Menikmati Matahari Terbit di Batur, Bali



Sumber foto header: wikimedia.org

Gunung Batur merupakan tempat suci bagi penganut Hindhu, Bali. Dengan ketinggian 1717 meter, gunung yang terletak di daerah Kintamani tersebut menjadi lokasi tertinggi kedua di Bali. Tempat ini menawarkan pemandangan yang indah. Anda bisa melihat danau dengan latar belakang gunung. Yang semakin mempesona saat matahari sedang bersinar cerah dengan pantulan gunung yang membayang di permukaan danau. Cobalah berkeliling danau, anda akan menemukan warna permukaan air yang berbeda-beda. Di salah satu sudut danau yang dekat dengan Pura Desa, anda akan menemukan padang bunga gemitri. Bunga berwarna kuning ini kerap ditanam untuk diperjual-belikan sebagai bagian dari sesaji.

Sumber foto: enajulianti.wordpress.com 

Salah titik terindah untuk menikmati Gunung Batur adalah dengan cara melihat matahari terbit dari puncaknya. Poin pendakian bisa dimulai dari Desa Toya Bungkah. Hotel dan penginapan lokal di desa ini banyak menyediakan guide untuk memandu anda sampai ke puncak. Pemandu akan membangunkan anda sekitar pukul tiga dini hari. Setelah mendaki dengan kecepatan sedang, anda akan menikmati matahari terbit pada pukul enam pagi. Umumnya, paket menikmati matahari terbit dilanjutkan dengan jalan-jalan berkeliling kawah.

Capai sehabis berjalan-jalan lekas hilang dengan berendam di air panas. Desa Toya Bungkah memiliki beberapa pemandian air panas. Yang paling terkenal terletak di tepi Danau Batur. Tempat ini memiliki kolam yang menawarkan pemandangan menghadap danau dan gunung. Turis lokal harus membayar Rp 50.000 rupiah sekali masuk. Pemandian ini juga menyediakan spa. Jika anda ingin menginap dan dan mandi air panas tanpa gangguan banyak orang, datanglah ke Penginapan Arlina. Mereka memiliki tiga kolam keramik yang berair panas.

Sumber foto: divabalidriver.com

Ingin menikmati suasana pedesaan Bali? Ada bisa datang ke Desa Trunyan. Desa ini bisa ditempuh lewat dua cara. Dengan cara memutari danau dari Toya Bungkah atau dengan naik perahu. Suku Trunyan masih memegang budaya neolitiknya. Salah satunya budaya pemakamannya. Suku Trunyan, Bali memiliki pemakaman yang hanya bisa dikunjungi dengan perahu. Di pemakaman ini penduduk Trunyan membaringkan mayat dalam kurungan bambu. Mayat-mayat tersebut akan membusuk seiring dengan waktu. Mereka tidak meninggalkan bau karena tertutup oleh wangi dari pohon taru menyan raksasa yang ada di makam. Pemakaman Bali Aga ini hanya bisa diisi tujuh mayat. Jika mayat tersebut menjadi tulang, tengkoraknya dipindah ke bawah pohon. Hanya mayat yang utuh yang bisa dikuburkan di tempat ini.

Leave a Comment