Menengok Pemakaman Unik di Desa Trunyan Kintamani Bali



Saat liburan ke Bali, kebanyakan orang akan ke pantai. Kuta biasanya jadi pilihan paling mainstream. Sementara itu, bagi yang ingin melihat hamparan pemandangan serba hijau wisatawan biasanya bertandang ke Ubud.

Namun sebetulnya Bali tak hanya Kuta dan Ubud maupun pantai dan pemandangan indah. Bali juga menyimpan banyak tradisi dan tempat yang unik. Salah satunya terdapat di desa Trunyan, Kintamani.

Kintamani adalah kecamatan di Kabupaten Bangli. Dari kota Denpasar memerlukan waktu 2 jam untuk sampai ke Kintamani. Soal pemandangan alam, Kintamani sudah nggak diragukan lagi. Keasrian alamnya benar-benar terawat.

Gunung yang terkenal di sana adalah Gubung Batur dengan danau di kaki gunungnya yang bernama Danau Batur. Gunung Batur adalah gunung kedua tertinggi di Bali setelah Gunung Agung (3.142 meter). Masyarakat Bali meyakini, bila Gunung Agung ibarat laki-laki, Gunung Batur adalah perempuannya.

Cerita rakyat yang kental tentang daerah tersebut adalah Betara Pasupati di India yang memindahkan Puncak Gunung Mahameru yang dibagi menjadi dua. Puncak tersebut dipegang dengan tangan kiri dan kanan lalu dibawa ke Bali digunakan sebagai istana Putra beliau yaitu Betara Putrajaya (Hyang Maha Dewa) dan puncak gunung yang dibawa tangan kiri menjadi Gunung Batur sebagai istana Betari Danuh. Keduanya itulah sebagai ulunya Pulau Bali.

Kedua Gunung ini merupakan lambang unsur Purusa dan Pradana dari Sang Hyang Widhi. Pura Batur merupakan tempat Pemujaan Umat Hindu di seluruh Bali, khususnya Bali Tengah, Utara dan Timur memohon keselamatan di bidang persawahan. Sehingga pada saat puja wali yang jatuh pada Purnamaning ke-X (kedasa) seluruh umat terutama pada semua kelian subak, sedahan-sedahan datang ke Pura Batur menghaturkan "Suwinih". Demikian kalau terjadi bencana hama.

Desa Trunyan yang berada di seberang Danau Batur. Untuk mencapai Desa Trunyan, kita bisa menaiki perahu motor yang tersedia di dermaga Kedisan. Ongkosnya nggak terlalu mahal. Perjalanan biasanya ditempuh dengan 20 menit. Desa Trunyan dihuni oleh Bali Aga, sebutan untuk penduduk asli Bali.

Di desa tersebut punya tradisi yang berbeda menyangkut pemakaman. Orang meninggal tidak dikuburkan melainkan diletakkan di bawah pohon Trunyan. Bau mayat yang biasa santer tercium melebur bersama bau harum pohon Trunyan yang berusia lebih dari 1000 tahun.

Konon, zaman dulu Pohon Trunyan mengeluarkan bau wangi yang sangat kuat. Saking kuatnya, menurit sebuah legenda, wangi tersebut tersebar ke seluruh dunia. Sampai-sampai penduduk setempat merasa nggak kuat dengan bau wanginya. Oleh karena itu diletakkanlah jenazah orang meninggal untuk mengimbangi bau harum tersebut.

Jenazah yang diletakkan di bawah Pohon Trunyan haruslah sudah menikah dan meninggal dalam kondisi wajar. Sedangkan yang belum menikah dan mati dalam kondisi nggak wajar seperti kecelakaan, tenggelam, dibunuh, dan lain-lain harus dikubur seperti biasa dan di lokasi yang berbeda.

Untuk menghindari dirusak binatang buas, mayat diberi pengahalang berupa pagar bambu berbentuk segitiga memanjang sesuai ukuran tubuhnya. Ada mitos pula, bila semasa hidup si mayat kerap banyak berbuat dosa, maka akan mengalami pembusukan yang lama. Bila semasa hidupnya kerap berbuat baik mayatnya akan busuk lebih cepat.

Mayat-mayat di tempat itu dibiarkan membusuk secara alami hingga tersisa tulang-belulang saja. Jika sudah tinggal tulang, bagian badan, tangan, dan kaki ditumpuk di samping pintu gerbang. Sedangkan tengkorak kepala ditaruh di sebuah fondasi batu disusun berjejer dengan yang lain.** (ade/berbagai sumber)

Leave a Comment