Mengenal Atraksi Manusia Super Asli Banten

Kenal dengan Superman? Pahlawan super yang mempunyai kekuatan dahsyat dan kebal terhadap serangan senjata maupun peluru. Di Indonesia, manusia super itu bukanlah cerita karangan belaka, masyarakat mengenalnya dalam atraksi debus yang berasal dari provinsi Banten.

(Baca Juga: Marosok, Tradisi Jual Beli Ternak Dengan Isyarat)

Mulai dari menusuk perut dengan tombak, menyayat bagian anggota tubuh dengan golok, memakan api, menusukkan jarum kawat ke lidah, kulit pipi atau anggota tubuh lainnya hingga tebus tanpa mengeluarkan darah, menyiram tubuh dengan air keras, menggoreng telur di atas kepala, membakar tubuh dengan api, menaiki susunan golok tajam, dan bergulingan di atas serpihan kaca atau beling.


sumber foto: kemenpar.go.id


sumber foto: tempo

Hebatnya, mereka yang melakukannya tidak terluka tapi atraksinya yang ekstrem membuat penonton ngilu bahkan tak sanggup untuk melihatnya.

Pertunjukkan dimulai dengan pembukaan (Gembung), yaitu dengan pembacaan sholawat kepada Nabi Muhammad, puji-pujian dan dzikir kepada Allah yang diiringi instrumen tabuh selama kurang lebih tiga menit. Lalu dilantunkan nyanyian berupa dzikir dengan suara keras, melengking, bersahut-sahutan dengan iringan tetabuhan. Bagian ini disebut Beluk dan dilakukan hingga pertunjukkan berakhir.

Bersamaan dengan Beluk dimulai, atraksi silat dengan tangan kosong didemonstrasikan. Setelah itu beberapa orang pemain memulai atraksi debus.

Arti Kata Debus

Istilah Debus sampai saat belum dapat diketahui secara pasti berasal dari apa atau mengambil istilah mana. Namun menurut (Alm) Tb A Sastra Suganda pensiunan Kepala Seksi Kebudayaan Kandepdikbud Kabupaten Serang mengatakan bahwa kata debus berasal dari kata tembus (Sandjin Aminudin, 1997:153).

Pengertian lain dari kata Debus berasal dari kata Gedebus (Almadad) yaitu nama dari salah satu benda tajam yang digunakan dalam pertunjukan kekebalan tubuh. Benda tajam tersebut terbuat dari besi dan digunakan untuk melukai diri sendiri. Oleh karena itu kata debus disini diartikan juga sebagai Tidak Tembus.

(Baca Juga: Lamafa, Juru Tombak Tradisi Berburu Paus di Pulau Lembata)

Latar Belakang Sejarah

Kesenian debus berkaitan erat dengan penyebaran agama Islam di Indonesia. Pada masa Sultan Maulana Hasanuddin (1532-1570), debus digunakan sebagai seni untuk memikat masyarakat Banten yang masih memeluk agama Hindu dan Budha dalam rangka penyebaran Agama Islam.

Kemudian pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa abad ke 17 masehi (1651-1652), debus difokuskan sebagai alat untuk membangkitkan semangat para pejuang dalam melawan penjajah Belanda (Sandjin A, 1997:156). Oleh karena itu debus merupakan kesenian beladiri guna memupuk rasa percaya diri.

Kesenian ini sungguh mencekam, bahkan mengerikan tetapi juga menarik perhatian, apalagi para turis asing yang umumnya tidak percaya akan hal-hal di luar nalar (irrasional). Mungkin bila ‘pemasaran’ produknya lebih baik akan menjadikan debus ini primadona kesenian bela diri Indonesia di mata dunia (rdw)

Related Post:

1. Passiliran, Saat Batang Pohon Dijadikan Pemakaman Bayi

2. Tutang, Catatan Kehidupan Suku Dayak

3. Ikipalin, Ungkapan Kesedihan Lewat Pemotongan Jari Suku Dani


Leave A Reply

Please Login to Leave a Reply