Blora Identik dengan Samin selain Tokoh Pramoedya Ananta Tour

Sebagai orang yang lahir dan tumbuh kembang sampai SMU di Blora, selalu punya kebanggan tersendiri dengan adanya Pramudya Ananta Tour sebagai salah satu penulis Indonesia yang mendunia dan juga salah satu  Nobel perdamain dunia.

Apabila dikatakan Samin jaman SMU dulu selalu merasa tersinggung, karena identik dengan ngeyelan, dan sarkasem, semakin ke tumbuh dewasa baru menyadari bawa budaya Samin merupakan kebanggan yang harus kita lestarikan terutama saya yang asli orang Blora, dan kemungkinan besar nenek buyut saya adalah salah satu pengikut budaya Samin.

Samin sebetulnya telah menarik perhatian publik sejak lama, bahkan sejak masa penjajahan. Pemerintah kolonial Belanda menganggap Samin sebagai pemberontak. Ironisnya, meski ikut berjuang, pemerintan RI juga memposisikan Samin sebagai yang dimarjinalkan. "Sekitar tahun 1914-1970-an, Samin masih dianggap sebagai komunitas yang harus diawasi. Pemkab Blora sendiri baru agak sedikit terbuka dengan keberadaan sedulur-sedulur sikep itu pada 1980-an, jika Samin menjadi polemik, karena banyak pihak yang merasa berkepentingan. Ada lima kelompok yang memiliki kepentingan terhadap Samin. Yaitu keturunannya, murid atau pengikutnya, akademisi, penguasa (pemerintah/birokrasi) serta LSM."Kelima kelompok ini memiliki persepsi yang berbeda tentang Samin.

Tetapi, awalnya, Samin disebut sebagai komunitas tradisional dengan ciri-ciri tertentu. Sementara pada awal-awal, pemerintah juga menganggap Samin sebagai pembangkang dan orang bodoh. Berbagai stigma negatif atas Samin atau sedulur sikep itu, menjadi keprihatinan tersendiri. "Nilai- nilai, etika dan kejujuran yang dikembangkan Samin, sangat bagus. Tidak ada kasus kriminalitas di Samin, tidak ada perselingkuhan, bahkan, Samin itu monogami". Lain dari perdebatan yang muncul, Samin kini menyita perhatian banyak orang, bahkan pemerintah, seiring adanya pembangunan di komunitas Samin di Dukuh Karangpace, Desa Klopoduwur, Kecamatan Banjarejo, Blora.

Samin Traveller merasa senang karena akhirnya Samin / Sikep telah menjadi salah satu ikon pariwisata baru, tak hanya Blora tetapi juga untuk Indonesia.

Sedulur Sikep atau lebih dikenal sebagai Wong Samin diketahui bermula dari Desa Klopoduwur, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora. Desa ini terletak kurang lebih 25 kilometer di sebelah utara Randublatung. Sebuah perkampungan yang terletak di tengah hutan jati.  Ajaran samin atau sedulur sikep selalu mengajarkan tentang sikap kesederhanaan, selalu menghargai hak orang lain. Penganut komunitas Samin punya sikap aja drengkisreitukar padudahpen kemerenAja kutil jumputbedhog-colong.

Artinya, orang samin tidak boleh dengki, jangan suka bertengkar, jangan iri. Jangan suka mengambil milik orang lain, tanpa izin pemiliknya. Samin juga memiliki konsep kehidupan yang nerimalaku nisthaora milik drajadpangkat, lan kadonyan (menerima, rendah hati, tidak ingin derajad, pangkat, dan keduniawian).

Komunitas Samin memiliki Etos kerja terkenal sangat tinggi. Biasanya mereka akan berangkat ke Ladang, sawah maupun hutan pada pagi buta dan baru kembali saat senja menjelang. Di siang hari, suasana senyap akan meliputi pemukiman mereka karena masing-masing masih sibuk bekerja. Bagi mereka siang merupakan waktu untuk berkarya sebaik-baiknya.

Pandangan masyarakat Samin terhadap lingkungan juga sangat positif. Biasanya mereka memanfaatkan alam (misalnya mengambil kayu) secukupnya saja dan tidak pernah mengeksploitasi bahkan sering melakukan ritual-ritual khusus untuk kelestarian alam. Hal ini selaras dengan pola pikiran mereka yang cukup sederhana, tidak berlebihan dan apa adanya. Tanah bagi mereka ibarat ibu sendiri, artinya tanah memberi penghidupan kepada mereka.

Karena sesungguhnya komunitas Samin atau Sedulur Sikep memiliki konsistensi yang dipegang teguh dalam ageman, ajaran atau pakaian wong samin merupakan bagian dari kearifan lokal (local wisdom).

Komunitas Samin menjaga kearifan lokal yang mengedepankan saling menghargai manusia dan bersahabat dengan alam itulah yang membuat komunitas Samin selalu tentram, jauh dari konflik seperti yang banyak terjadi di berbagai tempat. (al) (ec)


Leave A Reply

Please Login to Leave a Reply