Pesona Hutan Bambu di Desa Wisata Sumbermujur

Lahan subur yang dimiliki Lumajang memberi kontribusi signifikan pada perkembangan industri wisata di beberapa daerah. Selain aset wisata Kebun Teh Kertowono, Puncak B29 yang eksotis, disini juga terdapat desa yang dijadikan sebagai ekowisata. Kabupaten Lumajang juga menyimpan aset istimewa, salah satunya Desa Wisata Sumbermujur, salah satu desa yang berlokasi di Jalan Kalpataru Lumajang.  Kini desa Sumbermujur kian berkembang karena memiliki daya tarik sebagai berikut;

Desa Wisata Sumbermujur memang sederhana, namun siapa sangka ia memiliki daya tarik yang mengundang wisatawan di antaranya; memiliki hutan bambu yang  mempesona dengan luas sekitar tiga hektar,  jadi tidak perlu datang jauh-jauh ke Jepang untuk melihat hutan bambu disana. Faktanya disini juga memiliki macam-macam jenis bambu, mulai dari bambu petung sampai ke bambu muda yang dibuat sayur pun ada. Hutan bambu Sumbermujur sudah ada sejak zaman Belanda,  mereka lebih menjadikannya sebagai sumber rebung. (Rebung: Bambu yang masih muda biasa dimasak dijadikan sayur).

Konon pada masa lampau, hutan bambu tersebut dijadikan sumber pencaharian orang yang utama, dan sempat disayangkan karena banyaknya orang yang bermodal menebang tanpa memikirkan bagaimana ekosistemnya kelak. Oleh sebab itu, sekitar tahun 90-an hutan tersebut dialihfungsikan kepertanian Desa Tumpangsari. Bambu-bambu ditebang, namun dengan cara penebangan yang tepat seperti reboisasi, kemudian tebang pilih, dan lain sebagainya.  Bambu tersebut dijadikan beberapa macam kerajinan, dengan begitu dapat menjaga ekosistem alam agar tidak punah.

Selain hutan bambu yang menjadi salah satu point of interest wisatawan,  ternyata sambutan beberapa monyet membuat banyak wisatawan kaget, takut, bahkan ada juga yang merasa gemas. Semua monyet di  Desa Wisata Sumbermujur ini hidup sesekali tergantung pada makanan yang diberikan manusia atau si pawang monyet. Siang hari, biasanya monyet-monyet ini akan keluar dari hutan bambu, sesekali memasuki desa, bermain sambil mencari makan dan kembali keperaduannya. Meski begitu, pengunjung dapat bermurah hati memberikan monyet-monyet tersebut makanan.

Pokdarwis dari Desa Wisata Sumbermujur juga menerapkan sejumlah ketentuan yang harus dipatuhi pengunjung. Pertama, hindari memperlihatkan benda-benda unik yang membuat monyet terpancing, seperti tali kamera. Kedua, jangan terlalu sering memberi makan, karena membuatnya semakin ketagihan, dan akan menjadi rebutan dengan teman-temannya.

Selain pesona hutan bambu, ratusan kera, ternyata masih terdapat 15.000-an kalong berukuran besar yang hidup di ujung bambu-bambu yang menjulang. Kalong, kelelawar, bahkan ada juga yang menyebutnya "kampret" binatang malam tersebut justru menjadi incaran wisatawan untuk melihatnya ketika si pawang membangunkannya, kemudian terbang sebentar, lalu kembali keperaduannya untuk tidur kembali.

Selain tiga hal tersebut, ternyata masih ada yang menakjubkan, pasalnya disini juga terdapat sumber mata air lazim disebut Mata Air Sumber Deling yang sungguh jernih dan dijadikan untuk menghidupi beberapa desa. Bagaimana? Cukup menarik, bukan? Dengan membayar 2000-3000 rupiah  wisatawan dapat menyaksikan kemolekan Desa Wisata Sumbermujur.

@inay


Leave A Reply

Please Login to Leave a Reply