Mekare-kare: Persembahan Darah untuk Sang Dewa Perang

Diantara riuh ramai pelaksanaan tradisi perang pandan atau mekare-kare di Desa Tenganan Pegringsingan, Karangasem, Bali, I Putu Sudirka (12) tampak asyik bersenda gurau dengan teman-teman sebayanya. Sambil menunggu giliran beberapa kali ia mengelus seikat pandan berduri yang digenggamnya dan mengayun-ayunkannya. “Pemanasan malu (pemanasan dulu),” katanya kepada teman-temannya. 

Raut wajahnya tidak menunjukkan rasa takut sama sekali, karena ini sudah keempat kalinya ia mengikuti tradisi perang pandan. “Pertama kali ikut waktu umur 8 tahun,” katanya. Sudirka menceritakan pertama kali mengikuti perang pandan merupakan keinginannya sendiri. “Tertarik lihat teman-teman yang lain ikut saya juga mau, lalu bilang ke orang tua dan langsung diperbolehkan. Apalagi ini tradisi yang pasti diikuti oleh laki-laki di Tenganan,” ujarnya.

Ketika pertama kali mengikuti tradisi ini, Sudirka mengaku sempat takut dan grogi, karena disaksikan oleh banyak orang. Namun semua ketakutan itu hilang begitu saja ketika sudah tampil di arena. “Sampai sekarang saya sudah tidak takut lagi, karena sudah biasa. Malah, setiap tahunnya saya selalu menantikan perang pandan,” ucapnya.

Baginya tradisi perang pandan ini juga sebagai bentuk menjalin keakraban diantara anak-anak sebayanya. “Setelah selesai kita bisa saling berbagi cerita,” tambahnya.

Klian Adat Desa Tenganan, I Wayan Yasa (51) mengatakan perang pandan merupakan sebuah tradisi yang khusus diikuti oleh kaum pria. Tidak ada batasan usia bagi warga yang mengikuti perang pandan. “Tergantung pada keberaniannya, tidak ada batasan usia tua, muda, juga anak-anak. Kalau anak-anak yang bertanding dipasangkan juga lawannya dengan yang sebayanya,” katanya.

Yasa menegaskan tidak ada penentuan menang atau kalah bagi peserta yang mengikuti perang pandan. Yang terpenting adalah rasa persaudaraan. Mengenai peraturan dalam tradisi perang pandan itu tergantung kesepakatan masing-masing peserta yang saling berhadapan.

“Kesepakatan diatur oleh masing-masing peserta. Mereka mempunyai kesepakatan tersendiri sebelum mereka melakukan perang ini, misalnya jangan kena wajah atau tidak,” ucapnya.

Ketika tradisi ini berlangsung para peserta yang bertanding harus bertelanjang dada. Mereka hanya menggunakan kamen dan udeng. Pandan berduri yang diikat menjadi satu hingga menyerupai gada menjadi senjata utama, sementara tameng terbuat dari rotan. Biasanya perang pandan berlangsung selama hampir 2 jam. Dalam satu kali pertandingan, berlangsung selama kurang lebih 1 menit.

 

Tidak berbahaya

Menurut Yasa penggunaan pandan berduri tidak membahayakan bila mengenai kulit. “Pandan berduri tidak membahayakan bila digesek ke kulit, karena pandan berduri kalau dipukulkan ke kulit durinya akan terlepas dari tangkainya,” jelas pria yang sejak usia 7 tahun sudah mengikuti perang pandan.

Yasa menjelaskan pelaksanaan tradisi perang pandan tak lepas dari keyakinan warga Desa Tenganan Pegringsingan sebagai penganut agama Hindu sekte Dewa Indra. Warga Desa Tenganan menempatkan Dewa Indra sebagai Dewa tertinggi berdasarkan kepercayaan, bahwa desa yang dikelilingi perbukitan ini merupakan pemberian Dewa Indra. Selain itu Yasa menambahkan keyakinan terhadap Dewa Indra juga tidak lepas dari kisah Maya Denawa, seorang raja yang kejam. 

Pada masa Maya Denawa berkuasa, ia menganggap dirinya sebagai dewa, serta melarang rakyatnya untuk melakukan ritual keagamaan. Hal ini membuat kemurkaan para Dewa, kemudian Dewa Indra turun untuk melawan Maya Denawa. Peperangan tersebut dimenangkan oleh Dewa Indra.
“Perang Pandan merupakan salah satu pengejawantahan sebuah persembahan kepada Dewa Indra sebagai Dewa Perang. Berkorban darah adalah yadnya keikhlasan kepada Dewa Indra. Tradisi inilah bentuk penghormatan kami,” jelasnya. (Bram)


Leave A Reply

Please Login to Leave a Reply