Mengenal Ampo, Camilan Dari Tanah Liat



Ada yang sudah pernah mendengar camilan “ampo”? jika belum, mari kita mengenal makanan yang berasal dari Tuban, Jawa Timur ini. Makanan yang menggunakan bahan utama tanah liat yang diberi nama ampo ini sudah menjadi makanan tradisional masyarakat Tuban. Mereka percaya bahwa ampo dapat melancarkan dan menguatkan sistem pencernaan.

Tidak ada resep khusus untuk membuatnya. Warga tuban hanya mencari tanah yang bersih dan bebas dari kerikil. Kemudian ditumbuk dan dipadatkan sehingga berbentuk segiempat. Kemudian mengikisnya dengan stick dan membentuknya seperti gulungan. Tanah yang sudah menggulung itu kemudian dibakar dan diasapi selama 4 jam. Lalu jadilah camilan ampo yang siap untuk dimakan.

Ampo biasanya dikonsumsi sebagai makanan ringan atau camilan, terutama digemari oleh kalangan wanita yang sedang hamil. Meski tidak jarang, ampo ini sering disandingkan sebagai menu pendamping saat bercengkrama dengan teman, tetangga, dan sanak saudara.

Menurut warga Tuban sendiri mengkonsumsi "ampo" tidak mempengaruhi kesehatan mereka. Bahkan dapat menguatkan sistem pencernaan. Dan juga dapat mengobati beberapa penyakit seperti diare bahkan gatal-gatal.

Ternyata ada sebuah studi yang menyatakan bahwa kegiatan memakan tanah liat atau lempung secara ilmiah bisa disebut juga geophagy. Sera Young dari Cornell University, New York, AS, yang meneliti mengenai geophagy ini.

Ia menjelaskan, kebiasaan makan lempung ini biasanya dimiliki oleh orang yang tinggal di area tropis dan hangat. Kebiasaan ini banyak dimiliki orang dari berbagai negara, meski sebagian besar orang yang punya kebiasaan aneh ini tidak pernah mengakuinya.

Bahkan setelah diteliti ternyata tanah liat atau lempung tersebut memiliki efek menyamankan perut dan membantu melindungi pelakunya dari virus dan bakteri. Tanah liat juga bisa mengikat hal yang berbahaya seperti mikroba, patogen dan virus. Sehingga lempung yang dimakan itu bisa menjadi semacam pelindung, semacam masker lumpur untuk usus manusia.

Menjadi berbahaya jika tanah liat yang terkontaminasi oleh kotoran hewan atau manusia, khususnya risiko dari telur parasit, seperti cacing gelang yang dapat tinggal selama bertahun-tahun di dalam tanah dan dapat menimbulkan masalah. Juga dapat meningkatkan risiko terjangkit Tetanus.

Bahaya lain yang terkait dengan mengonsumsi tanah liat mencakup kerusakan enamel gigi, menelan berbagai bakteri, berbagai bentuk pencemaran tanah, dan obstruksi usus.

Namun proses pengolahan tanah liat warga Tuban yang cukup bagus dengan cara memasak atau dipanggang sehingga dapat mengurangi risiko tersebut.

***

Penasaran dengan cita rasa "ampo". Berani coba?? Ayo ke Tuban (rdw)

Artikel Lainnya:

1. Codot Bacem, Mesam Mesem Rasanya Khasiatnya Macem-Macem

2. Nasi Kentut Khas Medan

3. Segarnya Laksamana Mengamuk Khas Riau

Leave a Comment