Mari berwisata sejarah di 5 Masjid Jakarta dengan Arsitek Unik!



Wisata ke tempat peribadatan sudah populer dari dulu, wisatawan yang berkunjung di tempat peribadatan biasanya tidak hanya penganut agama yang memiliki peribadatan saja. Seperti halnya banyak orang dari belahan dunia datang ke Eropa untuk menikmati sejarah dan arsitek banyak gereja-gereja kuno dengan arsitektur yang wow sekali. Bagi yang tinggal di Jakarta dan akan berkunjung ke Jakarta dianjurkan untuk membuat daftar kunjungan berwisata ke 5 masjid dengan arsistektur Unik yang ada di Jakarta.

1. Masjid Istiqlal

Foto Masjid Istiqlal Jakarta

Masjid Istiqlal merupakan sebuah simbol persatuan dan kesatuan nasional Indonesia. Masjid Istiqlal memiliki keunikan dari sisi arsiteknya, sebagai salah satu masjid terbesar di Asia Tenggara, dan juga merupakan masjid terbesar di Indonesia, arsiteknya termasuk simple dan sudah cukup modern untuk masa pembangunan Masjid Istiqlal yang di bangun di era Presiden Soekarno. Pada umumnya masjid arsiteknya yang terlihat selalu mewah adalah di ruangan imam, untuk masjid Istiqlal design mewahnya ada di sisi kubah.  Kubah Masjid Istiqlal terbuat dari stainless steel dengan kedetailan yang sangat tinggi, dilengkapi dengan plaza yang terbuka, lebih mirip dengan masjid-masjid yang ada di negara-negara Timur Tengah.

Keunikan lainnya, Masjid Istiqlal memiliki Minaret, dan fungsi dari Minaret merupakan sebuah menara tempat seorang muadzin biasa mengumandangkan adzan. Keunikan pada Minaret Masjid Istiqlal terletak pada tingginya menara yaitu 6.666 sentimeter, angka tinggi menara mewakili jumlah ayat di dalam Al-Qur’an. Kubah Masjid Istiqal terbesar dan menjadi ikon dari semua interior masjid memilki diameter 45 meter. Sedangkan untuk kubah kecil memiliki diameter 8 meter, untuk tinggi bulan dan bintang mecapai 17 meter.  Apabila angka-angka itu di gabungkan akan membentuk tanggal kemerdekaan Indonesia yaitu 17-08-1945 atau 17 Agustus 1945.

Foto Interior Kubah Masjid Istiqlal Jakarta

Masjid Istiqlal di desain untuk orang Indonesia yang sebagian besar dari Islam sunni, tapi juga merupakan masjid yang sering digunakan untuk Sholat Jum’at beberapa Duta Besar dari Timur Tengah yang beraliran Syiah.

Arsitek yang melengkapi Masjid Istiqlal adalah Silaban. Silaban melengkapi masjid dengan tujuh ruangan yang berfungsi untuk meletakkan semua kebutuhan pengurus masjid secara lengkap. Dari tujuh ruangan tambahan itu dapat dimanfaatkan untuk lokasi kegiatan tambahan atau untuk pengurus masjid bekerja. Nama ketujuh ruangan oleh Silaban diberi nama mewakili semua nama Husna, yaitu, Al Fattaah, Al Quddus, As Salaam, Al Malik, Al Ghaffaar, Ar Rozzaaq, juga Ar Rahman. “Seakan memiliki arti menyerukan 99 nama Asmaul Husna dari tujuan ruangan tambahan yang di desain oleh Silaban.

Foto Interior Masjid Istiqlal Jakarta

Arsitektur Masjid Istiqlal bernama Frederich Silaban, penganut agama Kristen Protestan, dan merupakan anak dari pendeta yang misikin pada waktu itu. Kenapa arsiteknya Frederich Silaban? Pada masa Presiden Soekarno mengadakan sayembara untuk desain maket Masjid Istiqlal, yang diikuti oleh 22 orang dari 30 orang peserta yang lolos memenuhi semua persyaratan. Bung Karno sebagai Ketua Dewan Juri, mengumumkan bahwa pemenangnya adalah Frederich Silaban dengan karya yang berjudul “Ketuhanan” dan Presiden Soekarno memberikan julukan “By the grace of God” ke Frederich Silaban karena memenangkan sayembara itu.

