Cerita Mistis Cafe Batavia di Kawasan Kota Tua Jakarta

Yang pernah mengunjungi kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, tempat Museum Sejarah Jakarta atau Museum Fatahillah berada, pasti tahu kafe ini: Cafe Batavia. Museum itu persis terletak di depan kafe. Alun-alun depan museum selalu ramai oleh orang-orang yang bertamasya, menikmati kawasan tua Jakarta dengan foto-foto maupun menyewa sepeda hias.

Di bukunya, Batavia 1740: Menyisir Jejak Betawi (2010), Windoro Adi menggambarkan suasana dalam kafe dengan detil. Ia menulis, menapak anak tangga ke lantai dua Cafe Batavia, kita serasa dibawa ke awal abad ke-19. Di kafe itu kita disuguhi puluhan foto jadoel. Foto-foto itu dipajang di depan tembok berwarna krem putih pucat. Sebagian cahaya lampu Kristal lama yang tak begitu terang jatuh ke permukaan kaca bingkai foto.

Perabotan, vas, bar beserta perangkatnya, lampu-lampu tembok dan plafon yang digantung kain terawangan warna putih, semuanya ingin membangun kenangan masa kolonial Belanda di Batavia, nama Jakarta tempo doeloe.

Menu Barat dan Lokal

Café Batavia yang terletak di Jalan Pintu Besar Utara, Jakarta Barat, adalah bangunan tua yang dibangun tahun 1837, tujuh tahun setelah gedung Balaikota Pemerintahan Hindia Belanda (kini Museum Sejarah Jakarta) di seberangnya dibangun.

Dulu, bangunan itu pernah menjadi kantor pemerintah kolonial Belanda sebelum dibeli seorang saudagar Arab. Tahun 1990, seorang Prancis, Paul Hassan membelinya. Ia menjadikan gedung itu galeri lukisan. “Februari 1991, bangunan ini saya beli,” kata Eka Chandra pada Windoro Adi. Eka lalu mengubah gedung tua tersebut jadi kafe.

Kafenya memiliki 60 meja dengan kapasitas 250 kursi. Mayoritas pengunjung kafe adalah wisatawan asing. Mungkin itu sebabnya menu andalan kafe ini akrab bagi orang asing, seperti daging sapi khas Australia dengan lelehan keju cheddar (Australian beef tenderloin medallion topped with melted cheddar) atau sapi muda dari Belanda.

Menu lain yang juga jadi andalan yaitu, avokad salad roti saus paprika (avocado dome, Tuscan bread, red capcisum coulis), udang lobster keju parmesan dibakar dengan api di atas (lobster thermidor), serta iga domba panggang dari Selandia Baru dengan sayur dan kentang pesto (rack of tender New Zealand baby lamb with crusted vegetables, pesto potatoes).

Kendati begitu, bukan berarti lidah lokal tak dimanja kafe ini. Selain yang serba kebarat-baratan, tersaji pula bebek peking, ayam cabai kering, sapo tahu, atau sup udang galah.

Perempuan Misterius di Kafe

Saat merenovasi kafe pada 1992, Eka sempat kaget. Ternyata ada sebuah lorong penjara bawah tanah yang menghubungkan bangunan miliknya dengan Museum Sejarah Jakarta.

“Ketika kami hendak menutup lorong tersebut, kami menemukan tumpukan tulang di lorong penjara,” katanya. Dahulu, selain sebagai kantor pemerintahan, gedung Balaikota juga difungsikan jadi ruang pengadilan dan penjara. Di alun-alun depan gedung kerap pula dilaksanakan hukuman gantung bagi terpidana mati dan dijadikan tontonan masyarakat masa itu.

Cafe Batavia sendiri punya cerita mistis. Eka berkisah, sejumlah wisatawan asing, terutama dari Belanda, Australia dan Jepang, punya pengalaman misterius saat mengunjungi kafenya.

“Mereka melihat sosok perempuan pribumi. Perempuan itu berbusana merah, seorang nyai, istri simpanan pejabat Belanda dulu," ungkap Eka. Uniknya, pengalaman mistik ini tak membuat pengunjung kafenya berkurang. Justru sebaliknya. Tamu kian banyak karena ingin mengalami pengalaman mistik serupa.

Kamu tertarik melihat hantu di Cafe Batavia?** (ade/sumber: buku “Batavia 1740: Menyisir Jejak Betawi”)


Leave A Reply

Please Login to Leave a Reply