Calonarang, Tarian Mistis Yang Bikin Merinding

Tari Calonarang merupakan salah satu tarian mistis yang sudah tidak asing bagi masyarakat Bali. Dramatari ritual magis ini, melakonkan kisah-kisah yang berkaitan dengan ilmu sihir, ilmu hitam maupun ilmu putih, dikenal dengan Pangiwa / Pangleyakan dan Panengen.

Lakon-lakon yang ditampilkan pada umumnya berakar dari cerita Calonarang, sebuah cerita semi sejarah dari zaman pemerintahan raja Airlangga di Kahuripan (Jawa timur) pada abad ke IX.

Cerita lain yang juga sering ditampilkan dalam drama tari ini adalah ceritaBasur, sebuah cerita rakyat yang amat populer dikalangan masyarakat Bali.

sumber: phdi.or.id


sumber: missmaple.wordpress

(baca juga: Mengenal Tari Seblang Yang Unik dan Penuh Mistis )

Karena pada beberapa bagian dari pertunjukannya menampilkan adegan adu kekuatan dan kekebalan (memperagakan adegan kematian bangke-bangkean, menusuk rangda dengan senjata tajam secara bebas) maka Calonarang sering dianggap sebagai pertunjukan adu kekebalan (batin).

Pertunjukan ini biasanya dilakukan malam hari hingga usai tengah malam. Namun ada juga yang menyelenggarakan siang hari.

Bangke Matah Yang Mengerikan

Dalam beberapa versi tarian, pada pementasan Arja calonarang ada yang menampilkan adegan pemayatan yang di Bali dikenal dengan istilah Bangke Matah.

Bangke matah merupakan manusia hidup namun seolah-olah diupacari layaknya orang meninggal, dan menjadi dasar pengundangan kekuatan leak semakin menjadi identitas dalam pertunjukan calonarang.

Bangke Matah menceritakan tentang wabah yang melanda rakyat Kediri yang membuat banyak dari mereka meninggal dunia. Adegan pemayatan ini dilakukan di Pura Dalem. 

sumber: jpnn

Penglingsir Puri Padang Aji memperingatkan penonton agar tidak ikut mendampingi mayat itu ke kuburan (setra) yang jaraknya sekitar 2,5 kilometer. Upacara selesai, mayat itu pun diusung yang diikuti ratusan anggota Sandhi Murti dari belakang. 

(baca juga: Makna Sebenarnya Lagu Lingsir Wengi, Bukan Pemanggil Kuntilanak )

Upacara selanjutnya dimulai. Pada saat inilah kembali penonton heboh karena melihat api, ada pula yang melihat kain putih membentang. Tidak sampai 15 menit, kedua mayat tadi benar-benar hidup kembali.

Menurut Pinisepuh Perguruan Sandhi Murti Indonesia, Drs. I Gusti Ngurah Harta, menyebut bola api yang muncul itu merupakan salah satu wujud leak yang hadir meramaikan pertunjukan. Hanya, leak-leak tadi pengecut tidak berani sampai datang ke arena pertunjukan untuk menunjukkan kesaktiannya.

sumber: thebalitravels

Mengambil cerita di atas, adegan pemayatan ini memiliki fungsi sebagai penetralisir magic disekitar tempat acara pementasan. Oleh sebab itulah, maka pada saat acara pementasan arja calonarang dilengkapi adegan ‘Ngundang’ dari magic untuk membuat para penekun ilmu hitam agar mau mencoba kemampuannya untuk menggangu acara pementasan.

Filosofi di Balik Pementasan Calonarang

Walaupun tari Calonarang kerap dianggap hiburan oleh pengunjung, namun di dalamnya memiliki tiga fungsi yang harus diketahui, yaitu:

1. Sebagai ajang pelestarian seni dari warisan budaya dan leluhur
2. Sebagai penetralisir dari kekuatan ilmu hitam atau magic di sekitar tempat pementasan
3. Sebagai ajang untuk memperlihatkan kekuatan dari Dewata untuk meyakinkan umat terhadap ajaran yang dimiliki agama Hindhu. (dz)

Related post:

1. Puri dan Pantai Petitenget, Sejarahnya Cukup Menyeramkan

2. Mekare-kare, Persembahan Darah Untuk Sang Dewa Perang

3. Falsafah Hidup Kura-kura Dan Serigala di Candi Jajaghu Malang


Leave A Reply

Please Login to Leave a Reply