Maka bagi penyuka wisata sejarah tentang Indonesia dan juga persatuan dan kesatuan, wajib untuk kita semua apabila ada di Jakarta ataupun berencana untuk wisata ke Jakarta, untuk mengunjungi Masjid Istiqlal, bukan hanya karena terbesar di Indonesia juga memiliki nilai sejarah yang harus kita lestarikan yaitu persatuan dan kesatuan Nusantara.

2. Masjid Cut Meutia

Foto Masjid Cut Meutia

Masjid Cut Meutia, memiliki sejarah panjang sebelum bangunannya dialih fungsikan menjadi masjid. Bangunan yang menjadi Masjid Cut Meutia merupakan bangunan peninggalan pemerintahan Belanda sebelumnya, yang pada jaman pemerintahan Belanda selalu di fungsikan menjadi kantor pemerintahan. Pernah berfungsi menjadi kantor perusahaan pengembang kawasan Gondangdia, kemudian menjadi Kantor Pos, Kantor Kereta Api Belanda, kemudian Kantor Angkatan Laut Jepang.

Kemudian setelah Indonesia merdeka, masih di fungsikan sebagai kantor Sekertariat Majelis Permusyawaratan Rakyat Semesta (MPRS). Kemudian pada pemerintahan DKI Jakarta dibawah pimpinan Gurbernur Ali Sadikin, gedung dihibahkan dari Pemerintah DKI Jakarta. Atas usulan Jendral AH. Nasution, “untuk difungsikan sebagai tempat beribadat semua umat agama”, berjalannya waktu yang paling banyak beribadat adalah pemeluk agama Islam, gedung di usulkan difungsikan sebagai masjid, dan disahkan dengan Surat Keputusan Gubernur Nomor 5184/1987 menandai peresmian gedung itu sebagai Masjid Cut Meutia pada tahun 1987. Serta Masjid Cut Meutia dijadikan Cagar Budaya Nasional. Sehingga bentuk bangunan dipertahankan sampai dengan sekarang. Hampir semua bagian gedung masih dalam bentuk asli dari sejak dibangun.

Foto Interior Dalam Masjid Cut Meutia

Masjid Cut Meutia, memiliki arsitektur khas bangunan Belanda dan dipadu dengan seni kaligrafi Islam. Banyak corak lukisan tulisan Arab menghiasi dinding di dalam masjid yang sampai sekarang masih kokoh walau dibangun sudah dari jaman penjajahan Belanda. Ada keunikan dari Masjid Cut Meutia, yaitu kiblat tidak lurus, tetapi agak menyerong ke kanan, ini mengikuti letak bagunan yang memang tidak mengarah ke Kiblat.  Nama Cut Meutia diambil dari nama Jalan Cut Mutiah yang merupakan lokasi masjid, yang ada di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Foto Interior Lampu Masjid Cut Meutia

Sampai saat ini bangunan dari Masjid Cut Meutia sengaja dipertahankan bangunan aslinya, "Hampir semua bagian gedung dibiarkan seperti aslinya”.  Karena keunikan dan cerita sejarah yang panjang inilah membuat Masjid Cut Meutia menjadi salah satu destinasi wisata sejarah sehingga banyak wisatawan mancanegara maupun Indonesia yang berkunjung ke Masjid Cut Meutia, yang memiliki kapasitas untuk menampung Jemaah sebanyak 3.000 jemaah dan memiliki luas tanah sekitar 5.000 meter pesegi. Untuk pembaca yang belum pernah berkunjung menjadi rekomendasi untuk jadi salah satu tujuan kunjugan berikutnya terutama yang mencitai destinasi sejarah dan arsitektur.

3. Masjid Agung Al-Azhar

Foto Masjid Agung Al-Azhar

Masjid Agung Al-Azhar dibangun pada tahun 1952 dan mulai digunakan pada tahun 1958, memiliki luas tanah 43.755 meter persegi dan terletak di daerah Kebayoran Baru ini ide pembagunan dipelopori oleh tokoh pergerakan Islam dari Masyumi.

Masjid Agung Al-Azhar memiliki arsitek bangunan yang sedikit mirip dengan Taj Mahal di India, karena pendiri masjid berharap ada kemiripan dengan konsep masjid di Timur Tengah. Keunikannya adalah bentuk bangunan tidak memiliki ornamen yang kuno, walau sudah berdiri dari tahun 1958, jadi kita bisa mengetahui dari arsitek yang memiliki visioner pada awal mendirikan Masjid Agung Al-Azhar. Memiliki empat tangga di empat penjuru masjid menjadikan terlihat kemegahannya.

