Nasi Kebuli Betawi, Dari Mana Asalnya?



Dari penampakannya, mudah mengatakan kalau nasi kebuli Betawi berasal dari Timur Tengah. Tapi, Timur Tengah sebelah mana? Dan, benarkah semata dari Timur Tengah?

Selain menggunakan beras dan daging kambing sebagai bahan utama, pengolahan nasi kebuli juga menggunakan belasan macam rempah-rempah seperti kayu manis, biji cengkih, biji pala, bunga pekak, kapulaga, serai, daun jeruk, daun salam, santan, bawang putih, bawang merah, ketumbar, jintan, adas manis, kunyit, dan jahe. Selain itu, bahan masakan yang tak kalah pentingnya untuk dicampurkan adalah kismis, yoghurt dan minyak samin.

Dilihat dari bahan yang digunakan, masakan ini memiliki kemiripan dengan jenis masakan asal Timur Tengah (Lebanon, Arab Saudi, Yaman, dan lainnya). Tak heran, karena ternyata sang pelopor nasi kebuli memang masih memiliki darah keturunan Timur Tengah.

Sejarah Nasi Kebuli

Kisah nasi kebuli dimulai ketika para pemuka agama asal Hadramaut, Yaman, memiliki misi menyebarkan agama Islam di negeri India. Sama halnya dengan Indonesia, negara India yang memiliki jumlah penduduk Mslim terbanyak kedua di dunia ini juga mengonsumsi beras sebagai bahan makanan pokok.

Untuk menyambung lidah antara cita rasa Yaman dan India, para ulama akhirnya mencampur-adukkan rempah-rempah asal Timur Tengah dan India. Sehingga terciptalah makanan dengan aroma khas tersendiri. Tak sampai di situ, para ulama kemudian melakukan beberapa percobaan untuk menyempurnakan cita rasa nasi buatan mereka. Dengan melalui banyak eksperimen, ditambahlah bahan utama lainnya yaitu daging kambing.

Di lain sisi, penyebaran agama Islam di India dan sekitarnya terbilang sukses. Karena itu para ulama memutuskan untuk memperluas wilayah ke negara lainnya. Pilihan lantas jatuh pada Indonesia, yang pada zaman itu dikenal sebagai surga rempah-rempah. Para ulama ternyata menemukan bahwa penduduk Indonesia sama halnya dengan India yang menyantap nasi sebagai bahan pangan utama. Bedanya, Indonesia memiliki lebih banyak bumbu yang nantinya dimasukkan dalam racikan nasi kebuli versi Indonesia.

Nasi Kebuli Betawi di Condet

Cerita lebih detail diungkap Windoro Adi di buku Batavia 1740: Menyisir Jejak Betawi (2010). Ia menulis, di Indonesia, resep nasi kebuli diperkenalkan orang-orang Kerala, India. Karena kepiawaian mereka memasak, mereka dibawa oleh para pedagang dari Gujarat, India, sebagai juru masak kaapal.

Selain berdagang, orang-orang Gujarat yang populer dengan sebutan orang Koja ini juga menyebarkan agama Islam dan tradisi mereka, termasuk makan nasi kebuli bersama. Kemudian, datang pula pedagang dari Hadramaut, Yaman Selatan yang membawa resep nasi kebulinya sendiri--yang belum terpengaruh resep India.

Namun, masyarakat Betawi yang sudah lebih dulu mengenal resep nasi kebuli dari orang Koja tetap membuat nasi kebuli ala orang Koja (Gujarat). Karena lekat dengan tradisi Betawi, nasi kebuli akhirnya diakui sebagai masakan Betawi. Di kalangan masyarakat Betawi, selain disajikan pada peringatan maulid Nabi, nasi kebuli dihidangkan di acara-acara tradisi mereka.

Pada tahun 1960-an, nasi kebuli tidak hanya disajikan di acara formal, namun juga mulai dijajakan di pasar. Di Condet, masih banyak yang menjajakan nasi kebuli Betawi. Maklum kawasan ini kantong peranakan Hadramaut Betawi terbesar. Beberapa warung yang terkenal di sana antara lain RM Puas, Sate Tegal Abu Salim, Warung Sewun, dan Restoran Al-Mulaka.

Di luar Condet, hanya ada beberapa warung nasi kebuli Betawi, seperti RM Layla di Jalan Kampung Melayu Besar Nomor 70, Jakarta Selatan; Nasi Kebuli Ibu Hanna di Jalan KH Abdullah Syafei Nomor 31, Jakarta Selatan; Restoran Sinbad di Petamburan, Jakarta Selatan.***
(ade/berbagai sumber)

Leave a Comment