Kuda Lumping, Perpaduan Estetika Seni dan Mistis



Kuda lumping (jaran kepang atau jathilan) adalah tarian tradisional Madura yang menampilkan sekelompok prajurit tengah menunggang kuda.

Tarian ini menggunakan kuda yang terbuat dari bambu atau bahan lainnya yang di anyam dan dipotong menyerupai bentuk kuda.

Tarian kuda lumping biasanya hanya menampilkan adegan prajurit berkuda, akan tetapi beberapa penampilan kuda lumping juga menyuguhkan atraksi kesurupan yang jenisnya bermacam-macam, ada macan (harimau), kera, semar, bahkan ular.

Selain itu ketika kesurupan, makanan yang diminta pun aneh, makanan roh seperti kembang 7 rupa, kemenyan, kelapa muda, beling (pecahan) kaca dan telur.

Tidak satupun catatan sejarah mampu menjelaskan asal mula tarian ini, hanya riwayat verbal yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Konon, tari kuda lumping adalah tari kesurupan. Menggambarkan kalau tarian ini sebagai pengingat masa kerajaan terdahulu yang berperang tidak hanya mengenakan senajata teteapi juga menjalankan dengan ilmu gaib.

Pagelaran Kuda Lumping Harus Dikendalikan Oleh Warok

'Dalam setiap pagelarannya, tari kuda lumping ini menghadirkan 4 fragmen tarian yaitu 2 kali tari Buto Lawas, tari Senterewe, dan tari Begon Putri'

Pada fragmen Buto Lawas, biasanya ditarikan oleh para pria saja dan terdiri dari 4 sampai 6 orang penari.

Beberapa penari muda menunggangi kuda anyaman bambu dan menari mengikuti alunan musik. Pada bagian inilah, para penari Buto Lawas dapat mengalami kesurupan atau kerasukan roh halus.

Para penonton pun tidak luput dari fenomena kerasukan ini. Banyak warga sekitar yang menyaksikan pagelaran menjadi kesurupan dan ikut menari bersama para penari. Dalam keadaan tidak sadar, mereka terus menari dengan gerakan enerjik dan terlihat kompak dengan para penari lainnya.

sumber: budaya.ijomuda

Untuk memulihkan kesadaran para penari dan penonton yang kerasukan, dalam setiap pagelaran selalu hadir para warok, yaitu orang yang memiliki kemampuan supranatural yang kehadirannya dapat dikenali melalui baju serba hitam bergaris merah dengan kumis tebal.

Para warok ini akan memberikan penawar hingga kesadaran para penari maupun penonton kembali pulih.

Pada fragmen selanjutnya, penari pria dan wanita bergabung membawakan tari senterewe.

Pada fragmen terakhir, dengan gerakan-gerakan yang lebih santai, enam orang wanita membawakan tari Begon Putri, yang merupakan tarian penutup dari seluruh rangkaian atraksi tari kuda lumping. (dz)

Artikel lainnya:

1. Tradisi Kawin Culik Lombok Yang Unik dan Mengejutkan

2. Tradisi Ekstrem di Indonesia Yang Penuh Filosofi

3. Makna Sebenarnya Lagu Lingsir Wengi Bukan Pemanggil Kuntilanak

Leave a Comment