Ritual Siraman Sedudo Nganjuk Jawa Timur

Terletak 1.438 meter di atas permukaan air laut, air terjun Sedudo tidak hanya menawarkan kecantikan alam dalam balutan kesejukan udara segar, namun juga mempunyai mitos yang kuat tertanam dalam benak masyarakat sekitar. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, siapa pun yang mandi di bawah air terjun setinggi 105 meter ini bisa mendapatkan berkah keselamatan, awet muda, kecantikan, disembuhkan dari sakit yang dideritanya, dan naik pangkat.

Setiap bulan Sura, dalam kalender penanggalan Jawa, ribuan warga baik dari sekitar Nganjuk dan luar daerah berdatangan dan mandi di bawah air terjun Sedudo. Acara mandi bersama tersebut dikemas dalam sebuah ritual Siraman Sedudo yang dilaksanakan satu tahun sekali.

Ritual siraman Sedudo kali ini berlangsung meriah dan turut dihadiri pejabat pemerintah daerah, kemasan tari Bedhayan Amek Tirta semakin menambah kesakralan prosesi ini, tari itu sendiri merupakan penggambaran rasa wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang dibawakan oleh sepuluh penari perempuan. 

 

 

 

 

Sedangkan di belakangnya siap sepuluh gadis berambut panjang, siap dengan klentingnya dan lima pemuda yang siap mengambil air dari grojokan air terjun Sedudo. Sebelum pertunjukan tari dimulai, seorang penunjuk jalan (cucuk lampah) telah memandu menuju air terjun Sedudo, di belakang berderet lima sesepuh membawa dupa dan sesaji disusul para putri domas, sepuluh penari Bedhayan, dan paling belakang terdiri dari sepuluh gadis berambut panjang dan lima pemuda berkostum ksatria.

Wisata Andalan Kabupaten Nganjuk

Dengan potensinya sebagai obyek wisata air dan wisata ritual yang sudah berlangsung turun-temurun, Pemerintah Kabupaten Nganjuk menempatkan air terjun Sedudo sebagai ikon dan primadona di wilayah itu.

Air terjun Sedudo menjadi obyek wisata andalan daerah yang memberi pemasukan siginifikan bagi pendapatan asli daerah (PAD). Selain itu, banyak masyarakat sekitar Sedudo juga mengambil manfaat ekonomi dengan menjadi pedagang makanan, souvenir, ataupun tukang ojek.

Wisatawan yang hendak bertandang ke lokasi wisata air terjun Sedudo bisa menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Dari alun-alun Kota Nganjuk, jarak tempuh menuju lokasi air terjun sekitar 30 kilometer arah selatan. Tawaran menikmati dinginnya air terjun Sedudo, diselingi tiupan angin pegunungan yang menyejukkan, pasti membuat pengunjung betah berlama-lama mengakrabi suasana disekitar lereng Gunung Wilis.

Namun mengingat lokasi air terjun di lereng gunung, wisatawan tetap harus berhati-hati jika cuaca buruk. Jika musim penghujan tiba, hujan deras kerap disertai angin kencang bisa menyebabkan longsor di jalan menuju lokasi air terjun dengan kanan-kiri tebing dan jurang yang curam.

Sejak Majapahit

Obyek wisata air terjun Sedudo, memiliki kisah sejarah yang panjang. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, di masa Kerajaan Majapahit air terjun ini sering digunakan untuk mencuci senjata milik raja dan patung dalam upacara Prana Prasthista.

Konon, Mahapatih Gajah Mada juga menggunakan lokasi air terjun untuk menggembleng prajurit-prajurit andalannya. Hancurnya Majapahit dan beralih ke masa pemerintahan Islam di Demak Bintoro, air terjun Sedudo dikenal sebagai kawasan pertapaan Ki Ageng Ngaliman, penyebar agama Islam di wilayah Nganjuk.

Oleh sebab itu dalam perkembangannya, setiap bulan Sura dalam kelender penanggalan Jawa, selalu diadakan ritual mandi Sedudo atau siraman Sedudo yang diawali prosesi tarian oleh penari berambut panjang yang masih perawan alias dalam keadaan suci.

Ritual Siraman Sedudo sudah menjadi kalender event wisata budaya Jawa Timur. Selain bulan Sura, pada malam Jumat Legi juga banyak pengunjung yang datang dan mandi di Sedudo. Pulangnya biasanya para wisatawan membawa air Sedudo untuk dibagikan kepada keluarga di rumah.

Ritual 1 Suro

Setiap malam tahun baru Hijriah, 1 Muharam atau malam 1 Sura kawasan air terjun Sedudo dipadati oleh ribuan orang. Wisatawan tidak hanya datang dari sejumlah daerah di sekitar kabupaten Nganjuk, tapi juga lintas propinsi atau luar pulau Jawa.

Mereka berendam atau sekedar mandi di bawah guyuran air terjun Sedudo untuk berharap berkah pergantian tahun. Ritual itu juga bermakna membersihkan kotoran-kotoran rohani setahun terakhir untuk kembali suci pada tahun baru Hijriah.

Untuk menyambut wisatawan yang berkunjung, pemerintah daerah setempat telah membangun kawasan obyek wisata air terjun Sedudo dengan fasilitas yang relatif memadai. Di lokasi ini tersedia area parkir, warung makan, arena permainan, dan kios yang menjual aneka suvenir, khususnya kaus bergambar air terjun Sedudo.

Untuk kuliner yang menjadi ciri khas di sini, pengunjung bisa menikmati nasi jagung dengan lauk urap-urap sayur dan ikan asin yang dibungkus daun pisang. Satu porsi nasi jagung di Sedudo dijual dengan harga sangat murah Rp 3.000.

 (ec)


Leave A Reply

Please Login to Leave a Reply