Keunikan dan Ciri Khas Batik Lasem

 

Kota Lasem sebetulnya adalah sebuah kecamatan yang berada di wilayah pesisir Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Kota ini terkenal dengan sebutan “Litle Tiongkok” karena peninggalan perkampungan etnies Tionghoa yang masih relatif utuh.  Di kota yang berada di pesisir Pantai Utara inilah, etnies Tionghoa pertama kali masuk ke Pulau Jawa pada sekitar abad 14 Masehi. Karena faktor itulah, maka tak heran jika Batik Lasem memiliki keunikan corak dan motif karena proses alkulturasi budaya Tionghoa dan Jawa.

Data sejarah menyebutkan, awal masuknya batik ke kota Lasem adalah dari seorang anak buah kapal (ABK) Laksamana Cheng Ho yang bernama Bi Nang Un. Bersama Na Li Ni istrinya, Bi Nang Un masuk ke Lasem  pada tahun 1400-an. Ia menetap di Jolotundo, Bi Nang Un ini adalah ahli bertukang terutama dalam membuat  kerajinan dari tembaga dan ukiran. Sedangkan Na Li Ni, menularkan seni penulisan di kain menjadi seni tulis batik.

Jauh sebelum kedatangan Bi Nang Un di Lasem, seni melukis di atas kain sudah berkembang di Jawa, namun karena sifatnya yang tidak komersil maka batik belum terlalu dikenal. Batik di Lasem ini mulai terkenal setelah kedatangan saudagar minuman keras dari Tiongkok pada tahun 1600-an. Pengusaha ini ini adalah seorang ahli gambar dan ahli kaligrafi.

Kota Lasem dahulu adalah kota pelabuhan yang besar. Di kota ini, akulturasi antara masyarakat pribumi dan para pedagang pendatang dari negara asing dengan mudahnya terjadi. Karena pedagang dari Tionghoa yang mendominasi Lasem maka wajar pengaruh budayanya bisa ditemui di Batik Lasem. Ini bisa dilihat dari motif-motif yang ada pada Batik Lasem tersebut antara lain motif bambu, bunga seruni, terartai, dan naga.

 

Motif Batik Lasem, Simbol Akulturasi Budaya

 

“Sejak 2009 saya menciptakan motif baru dengan menggabungkan kalimat-kalimat beraksara Jawa dan China, isinya bukan propaganda agama tapi lebih ke falsafah hidup dan moral,” kata tokoh Tionghoa Lasem sekaligus pengusaha batik dengan merk Sekar Kencana, Sigit Witjaksono sambil menunjukkan kain batik dengan motif tersebut.

Sejumlah motif kain batik menggambarkan tokoh mitologi dalam dunia pewayangan seperti Semar berpadu padan dengan kaligrafi aksara China. “Ternyata desain-desain baru ini malah disukai pembeli,” katanya.

Karena menciptakan motif baru itulah, ia diundang Ciputra ke Jakarta untuk berbicara tentang Batik. Acara itu diselenggarakan berbarengan dengan polemik atas klaim Malaysia pada kain Batik. Sigit mengatakan klaim itu mengada-ada, pasalnya “Sejak 1923 ayah saya sudah mengekspor batik ke Malaysia, saya juga tidak pernah melihat orang Indonesia mengimpor batik dari Malaysia,” sanggahnya. “ Waktu UNESCO menetapkan batik sebagai warisan tradisi Indonesia, sejak saat itu saya berjanji selalu memakai baju batik setiap hari, meskipun itu sedang di rumah sendiri,” kata Sigit. 

 

Warna Khas Batik Lasem

“Batik Lasem memiliki ciri khas warna serupa merah darah ayam atau dalam mbahasa Jawa abang getih pitik,” kata Baskoro,  founder dan aktivis Rembang Heritage Society (RHS). “Motif yang paling terkenal dari Batik Lasem bernama Sekar Jadad 3 Negeri atau 4 Negeri, namun sekarang juga banyak motif-motif kontemporer yang dikembangkan oleh pengrajin,” katanya.

