Hela Nafas Kerajinan Tikar Mendong di Malang



Kerajinan tikar mendong merupakan kriya khas Kabupaten Malang. Terletak di Desa Blayu, Kecamatan Wajak kerajinan ini berada. Dulu, desa ini adalah sentra pengrajin tikar mendong. Namun kini hanya tersisa dua orang pengrajin saja.

Salah satunya adalah Sugianto (70), pengrajin asli Malang ini sudah menekuni kerajinan tikar mendong sejak tahun 1980. Tangan dan kakinya masih lincah mengayuh pedal alat tenun tradisional miliknya. Matanya pun masih awas melihat setiap helai batang mendong yang membujur di alat tenun.

Pada tahun 1980, banyak pengrajin yang memproduksi tikar mendong di Desa Blayu. Dikatakan oleh Sugianto, kala itu jumlah pengrajin di Desa Blayu tak kurang dari 50 orang.

 "Namun saat ini yang tersisa hanya tinggal dua orang saja, termasuk saya," katanya saat ditemui oleh tim ulinulin.com di kediaman pribadinya, Senin (16/5/2016) Siang.

Menurutnya, tikar mendong dipasaran kalah bersaing dengan tikar berbahan plastik dan karpet. Sehingga permintaan tikar mendong mulai menurun dan itulah yang menjadi penyebab banyak yang gulung tikar.

Bagi pria kelahiran tahun 1946 ini tikar mendong tak hanya sekadar alas semata, lebih dari itu. menurutnya kerajinan ini adalah identitas Kabupaten Malang,"Tikar mendong merupakan salah satu produk budaya, dimana pada zaman dahulu digunakan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari," tuturnya.

Ditemui di tempat yang berbeda, Ida Lutfia (28), tampak sibuk merajut mendong di sebuah rumah kecil berdinding bambu. Diceritakan oleh Sugianto, perempuan yang biasa dipanggil Ida itu adalah pengrajin tikar mendong yang tersisa setelah dirinya. Ida belajar membuat tikar secara otodidak.


Mendong adalah tanaman sejenis rumput semu atau alang-alang dengan panjang rata-rata mencapai 100 centimeter. Tanaman ini sepintas hampir mirip seperti batang padi. Habitatnya di rawa, atau daerah yang berlumpur dan memiliki air yang cukup.

Ditilik dari Wikipedia, tumbuhan ini batangnya dipakai untuk membuat anyaman yang berkualitas baik, lebih baik dari anyaman wlingi. Sebab itu, pada masa lalu tanaman mendong banyak dibudidayakan di sawah-sawah atau bendang terutama di sawah yang kurang baik hasilnya untuk padi.

Sekarang, produksi mendong yang masih berjalan di antaranya adalah Tasikmalaya dan Wajak, Kabupaten Malang. Sementara itu, kini mendong penggunannya mulai berkembang, yakni sebagai bahan dasar membuat sandal, tas, wadah berbentuk kotak atau tabung, penghias meja, almari dan dinding.


Sugianto menjelaskan, untuk membuat satu lembar tikar mendong membutuhkan kurang lebih 1 kg benang (senar pancing) ukuran 0,6, dan 1-2 Kg tanaman mendong.

Dalam kegiatan produksinya kakek yang memiliki 8 cucu ini dalam satu hari mampu memproduksi 10 lembar tikar mendong. Ia membagi tikar menjadi dua kualitas yaitu kualitas super dan regular. Dimana tikar mendong super dibanderol Rp 140 ribu untuk satu kodi. Sedangkan tikar mendong yang reguler sebesar Rp 73 ribu satu kodinya.

Salah satu distributor tikar mendong Desa Blayu, Sumi (52) mengatakan, tikar mendong mengalami masa keemasan pada tahun 1990. "Saat ini pemasaran tikar mendong hanya di wilayah Gresik dan Bali saja," tutupnya. (ed: ETS)

Naskah: Aditya Poundra | Foto: Irfan Maulana

Related post:

1. Pantai Banyu Anjlok, Sensasi Air Terjun Tepi Laut di Malang Selatan

2. Upacara Adat Kasada Bromo Menarik Perhatian Wisatawan Dunia

3. Sego Megono, Kekayaan Rasa Dalam Kesederhanaan Khas Pekalongan

Leave a Comment