Menilik Rumah Tradisional dan Budaya Desa Sade di Lombok

Desa dengan nama yang sederhana dan terkenal dengan penduduknya yang ramah. Berlokasi di Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Pulau Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat, dengan jarak tempuh sekitar 30 kilometer dari kota Mataram. Untuk menemukan desa ini tidak sulit, karena berada tepat di pinggir jalan Praya - Kuta. Desa Sade salah satu desa yang penduduknya merupakan suku Sasak asli Lombok.

Di sini memiliki 9 kampung dengan jumlah 150 rumah dan 150 kepala keluarga. Dengan jumlah penduduk berkisar 700 orang, tak ayal jika rumah-rumah di sini masih memiliki  bangunan tradisional, sebutan rumah di Desa Sade biasa disebut Bale. Di setiap bale, mayoritas menggunakan kayu dan bambu untuk dinding, sedangkan untuk bahan dasar atap memilih jerami. Mereka memilih jerami karena lebih lama keawetannya bisa tahan sampai 7 sampai 8 tahun. Jangan heran jika Suku Sasak menggunakan kotoran kerbau untuk pondasi rumah, hal tersebut dilakukan agar menjaga kekokohan pun menghindari dari kelembaban ketika musim hujan. Di dalam perkampungan adat ini juga terdapat lumbung padi yang digunakan untuk menyimpan hasil tani mereka yang bisa kita temukan di beberapa rumah.

Pada umunya, mata pencaharian Suku Sasak di sini mayoritas  petani.  Namun, seiring berjalannya waktu dan kini telah berkembang menjadi desa wisata, beberapa pria menjadi pemandu wisata untuk desa ini. Dan untuk perempuan, mereka terlebih menjadi penenun kain tradisional yang nantinya dijual ke wisatawan. Oleh sebab itu, Desa Sade terkenal dengan tenun dari kerajinan tangan perempuan di desa ini. Hampir setiap rumah menjual souvenir, seperti kalung, gelang, gantungan kunci dan lainnya. Serta aktivitas yang menarik sade wanita yang sedang menenun, karena wanita remaja Desa Sade diajari menenun oleh orang tua mereka, hal tersebut untuk regenerasi budaya sehingga pada masa depan ikat tenun Sade yang tidak punah terkikis oleh jaman.

Di samping itu juga bisa temukan budaya kawin culik, dalam artian menikah tanpa tunangan, lamaran, dan sejenisnya. Hal tersebut bisa segera dilaksanakan jika kedua mempelai saling suka dan mencintai. Selanjutnya mempelai pria datang ke rumah perempuan, untuk memintanya ke orang tua mereka, dan proses terakhir dilaksanakan nyongkolan atau arak-arakan untuk mengiringi pengantin. Setelah melakukan proses pernikahan, keduanya menempati Bale Kodong bagi mereka yang belum bisa membuat rumah yang lebih besar, atau juga lazim disebut rumah untuk bulan madu.

@inay


Leave A Reply

Please Login to Leave a Reply