Museum Linggarjati, Belajar Sejarah dan Menikmati Alam Pegunungan



Linggarjati, ada yang menyebutnya "Linggajati", sebuah desa di dataran tinggi nan sejuk yang masuk wilayah Kabupaten Kuningan, Jawa Barat dekat Cirebon. Pada 1946, di masa perang kemerdekaan, Belanda ingin menguasai kembali Indonesia. Sementara itu, RI yang sudah memproklamirkan kemerdekaannya sejak 17 Agustus 1945 tak mau lagi dijajah. Kala itu, Perdana Menteri Sjahrir (14 November 1945 - 3 Juli 1947) berusaha menyelesaikan sengketa wilayah dengan Belanda. Sebagai negara yang ingin beradab, Indonesia pun memilih berunding dengan Belanda. Bukan hanya berperang.

Semula Jakarta dipilih jadi tempat berunding. Tapi RI menolak, karena Jakarta dikuasai Sekutu. Sedangkan Yogyakarta ditolak Belanda karena merupakan ibukota (sementara) RI. Jalan tengah: dipilih Linggarjati, dekat Cirebon.

Rumah yang dijadikan tempat berunding dibangun tahun 1918 dari rumah gubuk seorang janda bernama Jatisem. Seorang Belanda jatuh hati padanya, menjadikannya gundik, dan merenovasi rumahnya dari gubuk jadi tembok permanen. Rumah itu sempat dijadikan hotel hingga markas tentara BKR (Badan Keamanan Rakyat) yang jadi cikal bakal TNI.

Dalam perundingan yang berlangsung dari 11 November hingga 14 November 1946 itu, terdapat 17 pasal yang dibahas. Hal yang tidak menyenangkan, Indonesia harus menerima kenyataan wilayahnya tinggal Jawa, Sumatra, dan Madura. Sudah hilang banyak wilayah, Indonesia harus pula ikut dalam Persemakmuran Indonesia-Belanda. Dan batas waktu tentara Belanda bercokol di wilayah Indonesia paling lambat 1 Januari 1949. Demi menghindari perang besar, perjanjian ditandatangani. Meski kemudian pihak oposisi RI, antara lain Tan Malaka, menentangnya dan kabinet Sjahrir jatuh.

Kendati begitu, perjanjian Linggarjati merupakan bagian penting perjalanan bangsa kita menuju kemerdekaan sepenuhnya. Oleh karena itu, tempat perundingan berlangsung hingga kini diabadikan sebagai museum.

Nah, lantas di mana Museum Linggarjati persisnya berada?

Menuju Museum Linggarjati

Dari Cirebon bisa meluncur ke arah Kuningan. Jalan mulai menanjak setelah melewati bandara Cirebon. Sekitar 7 kilomter dari Cirebon, di sisi kiri jalan terhampar padang golf Ciperna. Naik sedikit lagi ada bukit Gronggong, mirip Puncak-Pas-nya Bogor. Di tempat ini bisa dilihat kota Cirebon dari atas bukit. Di sisi kiri-kanan jalan di sekitar bukit Gronggong banyak kios sederhana penjual jagung bakar.

Kurang lebih 17 kilometer selepas bukit Gronggong sampailah kita di Linggarjati. Daerahnya mudah dicapai karena rambu penunjuk jalannya sanagt jelas. Memasuki Desa Linggarjati jalan mulai naik-turun dan sedikit berkelok. Di kiri-kanannya terdapat hamparan sawah. Hawanya sejuk, sebab kawasan ini berada di kaki gunung Ciremai. Letak Museum Linggarjati lebih tinggi dari jalan raya.

Masuk gedung museum tidak ditarik biaya tertentu. Pengunjung dipersilakan memberi sumbangan sukarela yang dimasukkan ke kotak sumbangan yang tersedia setekah mengisi buku tamu. Jam buka seperti hari kerja biasa. Tapi pada hari Senin museum tutup.

Walau statusnya sebagai museum, bangunannya tidak kelihatan "angker". Kesannya malah seperti villa atau tempat peristirahatan. Tamannya luas dengan latar belakang pemandangan gunung. Di dalam museum ditampilkan diorama perundingan antara Belanda dengan Indonesia yang dilengkapi foto-foto. Meja, kursi dan ruang tidur para dekegasi ditata seperti saat perundingan dahulu.

sekitar 500 meter dari museum terdapat Taman Wisata Linggarjati Indah. Taman seluas 11 hektar ini dilengkapi berbagai sarana rekreasi, seperti kolam renang, situ alias danau, sumber mata air, dan kolam pemancingan. Untuk masuk taman ini ada tarifnya. Sama seperti museum, pada hari Senin, taman juga tidak buka.

Selain museum dan taman wisata, di Linggarjati juga terdapat hutan wisata dan bumi perkemahan. Kalau ingin menginap tak perlu khawatir, banyak penginapan berupa cottage dan vila. Rumah makan pun gampang ditemukan. Ya, Linggarjati sangat cocok untuk berwisata keluarga. Belajar sejarah sambil menikmati keindahan alam pegunungan nan sejuk. Asyik, kan?** (ade/sumber: Tirto & Intisari)

Leave a Comment