Menelisik Mitos Gunung Lawu Yang Penuh Misteri



Gunung lawu terkenal angker dan kental dengan nuansa mistis, menurut cerita leluhur menyebutkan bahwa Gunung Lawu merupakan pusat kegiatan spiritual di tanah Jawa dan ada hubungan dekat dengan tradisi budaya keraton Solo dan Yogyakarta misalnya upacara labuhan setiap bulan Sura.

Terletak di antara dua kabupaten yaitu kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah dan kabupaten Magetan, Jawa Timur.  Termasuk bagian dari Seven Summits of Java (tujuh puncak tertinggi di pulau jawa) masih menjadi primadona bagi para pendaki untuk menggapai puncaknya.

Bagi masyarakat setempat, Lawu seolah memiliki nyawa dan tidak sembarangan orang bisa diterima di gunung itu. Karena hal itu terdapat beberapa pantangan dan mitos – mitos yang diterima pendaki sebelum melakukan proses pendakian.

Puncak Lawu Sebagai Moksa Prabu Brawijaya

Memiliki tiga puncak yakni Hargo Dalem, Hargo Dumiling, dan Hargo Dumilah. Titik Puncak tertinggi adalah Hargo Dumilah, dengan ketinggian 3265 meter di atas permukaan laut. Menjadikanpuncak  gunung lawu sebagai gunung tertinggi kelima di pulau Jawa. Puncak lawu terkenal sangat dingin, bahkan bisa sampai minus lima derajat celcius.


Hargo dumilah (sumber foto: sapujagad)

Hargo Dalem diyakini sebagai tempat mencapainya moksa Prabu Brawijaya sebagai raja yang bijak karena mendapat wangsit bahwa cahaya Majapahit telah memudar dan wahyu kedaton berpindah ke kerajaan Demak yang dipimpin oleh anaknya Raden Fatah.

Sedangkan Hargo dumiling merupakan tempat pencapaian moksa para abdi Brawijaya, yakni Dippa Wanggala dan Wangsa Wanggala yang biasa dikenal Kyai Jalak. Puncak yang terakhir, Hargo Dumilah adalah tempat sebagai pusatnya spiritual tanah Jawa, banyak orang melakukan meditasi dan menjadi tempat sebagai ajang kemampuan olah batin.

Pantangan Ketika Mendaki Gunung Lawu

Dilarang memakai busana berwarna hijau daun. Hijau merupakan busana ratu Pantai Selatan yakni Nyi Roro Kidul yang tak sembarangan dipakai di Jawa. Selain itu, jangan pernah mendaki Gunung Lawu dengan rombongan berjumlah ganjil. Hal ini bisa mendatangkan kesialan.

Dan para pendaki dilarang untuk mengeluh ketika sedang dalam perjalanan menuju puncak, dan jika mengatakan seperti itu stamina akan menurun drastis dan jika mengatakan dingin maka situasi akan benar-benar kedinginan. Seolah lawu memiliki nyawa yang mendengar setiap perkataan.

Mitos-Mitos Selama Pendakian Gunung Lawu

Kemunculan Kyai Jalak sebagai pertanda baik bagi pendaki yang memliki hati yang bersih. Namun, Jalak menjelma sebagai Jalak yang berwarna gading dan dipercaya sebagai petunjuk bagi pendaki untuk sampai ke puncak.


jalak hitam (sumber foto: omkicau)

Seperti kebanyakan gunung yang ada di Indonesia yang kental dengan aura mistis, gunung Lawu memiliki pasar yang di sebut pasar setan. Yaitu pasar yang tak terlihat dengan kasat mata. Hanya terdengar suara ramai saja. Dan tidak semua orang bisa mendengarnya.

Jika melakukan pendakian tiba-tiba muncul kupu-kupu berwarna hitam, namun di tengah kedua sayapnya terdapat bulatan besar berwarna biru mengkilap. Konon, jika melakukan pendakian, melihat kupu-kupu dengan ciri seperti itu pertanda bahwa kehadiran pendaki disambut baik (diijinkan) oleh penjaga Gunung Lawu. Jangan pernah menganggu, mengusir dan membunuh kupu-kupu tersebut.

Sudah sepetutnya setiap orang yang hendak pergi ke tempat baru harus memahami berbagai larangan tidak tertulis untuk tidak melakukan sesuatu, baik bersifat perbuatan maupun perkataan. Karena selain menjaga keselamatan diri, hal itu juga bermanfaat  untuk kelestarian alamnya. (rdw)

Related Post:

1. Gunung Rinjani, Surga Kecil Singgasana Dewi Anjani

2. Gunung Agung Tempat Bersemayamnya Dewa

3. Misteri Situs Gunung Padang, Menarik Perhatian Arkeolog Internasional

Leave a Comment