Festival Bau nyale , tradisi “menangkap” Putri Mandalika di Lombok



Kemeriahan festival Bau Nyale (Foto dari yukpiknik.com)

 

Siapa yang tidak tahu Pulau Lombok, setelah mendapat penghargaan sebagai World’s Best Halal Tourism Destination dan World’s Best Halal Honeymoon Destination, popularitasnya sebagai salah satu destinasi wisata di indonesia kini semakin meningkat. Pesona alamnya yang indah dan masih belum banyak terjamah menjadi daya tarik sendiri bagi para wisatawan yang berkunjung. Jika anda ingin berkunjung ke Lombok dalam waktu dekat ini, jangan pernah lewatkan festival Bau Nyale.

Apa itu Bau Nyale? Bau Nyale adalah tradisi menangkap cacing yang dianggap sebagai jelmaan Putri Mandalika yang hanya muncul setahun sekali dipantai yang dilakukan oleh masyarakat suku Sasak yang kemudian diselenggarakan sebagai festival dari tahun ke tahun. Festival ini biasanya diadakan sekitar bulan februari dan maret dimana kemunculan cacing yang disebut Nyale ini hanya terjadi pada bulan bulan tersebut.

Peristiwa Bau Nyale ini sendiri dianggap sebagai peristiwa yang sakral bagi masyarakat suku sasak, suku asli penduduk pulau Lombok. Konon pada zaman dahulu, Raja Tonjang Beru dan Dewi Seranting memiliki anak perempuan yang rupawan bernama Putri Mandalika. Karena kebijaksanaannya dalam memerintah pada masa kerajaan, rakyatnya pun sangat mencintainya. Putri Mandalika pun hidup dalam suasana kerajaan yang dihormati hingga dia menginjak dewasa dan tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik dan rupawan. Kecantikan Putri Mandalika membuat pangeran- pangeran dari berbagai Kerajaan di Lombok pada masa itu berniat untuk mempersuntingnya.

Hal itu ternyata membuat sang Putri menjadi risau, karena jika dia hanya memilih satu di antara mereka maka perang dan perpecahan akan terjadi. Setelah merenung, akhirnya Putri Mandalika memutuskan untuk mengumpulkan seluruh pangeran beserta rakyatnya di Pantai Kuta Lombok pada tanggal 20 bulan ke 10 menurut perhitungan bulan Sasak diwaktu sebelum Subuh. Kemudian seluruh pangeran beserta rakyatnya tepat pada tanggal tersebut mereka berduyun-duyun menuju lokasi berkumpul. Setelah semua berkumpul, akhirnya Putri Mandalika muncul dikawal dnegan prajurit prajuritnya. Kemudian dia berhenti dan berdiri di sebuah batu dipinggir pantai.

Setelah mengatakan niatnya untuk menerima seluruh pangeran dan rakyat akhirnya Putri Mandalika pun loncat ke dalam laut. Seluruh orang yang ada disitu berusaha mencari Putri Mandalika namun hasilnya nihil. Tak lama kemudian datanglah sekumpulan cacing berwarna-warni yang menurut masyarakat dipercaya sebagai jelmaan Putri Mandalika. Disitulah asal usul legenda dan perayaan festival Bau Nyale ini.

 

Patung Putri Mandalika (Foto dari yukpiknik.com)

 

Untuk tanggal pelaksanaan acara ini, biasanya pemerintah dengan kepala adat setempat akan berunding dan menyepakati tanggal berdasarkan perhitungan kalender sasak . Festival Bau Nyale ini sendiri biasanya berlangsung selama 2 hingga 4 hari dan berpusat di Pantai Seger , Kuta Lombok Tengah. Namun tidak hanya diselenggarakan di Pantai Seger, beberapa pantai seperti pantai selong belanak dan pantai pantai di daerah Lombok timur juga mengadakan acara Bau Nyale ini.

Tidak hanya menangkap cacing, pertunjukan musik, lomba balap kuda, dan peresean turut memeriahkan rangkaian acara selama festival ini berlangsung. Pertunjukan drama mengenai Putri Mandalika juga akan dipentaskan sebagai puncak acara dari festival ini dan akan diakhiri dengan nyebur bersama ke laut untuk menangkap cacing atau nyale. Masyarakat sasak meyakini bahwa Nyale ini akan mendatangkan keberuntungan dan kesehatan bagi mereka dengan. Mereka juga biasanya mengadakan hajatan beserta tahlilan pada saat Bau Nyale  dan mengundang sanak saudara dan kerabat mereka.

Menarik sekali bukan festival Bau Nyale ini? Ayo jangan ragu lagi untuk berwisata ke Lombok.

Leave a Comment