Ngopi dan Menilik Sejarah di Rumah Roeslan Abdulgani

Surabaya – tak ayal jika lazim dengan sebutan Kota Pahlawan. Tempat di mana menyimpan sejarah, cerita, dan mengingat akan sebuah perjuangan pahlawan di era kemerdekaan. Di sini terdapat salah satu sudut yang unik, tempat ngopi sekaligus dapat belajar kembali akan sejarah, yaitu Rumah Sejarah Roeslan Abdulgani yang kini dijadikan tempat berkumpulnya kawula muda, warga Surabaya maupun luar kota, sampai turis mancanegara di sore hari.

 

WOS (Warung Omah Sejarah) dengan bangunan sederhana termasuk dalam kawasan cagar budaya yang berlokasi di Plampitan dan mengundang banyak pelanggan. Aksesnya menuju gang kecil dan berada di antara deretan rumah-rumah tua Surabaya. Seperti bangunan-bangunan rumah di kanan kirinya yang masih berasitektur gaya rumah Belanda jaman dahulu.

 

Tempat ini awalnya hanya sebuah rumah peninggalan Roeslan Abdul Gani. Namun, lambat laun rumah ini kemudian menyediakan meja dan beberapa kursi untuk para pengunjung yang ingin menyeduh kopi di lokasi. Arsitektur bangunannya yang relatif masih seperti rumah kuno, si penerus tidak merevitalisasi sedikitkpun, tapi hanya membenahi bagian yang sudah rusak. Hal tersebut agar bisa dijadikan sebagai tempat ngopi sekaligus mengenang sejarah akan empunya.  Sejatinya kopi di sini masih seperti pada umumnya, tapi pada secangkir kopi kalian akan mengingat kembali pada era kemerdekaan. Tidak aneh, jika hilir mudik pengunjung selalu ramai.

 

Setiap sudut ruangan terdapat beberapa foto Roeslan Abdulgani yang masih terpajang. Seluruhnya menceritakan kembali akan Ia yang seorang negarawan dan politikus Indonesia sekaligus merupakan menteri luar negri Indonesia pada tahun 1956-1957. Roeslan Abdulgani yang saat itu juga terlibat dalam perang 10 November 1945 di Surabaya.

Laki-laki yang akrab dipanggil Cak Roes memiliki seorang teman bernama Mbah Syafi’I, ia seorang sejarawan berusia 80 tahun menempati rumah Cak Roes bersama keluarganya. Jika berkunjung ke sini, jangan malu bertanya kepadanya atau Pak Djarot menantu Cak Roes, mereka akan bercerita banyak tentangnya secara detail. Oleh sebab itu, ngopi di WOS akan terasa hidup di era perjuangan.

Rumah yang berhadapan dengan Masjid Plampitan itu juga banyak dikunjungi kolektor dari berbagai kota. Mereka mengincar barang peninggalan dari WOS. Beberapa barang yang pernah memikat hati mereka adalah jam lonceng kecil. Namun, Pak Djarot sang menantu tidak melepas barang berharga satupun. Di sini bukan perkara mahal atau tidaknya barang yang ingin dibeli, tapi cerita di balik barang yang ada di WOS memiliki nilai sejarah.

Begitulah, WOS milik Cak Roeslan. Rumah sejarah yang menjual kopi sekaligus warung kopi bagi wisatawan yang singgah ke Surabaya.

@inay


Leave A Reply

Please Login to Leave a Reply