Sejarah Cabai Tiba di Tomohon

Ada dua sumber makanan bagi suku Minahasa, etnis terbesar di Sulawesi Utara. Dari hutan pedalaman, mereka mendapatkan sayuran, satwa liar, dan ikan air tawar. Dari pesisir, ada ikan laut, kerang dan udang. Hampir semua makanan khas Minahasa mengandung cabai yang dalam bahasa setempat disebut rica. Itu sebabnya, meski berbeda bahan rasa makanan Minahasa sama-sama menyengat karena lumuran rica.

Bagi orang Minahasa, rica sama pentingnya dengan garam. Namun siapa sangka cabai bukanlah bahan makanan asli setempat. Orang Eropa justru yang berjasa mengenalkan orang Minahasa dengan cabai. Kok, bisa? Bagaimana ceritanya?

Majalah Tempo edisi khusus kuliner Nusantara yang terbit Desember 2014 menggambarkan kebun cabai yang menghampar di lereng curam kaki Gunung Tatawiran, anak Gunung Lokon, di Kokoken, Kelurahan Tara-Tara III, Tomohon, Sulawesi Utara. Lebih dari dua ribu perdu cabai rawit setinggi paha menghampar. Cabai mudah tumbuh di wilayah setinggi 600 meter dari permukaan laut itu. Hanya dengan satu liter bibit, petani bisa menanam cabai di lahan seluas setengah hektare tanpa pupuk atau karbit. “Menghirup aromanya saja air mata saya menetes,” tulis wartawan Tempo.

cabai

Dari Amerika ke Eropa Lalu ke Nusantara 

Yang pertama mengembangkan tanaman cabai bukanlah orang Sulawesi Utara. Dari catatan sejarah, cabai didomestikasi sekitar 7800 SM. Kala itu penduduk asli Meksiko mulai menanam cabai, yang sebelumnya merupakan tanaman liar. Hingga ribuan tahun kemudian cabai hanya dikenal penduduk setempat sampai tanaman pedas ini memikat Christopher Colombus yang menemukan benua Amerika. Tahun 1493 untuk pertama kalinya cabai didatangkan dari dunia baru ke dunia lama, dari Amerika ke Eropa.

Dari situ cabai lalu ditanam di biara-biara. Percobaan kuliner para rahib menemukan cabai bisa menggantikan lada hitam sebagai pencipta rasa pedas. Ini penemuan penting. Lada rempah yang teramat mahal dan bahkan dijadikan alat tukar resmi di sejumlah negara. Saat orang Portugis dan Spanyol berlayar lebih jauh ke timur, mereka tak hanya mencari rempah-rempah membawa serta cabai untuk bisa ditanam di tanah jajahan baru. Para pelaut beserta penyebar agama Nasrani berharap, suatu saat cabai bisa menggantikan lada dan mereka tak lagi bergantung pada penguasa di Maluku Utara yang kaya rempah.

Portugis dan Spanyol tiba lebih dulu di wilayah yang kini kita kenal sebagai Sulawesi Utara pada abad ke-16, mendahului kesultanan Ternate yang Islam. Portugis membaptis raja Manado dan rakyatnya, sedangkan Spanyol merangsek lebih dalam ke pedalaman Minahasa. Saat itulah mereka mengenalkan cabai ke orang Minahasa yang dibawa dari Amerika Latin.

Perang Spanyol lawan Belanda

Warisan Spanyol

Pelaut Eropa yang bertandang ke Nusantara tak cuma Spanyol dan Portugis. Di abad ke-17 Belanda juga bermain di sekitar Maluku dan Sulawesi. