Mop Papua, Humor Dari Timur Indonesia

header via youtube/epenkahcupentoh

Kamu sering mendengar Stand Up Comedy? gaya lawak yang bermula dari Amerika Serikat ini sedang naik daun dan mendapatkan tempat di hati masyarakat Indonesia. Nah di Papua, gaya lawak semacam ini sudah sejak lama hidup di tengah masyarakatnya, hadir sebelum eksistensi Stand Up Comedy di Indonesia. Mereka menyebutnya Mob atau Mop, sebuah humor dari Timur Indonesia.

Menurut Mokougouw (dalam Aritonang & Luhukay), mop atau mob merupakan wacana humor khas Papua yang menyindir sekaligus menertawakan kisah masyarakat Papua dari berbagai etnis, usia, status ekonomi, dan profesi. Mob juga tidak sekedar menyindir aspek-aspek sosial politik tetapi juga aspek-aspek keagamaan.

Jika orang Indonesia lebih akrab dengan istilah stand up comedy, mop terbilang mirip dengan format lawak tersebut tapi dilakukan dengan logat dan aksen Papua.

Beragam informasi mengenai penggunaan istilah kata Mop atau Mob humor dari Papua. Ada yang menyebut mop adalah singkatan dari Mati ketawa ala Orang Papua. Ada juga yang menyebut  Istilah mob diambil dari istilah April Mob atau lelucon April yang saat itu dirayakan serentak didunia internasional setiap tanggal 1 April setiap bulannya.

Tak mengenal tempat, Mop sering ditemukan di warung-warung kopi, tepi jalan, terminal, acara-acara formal, bahkan sebagai pembuka khotbah di gereja. Tema yang diusung pun beragam, mulai dari gaya hidup, kejadian sehari-hari hingga keagamaan, bahkan tema politik juga kadang dimunculkan. Sehingga mop tidak hanya sebagai penghibur, tetapi juga sarana opini.

Adapun beberapa istilah yang sering muncul sebagai identitas dari gaya humor ini, yakni pace untuk penggambaran laki-laki, mace untuk penggambaran perempuan, yaktep untuk anak muda, tete untuk kakek, dan nene untuk nenek. Oleh karena itu, mop dapat diterima oleh siapa saja karena bersifat sebagai ringan dan santai.

Kekayaan budaya yang dibingkai dengan nuansa jenaka ini tidak hanya sebagai hiburan semata, melainkan sarana perekat keakraban sosial masyarakat Papua. Ketika mereka berkumpul akan tersaji kopi, rokok, dan makanan penghidang di depannya dan semakin ‘pecah’ dengan hadirnya Mop di tengah keramaian.  Mereka mengumpulkan cerita lucu atau joke untuk diceritakan kepada teman-temannya guna mencairkan suasana.

Berikut ini salah satu contoh mop atau mob:

Lupa...

Satu kali Cucu tanya ke Tete: "tete ni tiap kali panggel Nene selalu deng panggilan darling, sayang,honey... darling su makang...???,sayang kopi mana...???, honey mo ikut...??? tete ni paleng romantis sampeee... de pu rahasia apaka??".

Tete: "sssssstttttt mari sini Tete bisi-bisi,,, ko jang bilang2 par Nene eee...???".

cucu: "Kenapa jadi Tete...???".

Tete: "Tete su lupa Nene pu nama..."

source link: academia.edu

Artikel lainnya:

1. Mumi Ratusan Tahun Dijadikan Wisata Budaya Papua

2. Tas Noken, Mahakarya Mamah Papua yang Telah Mendunia

3. Ikipalin; Ungkapan Kesedihan Lewat Tradisi Potong Jari Suku Dani


Leave A Reply

Please Login to Leave a Reply