Biku Seminyak dimana nuansa rumah Joglo Berada



Enam setengah tahun yang lalu, Asri Kerthyasa, seorang Ibu dari tiga putra-putri ini memutuskan untuk memulai bisnis kuliner yang diberi nama Biku. Berasal dari kata “Biksu” pendeta pria dalam agama Budha. Ide awalnya adalah membuat sebuah pojokan nyaman untuk acara minum teh di siang hari. Suatu hal yang biasa di lakukan di negara-negara Barat. Setelah tiga puluh tahun tinggal di Bali, beliau makin menyadari bahwa, turis mancanegara datang ke sini, bukan untuk menikmati sesuatu yang ada di negara asalnya. Bukan pula mencari suasana mirip rumah. Melainkan suasana khas lokal lah yang mereka cari. Dari situlah Biku berkembang, yang tadinya hanya berawal dari ide sebuah tempat menikmati teh, meluas menjadi restaurant.

Jln. Petitenget No. 888, Biku berlokasi. “Eat, Drink, Read, Lounge”, jargon yang diusung Biku. Dibangun di atas tanah seluas 15 x 13 m2, Biku memiliki acara regular klub pembaca buku setiap Kamis kedua di setiap bulannya. Hal-hal menarik selalu dapat dijumpai di setiap pertemuannya. Belum lagi acara musik Keroncong yang selalu ditampilkan setiap hari Minggu. Membuat pendatang menjadi konsumen dan konsumen menjadi pelanggan. Dua hal yang Asri percaya dapat membuat keberhasilan suatu bisnis adalah keikutsertaan pemilik dalam pengelolaan sehari-hari, ikut langsung terjun kelapangan, membuat Asri mengenal kepribadian tamu-tamunya lebih dekat. Konsistensi, itu adalah hal lain yang Asri terus terapkan, tidak perduli kali ke berapa tamunya datang, mereka akan mendapatkan kualitas terbaik yang sama seperti ketika pertamakali mereka mengecap rasa menu-menu yang ditawarkan Biku. “Saya sudah berumur, saya tidak berusaha membuat sebuah Kerajaan, perusahaan besar, saya hanya ingin memberikan yang terbaik dan mendapatkan kepuasan ketika melakukannya” ujar Asri dengan senyum hangat yang manisnya, ketika kami berbincang di suatu kesempatan.

Sambil berbincang, Asri menyuguhkan seiris kue wortel kebanggaannya. Ya, selain makanan utama yang Biku suguhkan, Asri sangat memfavoritkan kue dengan resep warisan dari ibunya ini. Rasa lembut wortel yang ketika dipadu dengan topping di bagian atasnya ini jadi terasa manis dan membuat ketagihan. “Ketika saya pertamakali melihat tempat ini, tempat ini sangat suram, gelap”. Lokasi Biku dulu adalah sebuah Galeri Seni yang bertema rumah Joglo, tetapi tanpa kehangatan. Asri tetap mempertahankan bentuk asli nya. Membuat suasana yang khas Indonesia, dia berkata.

Kisaran harga Biku adalah Rp 35.000 – Rp 150.000,- saja. Relatif terjangkau untuk area Petitenget. Apalagi dengan keramahan dari pegawainya. Bukan sedikit, sekitar 85 orang pegawai bekerja untuknya. Siap melayani mulai pukul 08 pagi hingga 11 malam WITA. Tamu juga bisa melihat-lihat produk Threads of Life disini. Selain beberapa merk lainnya yang ikut menaruh barang, ada pula koleksi-koleksi set teh yang dapat dibeli di pojokan dekat kasir berada. Jadi jangan ragu untuk mampir kesini. Sebaiknya pemesanan meja dilakukan sebelum datang, agar tidak kecewa akan ketidak tersediannya tempat. (Ollie)

Leave a Comment