Foto Interior Masjid Agung Al Azhar@mosque24.com

Di dalam masjid memiliki ornamen lukisan kaligrafi sebagai pewarna dari bangunan dengan cat putih bersih, serta jendela-jendela terbuat dari kayu tinggi yang mengitari seluruh dinding ruangan masjid, menjadikan satu kesatuan desain Masjid Agung Al-Azhar yang indah. Terdapat jendela mengelilingi kubah masjid sehingga memberikan pencahayaan yang alami di dalam masjid Agung Al-Azhar. Menjadi salah satu yang direkomendasi untuk di kunjungi oleh pembaca.

5. Masjid Agung Sunda Kelapa

Masjid Agung Sunda Kelapa

Arsitektur Masjid Agung Sunda Kelapa memiliki keunikan yang mungkin tidak akan pembaca temukan di arsitek masjid pada umumnya. Masjid Agung Sunda Kelapa salah satu dari beberapa masjid di Indonesia yang tidak memiliki kubah, padahal pada umumnya bentuk bagunan dari sebagian besar masjid memiliki Kubah. Atap Masjid Agung Sunda Kelapa berbentuk seperti perahu. Kenapa datar karena memiliki “filosofi yang merujuk pada Pelabuhan Selat Sunda, yang merupakan lintasan perahu bagi para pelancong atau nelayan serta saudagar Islam”.

Arsitektur mengikuti gaya yang berkembang pada masa tahun akhir tahun 1960 an yaitu dengan konsep modern, dan praktis. Memiliki bentuk yang sederhana untuk pintu, jendela dan aksesoris di dalam gedung. Salah satu perbedaan dengan masjid lainnya, halaman Masjid Agung Sunda Kelapa dikelilingi pepohonan pinus dan pohon-pohon lainnya yang tinggi dan teduh serta lantai masuk dengan keramik warna abu-abu kombinasi hijau membuat yang berkunjung merasa tentram saat mulai dari halaman masjid. Saat ini Masjid Agung Sunda Kelapa mampu menampung Jemaah sebanyak 4.424 jemaah.

Masjid Sunda Kelapa merupakan masjid atas inisiatip dan keinginan warga Menteng yang kemudian mendapatkan izin dari Gurbenur DKI Jakarta, Ali Sadikin pada tahun 1966. Merupakan salah satu Cagar Budaya Nasional yang ditetapkan pada tahun 1993.

5. Masjid Hidayatullah

Foto Masjid Hidayatullah

Di antara gedung-gedung yang menjulang tinggi di kawasan Jalan Profesor Satrio Jakarta, ada sebuah masjid yang bersejarah dan sangat tua. Letak masjid persis di sebelah gedung Sampoerna Stategic. Masjid Hidayatullah sudah berdiri sejak tahun 1743, dibangun di atas tanah wakaf dari seorang pengusaha Batik bernama Muhammad Yusuf, dengan demikian Masjid Hidayatullah telah berusia sangat tua untuk ukuran bangunan. Bangunan Masjid Hidayatullah terdiri atas dua bangunan, yang merupakan bangunan sejak dari tahun 1743 hanya satu bagunan, satu bangunan lagi merupakan bangunan tambahan yang diresmikan tahun 1999.

 Foto Interior Masjid Hidayatullah @kompasiana.com

Foto Interior Masjid Hidayatullah

Arsitektur di dalam masjid banyak menggunakan tiang dari kayu, dan masih sangat kuno.  Walaupun usia masjid sudah tua, tetapi berada di dalam bangunan sangatlah adem walau masjid tidak dilengkapi dengan pendingin ruangan. Hal yang membuat masjid adem karena di sekililing masjid banyak pohon rimbun sehingga membuat sikulasi udara dan kesejukan dari alam. Masjid Hidayatullah merupakan salah satu Cagar Budaya Nasional. Untuk pembaca yang kebetulan berkantor di area Sudirman tidak ada salahnya untuk sesekali mampir sholat, yang bagi pecinta sejarah dan bangunan tua menjadi rekomendasi untuk dijadikan tujuan kunjugan berwisata.

@nilea

Leave a Comment