Menikmati Keindahan Pantai Ciantir di Sawarna, Banten



Sebelum salah kaprah lebih jauh, Sawarna sebetulnya nama desa. Bukan nama pantai. Di Sawarna ada beberapa pantai yang namanya berbeda-beda.

Sawarna sempat terkucil karena jalanan sangat buruk, belum lagi kontur menanjak melintasi perbukitan. Hanya mobil bergardan ganda dan sepeda motor yang mampu melintasinya. Desa di selatan provinsi Banten, sekitar 230 km dari Jakarta ini masuk wilayah Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak. Dari Jakarta, kita bisa melewati Rangkasbitung, Malingping, lalu melewati indahnya pesisir pantai selatan.

Perjalanan menuju Sawarna diwarnai lebatnya hutan bukit Gunung Kembang dengan kontur jalan berkelok-kelok naik turun, lalu berhadapan dengan jalan menurun diapit tebing dan jurang yang lebarnya hanya bisa dilalui satu mobil. Jadi, di tiap kelokan, sopir akan mengklakson, memberi tanda kalau-kalau ada mobil dari arah depan.

Warga setempat menyebutnya Tanjakan Cariang. Di sini pemandangan pantai nun jauh di sana begitu menggoda. Banyak pelintas menyempatkan diri berhenti, sekadar menikmati pemandangan atau foto-foto. Konon, di bawah tanjakan ini ada gua. Warga setempat yang pernah masuk dan menggali, menemukan sejumlah kerangka manusia. Mungkin kerangka para romusha, pekerja paksa zaman penjajahan Jepang 1942-1945. Di sini terembus kesan angker, hingga pewisata disarankan berdo’a.

Konon, Sawarna sendiri berasal dari bahasa Sunda yang artinya satu warna. Istilah itu muncul dari berkumpulnya para pekerja di zaman penjajahan Belanda dan Jepang, korban kerja paksa di pertambangan batu bara, dan merasa senasib, sewarna.

Setelah jalan naik-turun, kita bertemu jalan yang landai. Di sisi kanan sepanjang jalan pantai berpasir putih dan deretan nyiur. Pemandangan pantai laut selatan diselingi bukit dan deretan pepohonan yang menghapus rasa lelah dan tegang karena sulitnya medan.

Keindahan Pantai Ciantir

Anda akan sampai di batas desa yang bisa dilalui mobil. Kemudian melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki sejauh 300 meter. Anda akan bertemu jembatan gantung besi sepanjang 30 meter yang hanya bisa dilalui satu motor untuk menyeberangi sungai Cisawarna yang berair cokelat. Rumah penduduk ada yang disewakan untuk penginapan. Jadi, jangan takut bakal kesulitan mencari tempat menginap.

Salah satu pantai di Sawarna adalah Pantai Ciantir, yang terdekat dari desa itu. Hanya beberapa ratus meter dari Sawarna. Pelabuhan alam nelayan ini berpasir putih sepanjang 3,5 kilometer itu beberapa bagian berkarang tajam. Jadi, lebih nyaman menggunakan alas kaki. Nun jauh di barat ada Karang Bokor, batuan karang berbentuk mangkuk seperti namanya, yang pantainya bisa dicapai bila turun dari Gunung Kembang dalam perjalanan ke Sawarna.

Berjalan ke arah timur Pantai Ciantir, ada Batu Layar, batu karang menjulang berbentuk layar perahu di atas karang datar luas. Batu itu sudah masuk wilayah pantai dengan nama lain lagi: Pantai Tanjung Layar. Dipercantik karang bergelombang menyerupai tembok di sekitarnya, batu layar ini bagaikan tameng dari ganasnya ombak laut selatan. Jangan lewatkan pemandangan matahari terbenam di pantai ini. Rugi bila tak menikmatinya. (ade/sumber: National Geographic Traveler)

Leave a Comment