Perang Api (Terteran) Perang Heroik Melawan Roh Jahat yang Mengganggu Warga Desa Jasri Karangasem Bali

Bali merupakan salah satu daerah yang sukses meng uri-uri kebudayaan, termasuk Kabupaten Karangasem, salah satu adalah “Perang Api” (Terteran) di Desa Jasri (Kec. Karangasem).

“Perang Api” atau yang disebut dengan Terteran oleh masyarakat di Desa Jasri, Kelurahan Subagan, Kec./Kab. Karangasem, sekitar 4 km dari kota Amlapura menuju. “Perang api” atau  Terteran sama artinya dengan lempar-lemparan.

Tradisi Perang Api atau Terteran digelar setiap dua tahun sekali pada tahun bilangan genap, terkait dengan digelarnya upacara desa Aci Muu-Muu yang diselenggarakan setiap Pengerupukan hari TilemKasanga, sehari sebelum hari Nyepi. Perang Api (Terteran) merupakan perang Heroik melawan roh Jahat yang menganggu warga desa Jasri Karangasem Bali

 

sumber gambar: instagram by @yan.wira.armb

Perang Api atau Tanteran, dimulai Saat sandikala, persiapan Terteran mulai dipersiapkan.  Diawali sekitar 50 orang laki-laki tua-muda dari para jero mangku, prajuru desa dengan pengikut lainnya, dengan mengenakan kain putih serta kepala terikat daun enau berangkat berjalan kaki menuju Pantai Jasri sekitar 500 meter di sebelah selatan desa untuk melarung caru. Sekembalinya mereka dari melarung caru ke laut malam sudah menyungkup bumi. Tak ada bersitan lampu penerang di jalan maupun rumah. Begitu mulai memasuki perempatan jalan tepat di patung salak, mereka pembawa caru dihadang serta diter (dilempari) bobok (obor) oleh puluhan orang warga desa.

 

sumber gambar: instagram by @ardiyancs

Lemparan bobok itu dilakukan di tiga titik lokasi disepanjang jalan dari pantai menuju Pura Bale Agung. Pembawa caru yang disebut dengan Wong Bedolot itu, tidak boleh melawan, hanya menangkis saja dengan obor yang mereka bawa, apabila obor yang dipakai melempar itu habis, maka Wong Bedolot sudah lepas dari cengkeraman lemparan, dan terus lari bergegas-gegas menuju arah Pura Bale Agung.

Maksud melempar dengan bobok, bahwa sekembalinya pembawa caru dan pengiringnya dari pantai diperkirakan masih diikuti oleh sejumlah roh jahat yang dapat mengganggu ketentraman lingkungan, karena itu ia harus dinetralisir dan tidak boleh masuk ke wilayah desa, sehingga alam lingkungan desa menjadi tentram.

sumber gambar: instagram by @menggalih

Suasana malam itu betul-betul kelam dan tegang, tanpa seberkas sinar lampu di rumah penduduk. Yang terlihat hanyalah pancaran sinar obor di kegelapan malam.

Setelah para pembawa caru dan pengiringnya sampai ke Pura Bale Agung, malam  sekitar jam 07.00 Perang Api baru dimulai ”perang tanding” Terteran massal. Perang Api atau Terteran digelar di sepanjang jalan raya umum tepatnya di muka Balai Masyarakat Jasri.

”Medan perang” yang boleh dijelajahi kedua kelompok berhadap-hadapan arah utara-selatan, itu terpisah oleh batas wilayah kelompok, berupa bentangan daun enau yang diikatkan di dua buah penjor yang dipancangkan di sebelah barat dan timur jalan raya.

Bobok (obor) yang dipakai ngeter (melempar) itu, terbuat dari seikat danyuh (daun kelapa kering) yang berukuran sekitar 80 cm. Di tengah cekalan daun kelapa itu, terdapat sebatang kayu kecil berukuran seperempat dari panjangnya obor. Hal itu dimaksudkan agar lemparan obornya lebih jauh, cepat, keras dan helaian daun nyiur tidak lepas terurai. Para pelaku perangnya terdiri dari; laki-laki tua maupun muda, bertelanjang dada.

 

sumber gambar: instagram by @menggalih

Perang Api ditandai dengan ditiupnya peluit oleh petugas Perang Api / Terteran, para pelaku perang silih berganti menyerang, obor berseliweran menyerang lawan dari atas maupun bawah, bahkan sampai membentur tubuh teman sendiri. Semburan api yang terlempar sangat indah, seperti kunang-kunang dikegelapan malam.

Pasukan Perang Api atau Terteran,  bersemangat sekali melakukan peperangan keringat bercucuran membasahi badannya. Meski luka bakar megenai tubuh mereka, rasa senang mengalahkan rasa perih dan sakit. Saat mereka memegang obor mereka hanya merasakan gejola heroik dan melupakan semua rasa sakit dan luka.

Perang Api atau Terteran memakan waktu sekitar 1 jam, berlangsung sampai tiga babak. Berakhirnya babak ke babak ditandai dengan bunyi peluit oleh petugas. Peperangan benar-benar berakhir apabila  bara obor (di danyuh) telah habis.

Atraksi ”Perang Api” massal Terteran bukan hanya digelar saat malam Pengerupukan saja, berlanjut dua hari kemudian, pada ngembak geni (sehari setelah Nyepi, Perang Api atau”perang tanding” Terteran digelar di tempat yang sama. Dengan tujuan memberikan kesempatan bagi penonton atau warga desa Jasri yang belum sempat menyaksikan dan ikut ”perang tanding” Terteran. Perang Api bisa di saksikan setiap bulan Maret di tahun genap. 


Leave A Reply

Please Login to Leave a Reply