Praje Besunat Suku Sasak, Tradisi Khitan di Lombok

Singgah ke Lombok bukan selalu bicara perihal pantai yang biru, biota laut, diving, snorkeling, ataupun Rinjani yang gagah. Di antara semuanya ada yang perlu dipelajari, yaitu Suku Sasak yang mendiami Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Seperti halnya dengan suku-suku pada umumnya, Suku Sasak pun menarik, dari segi bahasa, budaya, sampai ke tradisi yang masih dilakukan secara turun-temurun. Seperti halnya Praje Besunat dari Suku Sasak atau tradisi khitan Suku Sasak.

Sebenarnya banyak sekali tradisi adat istiadat suku sasak yang mulai ditinggalkan penduduk asli Sasak sendiri, salah satunya adalah Praje.  Konon acara atau ritual Praje tersebut sudah ada sejak enam abad yang lalu. Praje merupakan salah satu tradisi Beponggoq (Ponggoq: Bahasa Sasak = dipikul) baik pada acara Nyongkolan (nikahan) maupun acara Khitanan.

Jika di Jawa biasanya anak yang setelah dikhitan duduk di atas pelaminan bak pengantin yang merayakan kebahagiaan, kemudian bersalaman dengan beberapa tamu undangan yang datang. Sedikit berbeda dengan Suku Sasak dari Lombok, anak yang sebelum dikhitan menggunakan pakaian pengantin kecil, di kepalanya dipasang capuq atau accessories kepala Suku Sasak seperti udeng yang dikenakan orang Bali. Kemudian duduk di atas kuda kayu, lalu diarak oleh beberapa warga keliling kampung dengan cara memikul kuda kayu. Tak ayal jika jalanan menjadi ramai dan macet karena prosesi arak-arakan. Selain itu, yang mengarak pun sesekali mendendangkan musik tradisional yaitu Gendang Beleq asli Suku Sasak.  Dan sesekali mereka berjoget agar terdengar riuh.

Praje dan Gendang Beleq biasanya disewa harganya mencapai jutaan rupiah dalam satu kali pelaksanaan ritual. Gendang Beleq sendiri artinya ‘gendang besar’ karena memiliki ukuran yang besar melebihi ukuran normalnya.  Gendang Beleq awalnya diciptakan untuk mengiringi dan menghibur para prajurit menuju medan perang dan menyambut kedatangan dari medan perang, namun beralihnya perkembangan zaman Gendang Beleq digunakan untuk menyambut kedatangan tamu pada acara-acara tertentu, seperti halnya pada Praje Besunat.

Memang terlihat seperti sunat masal, karena yang diarak terkadang bukan hanya satu anak, namun tiga sampai tujuh anak. Dan beberapa dari mereka masih mempunyai aliran darah keluarga. Konon, tujuan arak-arakan tersebut agar anak yang dikhitan tidak terlalu tegang menjelang prosesi khitan berlangsung. Biasanya Praje Besunat dilaksanakan bersamaan pada perayaan Maulid Nabi.

@inay


Leave A Reply

Please Login to Leave a Reply