Ke Rumah Pengasingan Hatta dan Syahrir di Banda Neira

Mohammad Hatta dikenal sebagai sosok yang serius. Kaku sekaligus disiplin. Tapi justru itu ia dianggap lucu.

Saat menjalani pembuangan di Banda Neira, Maluku, Hatta rutin dari Senin hingga Sabtu sore, sekitar pukul 4-5, mengelilingi Pulau Banda melewati kebun pala. Rutenya selalu sama. Saking rutin dan tepat waktu, Hatta dijadikan jam. Bila Hatta muncul, para pekerja perkebunan akan berseru, “Wah, sudah jam lima.” Mereka lalu berhenti bekerja. Kehadiran Hatta dianggap penting, karena di kebun tak ada jam.

Di kala senggang di Banda Neira, Hatta lebih suka terpekur membaca buku. Beda dengan Sutan Syahrir, yang dibuang bersamanya. Syahrir yang flamboyan sukanya mendengar musik klasik macam Beethoven di sebuah gramofon. Hatta sering merasa terganggu, tapi jarang menegur langsung. Des Alwi, anak angkat Syahrir, yang biasanya ditegur Hatta karena sering membantu memutarkan. “Jangan keras-keras. Itu terlalu Barat, seperti Syahrir yang kebarat-baratan.”

Des Alwi mengadu ke Syahrir. “Hatta bilang aku kebarat-baratan? Ah, dia sendiri kalau mimpi pakai bahasa Belanda.”

Berbagai kesibukan dicari Hatta selama di pembuangan. Di antaranya mengecat perahu. Suatu hari, ia kedapatan mengecat perahu dengan warna merah-putih oleh pejabat setempat, seorang Belanda. Tidak ada warna biru satu titikpun. Ini bisa dikategorikan tindakan berbau politis. Tapi Hatta berdalih, “Tuan kan tahu sendiri, laut sudah berwarna biru.” Si Belanda lantas ngeloyor pergi.

Kepulauan Banda

Begitulah antara lain kegiatan dua Bapak Bangsa kita saat menjalani pengasingan di Banda Neira. Hatta dan Syahrir menjalani masa pembuangan di sana dari 1936 hingga menjelang Jepang datang tahun 1942. Sebelumnya mereka dihukum buang di Boven Digul, Papua. Banda Neira berbeda 180 derajat dengan Digul. Banda Neira tempat yang indah. Air lautnya jernih, tenang, berkilau seperti cermin. Bayangan Gunung Api Banda di seberang dermaga Pelabuhan Neira ikut terpantul di permukaan air.

“Belanda sengaja mengasingkan Bung Hatta dan Syahrir di tempat yang indah ini agar sikapnya pada Belanda melunak. Tapi upaya itu gagal,” kata Meutia Hatta, putri sang proklamator itu pada majalah Tempo tahun 2013 silam.

Hingga kini rumah pengasingan Hatta dan Syahrir masih berdiri tegak. Banda Neira atau Banda Naira adalah salah satu pulau utama di kepulauan Banda sekaligus pusat pemerintahan Kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah. Kecamatan ini memiliki 12 pulau dengan total luas sekitar 172 kilometer persegi. Dua puluh lima meter dari pelabuhan terdapat museum Rumah Budaya Banda Neira. Di museum itu tersimpan berbagai jenis peninggalan zaman kolonial, dari meriam berbagai ukuran hingga tembikar.

Di zaman kolonial, ketika bangsa-bangsa Eropa berlomba mencari rempah-rempah hingga ke Asia, kepulauan Banda memiliki peran penting. Gugusan pulau ini dianggap surga rempah-rempah terutama pala. Begitu berharganya sampai-sampai Belanda rela menukar pulau Manhattan di New York yang dulu mereka kuasai dengan Pulau Rhun di Banda ke Inggris.

Rumah Syahrir dan Hatta

Di samping kanan bangunan museum terdapat rumah pengasingan Syahrir. Rumah itu bergaya Indis berarsitektur paduan gaya kolonial dan tropis. Ruang utamanya luas diapit kamar tidur dan ruang kerja. Di sana masih terdapat gramofon kuno yang dulu dipakai sang tuan rumah, lengkap dengan piringan hitamnya.

Di kamar Syahrir terdapat lemari kayu yang menyimpan sejumlah buku catatan, alat tulis, pakaian, hingga surat pengangkatan sebagai perdana menteri oleh Presiden Sukarno. Sementara itu, di ruang kerja tersimpan mesin ketik antik merek Underwood.

Tidak jauh dari rumah Syahrir, cukup dengan berjalan kaki sekitar 10 menit, terdapat rumah pengasingan Hatta. Rumahnya besar, terdiri atas bangunan utama di depan dan bangunan tambahan di belakang. Hatta menyewa rumah itu dari seorang Belanda pemilik perkebunan pala bernama De Vries seharga 10 gulden. De Vries bersedia menyewakan dengan harga murah karena konon berhantu. “Tapi ternyata tidak,” kata Meutia dikutip Tempo lagi.

Seperti di rumah Syahrir, di ruang kerja Hatta juga terdapat meja tua lengkap dengan mesin ketik antik. Di ruangan itu Hatta biasa menulis artikel. Ia mengirim tulisannya ke media di Jawa dan Belanda, menggugat ketidakadilan Belanda.

Di teras bangunan tambahan, berjajar tujuh bangku dan meja belajar model lama menghadap papan tulis kayu. Di sana dulu Hatta dan Syahrir membuka kelas sore mengajar anak-anak Banda aritmetika hingga bahasa Inggris. Syahrir mengajar anak-anak kecil, sedangkan Hatta mengajar anak yang lebih besar.

Pelajaran Nasionalisme

Diam-diam Hatta dan Syahrir menanamkan anak-anak nilai patriotisme dan nasionalisme. Mereka mengajarkan Teuku Umar dan Diponegoro adalah pahlawan yang berjuang melawan penjajah, bukan pemberontak. Hatta pernah mengajak anak-anak mengecat perahu dengan warna merah-putih.

Sedangkan Syahrir kerap mengajak anak-anak naik perahu ke Pulau Pisang, yang berjarak beberapa kilometer dari Neira. Di pulau gersang tak berpenghuni itu ia mengajar mereka bernyanyi Indonesia Raya.

Untuk mengenangnya, nama pulau itu diganti jadi Pulau Sjahrir. Nama Hatta juga diabadikan menjadi nama pulau, tak jauh dari situ. Pulau Hatta terkenal dengan terumbu karang dan keanekaragaman ikan. Hiu martil, lumba-lumba, dan paus kerap terlihat di sekitar pulau itu.** (ade/berbagai sumber)


Leave A Reply

Please Login to Leave a Reply