Secuil Kisah Asal-usul Gado-gado Betawi



Suka menyantap gado-gado? Tahukah kamu darimana gado-gado berasal?

Sepintas gado-gado mirip makanan dari daerah lain, seperti lotek (Jawa Barat) atau pecel (Jawa Timur). Bedanya, bumbu kacang dalam gado-gado tidak menggunakan kencur seperti halnya lotek dan pecel. Selain itu, tidak seperti pecel yang umumnya hanya sayuran, gado-gado menggunakan telur, tahu, tempe serta lontong.

Gado-gado dipercaya sebagai kuliner khas Betawi alias Jakarta. Penemu sesungguhnya adalah masyarakat Kampung Tugu yang aslinya keturunan Portugis dari daerah Bangladesh, Sri Lanka dan India. Pada abad ke-17, mereka diboyong VOC ke Batavia dari koloni-koloni bekas Portugis untuk dijadikan budak.

Mereka membangun kampung sendiri serta kemudian dimerdekakan dan disebut kaum mardijkers yang berarti orang merdeka. Di kampung yang kemudian disebut Kampung Tugu, berasal dari kata Por-tugu-ese atau orang-orang Portugal, mereka membangun kebudayaan dan tradisi sendiri.

Salah satunya tradisi kuliner. Nah, gado-gado lahir dari tradisi orang-orang Kampung Tugu. Hal itu antara lain diungkap Windo Adi di buku Batavia 1740: Menyisir Budaya Betawi (2010).

Mengutip warga Kampung Tugu Arthur Michiels, yang juga juru bicra Ikatan Keluarga Besar Toegoe, gado-gado berasal dari bahasa Portugis, gadu, yang berarti makanan mirip yang disajikan untuk ternak karena dicampur-campur dan diaduk. Versi lain mengatakan, gado-gado diciptakan warga keturunan Tionghoa yang tinggal di Betawi sebagai variasi dari pecel Jawa.

Berbagai Versi Lain

Ada juga yang beranggapan gado-gado berasal dari cara mengkonsumsinya, yakni "digado", dimakan tanpa nasi alias dimakan sebagaimana adanya saja.

Sekitar tahun 1950-an ada lagu yang sangat populer berjudul "Gado-Gado Betawi". Lagu tersebut dipopulerkan oleh Ivo Nilakreshna. Penggalan liriknya seperti ini: "Gado-gadonya, Bung, dari Jakarta/ Satu bungkusnya, Bung, lima rupiah." Pada masa itu, gado-gado telah makin merakyat sebagai makanan khas Betawi.

Gado-gado memang amat mudah ditemukan di berbagai penjuru kota Jakarta. Rasa gurih dari bumbu kacangnya cukup merakyat, sehingga disukai setiap lapisan masyarakat. Wajar saja jika kemudian hidangan ini menyebar ke banyak daerah di Indonesia. Bahkan saking populernya, banyak orang asing mengenalnya sebagai salah satu 'carte du jour' atau daftar kuliner yang wajib dicoba ketika berkunjung ke Indonesia.

Meski demikian, setiap penikmat gado-gado biasanya punya referensi sendiri mengenai lokasi favorit, baik dari segi cita rasa maupun suasananya.

Sebenarnya, untuk sekedar menikmati gado-gado, banyak warung pinggir jalan dan penjaja keliling dengan gerobak yang mudah ditemui di jalan-jalan kota Jakarta. Tetapi jika kamu menginginkan sesuatu yang berbeda, terdapat dua tempat makan yang populer karena gado-gadonya. Keduanya dikenal berasal dari kawasan yang dulu dikenal dengan nama 'boplo' (berasal dari bahasa Belanda 'bouw-ploeg', regu pekerja bangunan) di dekat Stasiun Gondangdia.

Kedua tempat itu adalah Gado-Gado Boplo dan 'Gado-Gado Cemara'. Keistimewaan 'Gado-Gado Boplo adalah racikan bumbu kacang yang menggunakan campuran kacang tanah dan kacang mede. Sedangkan Gado-Gado Cemara dikenal kesegaran rebusan sayurannya dan racikan bumbu kacangnya yang tetap terjaga.** (ade/berbagai sumber)

Leave a Comment