Saiyyang Pattuqduq, Kuda Menari di Tanah Mandar



Sudah bukan rahasia umum lagi jika Indonesia memiliki keanekaragaman yang unik dan sarat makna mendalam yang hingga kini masih dilakukan. Seperti acara Saiyyang Pattuqduq, kuda menari di Tanah Mandar, Sulawesi Barat sebagai simbol ekspreksi kegembiraan dalam acara Khatamul Quran.

Dalam bahasa Mandar, Saiyyang artinya kuda dan pattuqdud artinya penari sehingga bila digabungkan menjadi kuda yang menari, ahli memainkan gerakan kaki dan kepala.

Tarian ini biasanya dimainkan pada acara selametan anak yang telah khatam Al Qur’an, anak tersebut menunggang kuda dan diarak keliling kampung. Pesta adat Sayyang Pattudu lebih biasanya diadakan di Desa Karama, kelurahan Tinambung,Kecamatan Tinambung, desa Pambusuang dan Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

Dalam pagelaran budaya ini, seekor kuda akan di hias sedemikian rupa layaknya kuda tunggangan seorang raja. Sementara untuk penunggangnya adalah warga suku Mandar yang sudah tamat dalam membaca Alquran, dihiasi memakai baju adat (baju 'bodo') lengkap dengan aksesorisnya serta dipayungi payung kehormatan kerajaan yang disebut 'Lallang Totamma'.

Pada prosesnya, kuda yang telah di hiasi dan ditunggangi warga suku yang telah tamat membaca Al-qur'an akan menari seiring suara rebana yang di tabuh penggiring acara. Keunikan acara ini, apabila suara rebana berhenti mengalun, maka secara otomatis sang kuda akan berhenti menari. Kuda ini seakan-akan tunduk dan patuh pada alunan suara rebana penggiringnya.

Kuda yang menjadi pengisi acara budaya adat ini tidak diambil dari kuda sembarangan. kuda ini merupakan kuda pilihan (khusus) yang telah dilatih sejak berusia muda. 

Untuk mulai menari, kuda merujuk pada pawang yang telah memberi kode tangan pada tali kekang yang berada di mulut kuda. Ketika sang pawang menarik tali tersebut kemudian melakukan pukulan-pukulan kecil pada badan kuda, maka kuda pun telah terlatik sehingga mengingat gerakan saat latihan.

Ketika sang pawang bertindak demikian maka kuda pun harus menggerakkan kaki, naik dan turun. Kepala harus digoyangkan seirama dengan gerakan kaki.

Beberapa kuda juga memiliki beragam gerakan, misalkan gerakan kaki menyilang sehingga kelihatan indah. Kuda juga bis menukik ata melompat tinggi. Namun terdapat dua gerakan utama dalam tarian kuda di Mandar yaitu kepala yang mendongak dan dua kaki depan dihentakkan secara bergantian.

Di atas kuda duduk seorang pissawe (pendamping) yang mengenakan pakaian adat mandar lengkap.   Lazimnya yang menjadi pissawe adalah perempuan. Tak mudah menjadi seorang pissawe karena butuh keseimbangan tubuh yang bagus.

Pasalnya, saat duduk di atas kuda, pissawe harus duduk dengan satu kaki ditekuk ke belakang dengan lutut mengarah ke depan dan satu kaki lainnya terlipat dengan lutut mengarah ke atas dan telapak kaki berpijak pada badan kuda.

Di belakang pissawe duduk anak yang khatam mengaji atau yang disebut to tamma’tadi Yang perempuan mengenakan pakaian muslim dan penutup kepala, sedangkan anak laki-laki mengenakan baju gamis yang dilengkapi penutup kepala layaknya digunakan orang di Timur Tengah. Di samping kiri dan kanan kuda, empat orang memegang kuda. Mereka juga disebut pissarung.

 

Selain itu, ada pula seorang pakkaling da’ddaq`berdiri di bagian depan, tepat di sebelah kepala kuda. Pakkaling da’ddaq` adalah orang yang bertugas membaca pantun dalam bahasa mandar sepanjang arak-arakan dilakukan.

Biasanya pantun yang diucapkan berisi kata atau kalimat yang lucu dan selalu disambut penonton dengan sahutan, teriakan, celetukan, atau tepukan tangan.

Kehadirannya lebih merupakan motivasi bahwa ketika anak tamat mengaji (sudah lancar membaca Al Quran dengan baik dan benar) maka kelak iak akan diarak keliling kampung dengan mengendarai kuda yang pintar menari (saeyyang pattuqduq).

Artikel lainnya:

1. Lawan Musim Kemarau Dengan Boneka Cingcowong

2. Pasola, Ritual Berkuda Ksatria Sumba

3. 7 Fakta Mengejutkan Tentang Candi Borobudur

Leave a Comment