berbagai penjuru daerah di Nusantara. Juga koleksi wayang dari mancanegara seperti Malaysia, Thailand, Suriname, China, Vietnam, Prancis, India, hingga Kamboja, meski sebagian besar lebih pas disebut boneka karena bentuknya seperti boneka yang bisa digerak-gerakkan. Ada yang memakai tali, juga ada yang memakai tongkat, atau kombinasi tali dan tongkat untuk menggerakkan tubuh wayang.

Koleksi wayang di museum ini jumlahnya ribuan, lebih dari 5 ribu buah, dan diperoleh dari pembelian, hibah, sumbangan dan ada pula yang dititipkan. Tidak semuanya dipajang, dan hanya beberapa yang dipamerkan di etalase kaca.

Koleksi wayang di museum ini berupa wayang kulit, wayang golek, patung wayang, topeng wayang, wayang beber (seperti layar), atau wayang kaca (dilukis di kaca). Selain wayang, juga disimpan koleksi seperangkat gamelan dan lukisan wayang bermacam bentuk.

Tidak sekadar melihat-lihat koleksi wayang, pengunjung juga diajak mengenal karakter dan cerita wayang lewat pagelaran wayang dengan lakon singkat pada pukul 10.00-14.00 setiap hari Minggu kedua (wayang golek) dan minggu keempat (wayang kulit).

Kembali ke boneka si Unyil, petugas di museum itu mengatakan pada Intisari (Mei 2007) boneka-boneka dari serial itu statusnya dihibahkan. "Semua boneka ini asli," kata petugas bernama Katimo itu.

Boneka-boneka itu masih terawat dan membangkitkan kenangan masa 1980-an. Boneka-boneka Unyil dkk ternyata bukan terbuat dari kayu atau akrilik yang bahannya lebih awet, melainkan dari bubur kertas koran.

Puas menikmati koleksi wayang dan boneka, kita bisa membeli cinderamata untuk kenang-kenangan. Ada tokoh wayang kulit, Rama dan Sinta, atau tokoh lain. Harganya bervariasi dari Rp 100.000 hingga Rp 1 jutaan. (ade)


Leave A Reply

Please Login to Leave a Reply