Bertemu Hantu di Istana Raja Gula Oei Tiong Ham

Bila menyebut istana, kita akan menghubungkannya dengan kediaman raja.

Yang disebut istana di sini bukanlah rumah raja penguasa sebuah negeri. Melainkan pengusaha besar yang lantaran usahanya di bidang yang ia tekuni demikian besarnya, ia dijuluki raja. Namanya Oei Tiong Ham. Ia dijuluki Raja Gula karena lewat pabrik gula dan usaha lainnya di bawah bendera Oei Tiong Ham Concern, ia jadi orang terkaya se-Asia Tenggara pada awal abad ke-20. Nah, kediamannya yang sangat megah di Semarang, Jawa Tengah bak istana.

Rumah itu terletak di daerah Gergaji, gerbang masuk menuju dataran tinggi Candi, di Semarang. Di malam hari “istana” tua itu tampak menyerupai seonggok raksasa hitam yang tengah berdiam dalam keheningan malam. Bohlam temaram dengan cahaya pucat kekuningan menjadikan gedung kuno berdinding kukuh ini kelihatan muram menyeramkan. Halaman depannya sangat luas, hingga rumah besar itu tampak jauh dari jalanan.

Cerita mistis yang akan kami ceritakan tentang rumah itu sebetulnya sudah lama terjadi. Cerita ini milik seorang penjelajah asal Lombok yang pada tahun 1990-an mendapat kesempatan langka menginap di rumah itu. Saat ia mengisahkan ceritanya di majalah Intisari edisi Juni 1992, gedung kuno itu difungsikan sebagai Balai Prajurit. Menurut sejarahnya, pada masa Orde Lama, tahun 1961, semua kekayaan Oei Tiong Ham disita pemerintah. Termasuk rumahnya di Semarang.

Pilar-pilar sebesar pelukan dua orang menyangga teras depan. “Istana” tua itu berdiri megah di bagian tengah areal. Langit-langitnya tinggi dan semua pintunya besar-besar. Di sayap kiri dan kanan terdapat bangunan pavilion kembar, masing-masing sma bentuk dan besarnya. Antara rumah besar dan pavilion dihubungkan dengan selasar. Semua bangunan itu lantainya lebih tinggi dari permukaan tanah. Kira-kira 1,5 meter.

Ruang-ruang dalam rumah utama ukurannya besar-besar. Lantainya terbuat dari marmer asli yang besarnya kurang lebih satu meter. Teras depan membentang luas membatasi ruang depan yang dulunya, konon, dijadikan ruang persembahyangan oleh pemiliknya. Begitu malam jatuh, ruang ini terasa wingit. Lengang dan mencekam.

Di bagian belakang rumah utama terdapat ruangan besar. Ruang Bola namanya. Konon, dulunya ruang ini merupakan ruang khusus buat menjamu tamu dan berdansa ria.

Kejadian Ruang Angker

Si penjelajah kita berkisah, ia mendengar cerita-cerita mistis dari seorang mayor tentara yang dipanggilnya Mayor Anto. Sang mayor bilang, piano yang terletak di bekas ruang persembahyangan sering berbunyi sendiri di tengah malam buta. Seperti ada jari-jemari yang dengan sengaja memainkannya. Tapi, begitu diamati dan didekati, suara itu langsung menghilang.

Salah seorang penghuni mengatakan pernah melihat sosok orang hitam tinggi besar. Begitu diamati untuk dikenali, orang itu sudah menghilang dari pandangan. Sang Mayor sendiri, katanya, juga pernah melihat seorang wanita cantik. Perawakan wanita itu langsing dan kulitnya putih bersih. Persis wanita Tionghoa.

Kali lain, seorang prajurit yang akan berangkat ke Papua dan kebetulan menginap di balai itu juga melihat keanehan yang mengerikan: sesosok tubuh tak berkepala!

Si penjelajah kita dan adiknya lalu melakukan uji nyali. Berbekal bunga tabur dan sedikit kemenyan keduanya duduk saling membelakangi di ruang persembahayangan yang katanya paling angker tepat tengah malam. Ruangan gelap gulita. Lama juga mereka menunggu kejadian gaib. Hingga ia merasa sekonyong-konyong terangkat dari lantai perlahan-lahan. Ia merasa tak bisa mengendalikan diri. Tubuhnya berayun-ayun, bergoyang ke kanan, kiri, depan dan belakang.

Di antara sadar dan tidak, ia melihat cahaya mengarah padanya. Cahaya itu kemudian masuk ke tubuhnya. Saat itu juga, ia merasa telah berada di lantai atas dan seperti ada yang memerintahkannya untuk terjun. Ia berusaha kuat menolak perintah tersebut. Ia lalu merasa ada sesuatu mendorong tubuhnya. Anehnya, alih-alih terjatuh seketika, ia melayang dan mendarat tanpa merasa sakit.

Ia bangkit tapi tak menemukan lantai ruangan semula. Ia berada di tempat lain. Di tempat itu ada sungai di mana-mana. Banyak sekali wanita mandi di sungai itu sambil tertawa-tawa. Ia berputar –putar mencari jalan.

Ketika tengah kebingungan itulah mendadak ada sebuah buku besar bertuliskan Arab terbentang di hadapannya. Ia tak ingat apa yang tertulis di situ. Yang ia ingat Cuma huruf “mim” dan “nun” saja. Karena ingin keluar dari tempat itu ia beranikan diri melompat. Namun gagal. Di saat itulah ia tersadar. Petualangan gaibnya berakhir.

Hantu “Satpam”

Cerita lain dituturkan seorang wanita bernama Naning Sutanto, istri seorang apoteker yang di awal 1990-an itu, sebagaimana dikutip Intisari, menghuni paviliun sayap kanan rumah Oei Tiong Ham sejak 1984. Ia berkisah, konon, bila ada yang menginap di rumah itu seringkali orasng tersebut ketika sadar sudah ada di halaman luar.

Ia juga mengatakan di rumah itu ada “satpam”-nya. Satpam yang dimaksud satpam makhluk halus. “Tubuhnya tinggi besar seperti orang India,” demikian kesaksian Naning yang melihat sosok itu.

Tidak hanya melihat, ia juga berkomunikasi dengan makhluk halus itu. Pak “Satpam” bertanya padanya, di mana barang miliknya. Naning tak tahu barang apa yang dimaksud dan bilang ia hanya bawa barang miliknya. Ia berkisah, ketika ada seorang pegawai beli barang lelangan dari rumah itu, si pegawai didatangi Pak “Satpam” minta barangnya dikembalikan.

“Yang hebat, sekali diangkat menjadi ‘satpam’, meskpun majikannya sudah lama tidak ada, ia patuh menjalakan tugasnya,” kata Naning. Betul juga. Nah, kamu berminat menginap di rumah megah itu bila bertandang ke Semarang?** (ade)


Leave A Reply

Please Login to Leave a Reply