Menelusuri Aneka Kuliner Berbuka Puasa di Kampung Jawa, Denpasar



Memasuki bulan Ramadhan, setiap sore Kampung Jawa ramai didatangi pengunjung. Kampung Jawa merupakan sebutan bagi Dusun Wanasari, Dauh Puri Kaja, Kecamatan Denpasar Utara. Pemukiman yang para penduduknya merupakan umat Islam ini setiap tahunnya pada bulan Ramadhan rutin menggelar pasar kuliner. Walaupun disebut Kampung Jawa, tetapi para penduduk di pemukiman ini merupakan orang Madura yang sudah turun menurun tinggal di Dusun Wanasari.

Setiap hari mulai pukul 16.00 WITA sepanjang Jalan Ahmad Yani, Denpasar, terutama di dekat Masjid Baiturrahmah selalu dipadati pengunjung yang ingin berbelanja. Berbagai makanan dan minuman yang cocok untuk hidangan berbuka puasa banyak ditawarkan disini. Kolak, es buah, es blewah, daluman, dan cendol berjejer di sepanjang jalan. Selain itu berjejer pula pedagang sate, gorengan, serta lauk pauk lainnya.

Dari sekian banyak kuliner yang dijual di tempat ini pengunjung akan mudah sekali menemui pedagang sate. Tapi, sate yang ditawarkan adalah sate khas Kampung Jawa, yaitu sate susu. Sate susu merupakan favorit para pengunjung. Setiap lapak yang menjual sate susu pasti ramai pembeli yang mengantri. 

Sate susu diambil dari bagian payudara sapi. Pengolahannya, bagian payudara sapi direbus hingga matang, kemudian dipotong kecil-kecil berbentuk segi empat. Selanjutnya diaduk dengan bumbu khas masyarakat setempat yang berpadu cita rasa antara bumbu Bali dan Jawa.

“Bumbunya persis base genep (bumbu khas Bali), tapi saya tidak gunakan ketumbar supaya tampilan sate tetap cerah. Selain itu ada tambahan sedikit gula, makanya sate susu memiliki cita rasa antara Bali dan Jawa,” kata Rusnah, salah satu pedagang sate susu di Kampung Jawa.

Ketika disantap sate susu dilengkapi dengan bumbu serapah untuk menambah kelezatannya. Bumbu serapah ini bahan dasarnya adalah tepung beras dan santan. Lalu dicampur base genep. “Tampilannya mirip seperti bumbu sate padang. Bedanya bumbu serapah warnanya lebih cerah dan pada umumnya tidak pedas. Bagi yang suka pedas bisa ditambahkan sambal plecing,” jelasnya.

Menurut dia setiap pedagang memiliki resep tersendiri dalam mengolah bumbu campuran sate susu dan bumbu serapah. Walaupun ciri khas dari cita rasa sate susu tetap sama. Rusnah mengaku resep yang digunakan ia pelajari sendiri.

Rusnah menambahkan berdasarkan pengalamannya pada tahun 1970-an pedagang sate susu sudah ada di Kampung Jawa, tapi tidak sebanyak sekarang. “Dulu tidak pakai bumbu serapah, hanya pakai kecap manis saja yang dicampur sebelum dimakan. Tapi, untuk irisan-irisan satenya campuran bumbunya sama seperti zaman sekarang,” ungkapnya.

Tak hanya sate susu saja yang ditawarkan para pedagang. Ada banyak lagi jenis sate yang berasal dari sapi yang bisa menjadi pilihan lainnya, seperti sate usus, sate hati, sate daging, dan sate sumsum. Selain berbahan dasar sapi, pengunjung juga bisa menemukan pedagang yang menjual variasi jenis sate lainnya, seperti sate lilit ikan laut, sate udang, dan sate ayam.

“Kalau sate susu dalam waktu tidak sampai dua jam sudah habis. Setiap pengunjung datang kesini yang dicari pertama kali pasti sate susu,” ucapnya.

Ramadhan tahun ini merupakan tahun ke enam Rusnah berjualan sate susu. Berbeda dengan pedagang sate susu pada umumnya di Kampung Jawa yang berjualan hanya setiap bulan Ramadhan. Pada hari-hari lain di luar bulan Ramadhan,  Rusnah tetap berjualan sate susu.

Harga yang ditawarkan untuk masing-masing sate pun berbeda-beda. Rusinah menjual sate susu seharga  2.000 per-tusuk, sate usus seharga 1.000 per-tusuk. “Kalau sate hati, sate daging dan sate sumsum harganya 2.500 per-tusuk,” jelasnya. (Bram)

Leave a Comment