Nasi Gandul Pak Meled, Kuliner Legendaris Khas Pati

Mendengar namanya pertama kali, mungkin banyak yang mengira Nasi Gandul merupakan kuliner yang penyajiannya dengan cara digantung. Ini mungkin dikarenakan gandul dalam bahasa Jawa berarti menggantung. Namun, Nasi Gandul bukanlah nasi yang digantung cara penyajiannya.

 

Nasi Gandul Pak Meled, Legenda dari Pati

Nasi Gandul merupakan masakan khas daerah Pati, Jawa Tengah. Lebih tepatnya, berasal dari Desa Gajahmati, itulah sebabnya sering ditemui kata-kata “Nasi Gandul Gajah Mati”. Walaupun pada akhirnya banyak ditemui penjual nasi gandul yang tidak berasal dari desa Gajahmati tetap menuliskan kata desa Gajahmati pada spanduk tempat makan mereka.

 

Ada dua versi mengapa kuliner ini dinamakan Nasi Gandul.

Versi pertama, bahwa nama Nasi Gandul adalah nama pemberian dari pembeli. Konon, Pak Meled yang menjadi pelopor kuliner unik ini, berjualan berkeliling desa menggunakan pikulan pada tahun 1950-an. Dia berjualan nasi dengan lauk empal atau daging sapi bumbu bacem yang kemudian disiram kuah di atasnya. Nasi tersebut tidak disajikan di atas piring, melainkan di 'pincuk' daun pisang dan dimakan menggunakan 'suru', sendok yang juga dibuat dari daun pisang.

Pak Meled menjajakan nasinya dengan menggunakan pikulan yang berisi kuali (tempat kuah nasi gandul) di satu sisi, dan bakul nasi serta peralatan makan nasi gandul di sisi lain. Kemudian, pikulan tersebut digotong dan dijajakan sehingga pikulan tersebut naik-turun seirama dengan langkah penjualnya (kedua sisi bambu ini bergantungan bakul nasi dan kuali kuah secara menggantung (gandul). Oleh sebab itu, masyarakat kemudian menamainya nasi gandul.

 

Versi kedua, nama nasi gandul terinspirasi dari cara penyajian nasi gandul yang unik. Cara penyajiannya: piring yang telah dilapisi oleh daun pisang, kemudian diisi oleh nasi, baru setelah itu diberi kuah. Karena penyajian yang serupa itu, oleh para pembeli menyebut bahwa nasi dan kuah itu mengambang; menggantung (tidak menyentuh piring).

 

Satu hal yang membuat rasa Nasi Gandul begitu khas adalah dari cara memasaknya, khususnya merebus kuah Nasi Gandul dalam kuali tanah liat. Memang sudah banyak bermunculan Nasi Gandul lainnya, namun Nasi Gandul Pak Meled tetap menggunakan kuali tanah liat untuk merebus kuahnya. Banyak orang yang jatuh cinta dengan rasa Nasi Gandul yang unik, kombinasi antara gulai dan semur daging. Banyaknya konsumen yang penasaran dengan Nasi Gandul, membuat beberapa tetangga Pak Meled di Desa Gajahmati terinspirasi. Mereka pun belajar cara membuatnya dan kemudian ikut berjualan.

 

Dari jualan dipikul, perlahan usaha Pak Meled semakin maju. Dia pun membuka warung di rumahnya, selain tetap jualan berkeliling. Waktu itu, ‘saingan’ Pak Meled sudah banyak. Tapi, dia tetap bertahan dengan ciri khasnya, yakni merebus kuah Nasi Gandul dalam kuali tanah liat. 

Nasi Gandul Pak Meled menawarkan lauk varian daging sapi lengkap dengan jeroan atau organ dalam sapi seperti usus, babat, limpa dan hati. Ada juga lauk tambahan yakni telur bacem, tahu dan tempe goreng, serta perkedel kentang. Lainnya, ada kerupuk udang serta keripik tempe yang siap menemani nasi. Sehari, warung Nasi Gandul Pak Meled bisa menjual daging hingga 10 kilogram dan jika di hari raya atau hari libur lainnya, bisa sampai 30 kilogram.

 

Kini, kalau kamu mau mencoba Nasi Gandul Pak Meled di Pati, kamu tinggal datang saja ke warungnya di dekat Terminal Bus Pati, yang saat ini dikelola oleh menantunya setelah Pak meled meninggal pada 2002 silam. Untuk kamu yang ada di Jakarta, tidak perlu khawatir. Kamu bisa mampir ke sini. (sumber: wikipedia, cnnindonesia)

 

Artikel Terkait:

1. Menilik Museum Kapal Selam Surabaya

2. Ketika Santri Perempuan Memacu Kuda

3. Cita Rasa Kuliner Oriental di Semarang


Leave A Reply

Please Login to Leave a Reply