Saksi kebesaran Kerajaan Majapahit, Gapura Wringin Lawang

Siapa sangka, Majapahit yang merupakan salah satu kerajaan terbesar didalam sejarah Indonesia, memiliki beberapa peninggalan yang kini menjadi tempat wisata, salah satunya Gapura Wringin Lawang yang berada dalam kawasan Situs Trowulan Mojokerto. Mengunjunginya akan membuat kalian kembali ke ingatan masa sekolah dasar tentang pelajaran sejarah kerajaan di Indonesia.

Tentunya candi-candi yang ada di kompleks Trowulan tidak semegah candi-candi yang terdapat di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Jangan terlalu berharap akan menemui susunan batu andesit megah seperti Candi Borobudur yang dibangun abad ke-8 Masehi pada masa Dinasti Syailendra, sama halnya pada Gapura Wringin Lawang.

Gapura Wringin Lawang adalah sebuah gerbang yang terbuat dari batu bata merah dengan luas dasar 13 x 11 meter dan tingginya sekitar 15,5 meter. Cukup tinggi gerbang tersebut, jika untuk berswafoto, kalian hanya terlihat kecil dengan diapit gapura yang menjulang tinggi. Gapura Wringin Lawang termasuk tipe ‘Gapura Belah’ atau ‘Bentar’, yaitu gapura yang tidak memiliki atap. Gapura seperti ini biasanya berfungsi sebagai gerbang luar dari suatu kompleks candi atau kompleks bangunan lainnya. Sesuai dengan bentuknya, Gapura Wringin Lawang tentunya mempunyai fungsi yang sama dengan fungsi candi bentara. Namun, pada tulisan Raffles History of Java I, 1815, Gapura Wringin Lawang disebut dengan nama “Gapura Jati Paser”, sementara berdasar cerita Knebel dalam tulisannya tahun 1907 menyebutnya sebagai Gapura Wringin Lawang.

Gerbang tersebut dibangun pada masa Kerajaan Majapahit abad ke-14, Pemugaran Gapura Wringin Lawang dilaksanakan sejak tahun 1991 dan selesai tahun 1995 yang terletak di Jatipasar, Mojokerto, tidak jauh ke selatan dari jalan utama Jatipasar yang merupakan salah satu situs Trowulan. Juga dinamai Wringin Lawang sendiri, karena di dekatnya terlihat tumbuh sepasang Wringin dalam bahasa Jawa. Dan bentuknya seperti Lawang atau pintu dalam bahasa Jawa. Konon, gapura yang dibuat tanpa atap dan menghadap ke arah Timur tersebut diduga akses jalan masuk menuju ke kediaman Patih Gajah Mada.

Di kawasan Gapura Wringin Lawang saat belum dipugar adalah tempat pemakaman umum penduduk dan tanaman pohon beringin yang tumbuh disekitarnya. Setelah pemugaran membuat pemakanan tersebut dipindah dan pohon beringin ditebangi. Dan kini lazim digunakan masyarakat sekitar sebagai tempat untuk mencari berkah seperti selamatan dengan sesaji atau ritual-ritual lainnya, yakni Ritual Suro yang dilakukan pada 1 (satu) Suro dalam tradisi Jawa. Kini hanya dengan membayar parkir seharga 3000 rupiah, wisatawan dapat menikmatinya untuk berswafoto atau belajar akan sejarahnya.

@inay


Leave A Reply

Please Login to Leave a Reply