 “Saya tidak mau batik Lasem menjadi barang murah, makanya saya bertahan dengan membuat batik tulis, karena batik cap ataupun print murah harganya,” masih kata Sigit Witjaksono. Soal pewarnaan pun, ia masih konservatif dengan mempertahankan warna-warna kuno. Ia tidak berniat mengadopsi warna-warna modern seperti merah jambu (pink) ataupun biru langit.

“Warna biru di batik Sekar Kencana yang disebut “wedelan” ini spesial, pengusaha batik dengan merk lain ada yang mencelup di tempat saya khusus untuk warna biru ini,” katanya. Memang untuk menjaga orisinalitas, sebagian pengusaha batik di Lasem merahasiakan formula pewarnaan yang menjadi ciri khas setiap merek.

Seperti warna biru di batik Sekar Kencana yang menyerupai warna saphir, memang susah ditiru oleh merek lain. Namun untuk warna universal di batik Lasem yang menjadi ciri khas semua, tetaplah warna merah yang menyerupai darah ayam.

 

 

Proses dan Upah Para Pembatik

 

 

Usaha batik tulis di Lasem memang semakin menggeliat, berbagai showroom baru tumbuh dan workshop-workshop batik menjadi salah satu tujuan utama turis yang berkunjung ke Lasem. Regenerasi pengrajin menjadi kunci untuk keberlangsungan batik tulis, karena para pembatik di Lasem telah memasuki masa senja.

Di workshop batik Sekar Kencana misalnya, sekurangnya memiliki sekitar 20-an ibu-ibu yang terlibat dalam segala proses pembuatan batik. Ada yang menggores canting, mencelup warna, melunturkan malam, hingga menjemur kain.

“Saya menetapkan upah harian, bukan borongan, agar mereka mendapatkan penghasilan yang pasti,” begitu Sigit menjelaskan sistem pengupahan usaha batiknya. Pria yang juga pernah membintangi film Ca Bau Kan ini menuturkan produksi batinya tidak pernah menggunakan teknik modern seperti print ataupun cap, tapi asli batik tulis.

Namun upah menjadi pembatik yang sekitar Rp 20.000 – Rp 30.000 per hari tentu belum menggiurkan bagi para perempuan muda untuk tertarik menjadi generasi penerus perajin batik Lasem. Para perajin yang tersisa sekerang rata-rata adalah generasi tua, diatas usia 40-an. Para perempuan muda lebih memilih pekerjaan modern seperti menjadi penjaga toko, buruh pabrik, PNS atau bahkan pergi ke luar negeri sebagai TKI. 

Menuju Lasem

 

Untuk menuju Lasem, jika Anda menggunakan moda tranportasi udara, mendaratlah di Bandara Ahmad Yani, Semarang. Lalu lanjutkan perjalanan dengan menggunakan bus tujuan Surabaya. Karena jalur bus menuju Surabaya akan melewati kota ini.

Atau sebaliknya, Anda juga bisa mendarat di Bandara Juanda, Surabaya. Sebaliknya, Anda juga bisa menumpang bus umum Surabaya – Semarang yang tersedia 24 jam. Melalui jalur ini, bonus keindahan pantai di sepanjang jalur Pantura menjadi hiburan yang memanjakan mata jika Anda melakukan perjalanan pada siang hari.

Untuk penginapan di Lasem, disana terdapat hotel-hotel kelas Melati dengan harga yang sangat terjangkau mulai Rp 75.000 – Rp 250.000. Jangan harap menjumpai hotel berbintang tiga di kota ini.

Jika ingin berkunjung ke sentra batik Lasem, bisa menggunakan jasa becak yang setiap saat bisa dipanggil dari hotel tempat Anda menginap. Mereka bisa mengantarkan kita menuju ke sana. Anda juga bisa memilih untuk berjalan kaki, sambil menikmati suasana perkampungan Tionghoa.

 


Leave A Reply

Please Login to Leave a Reply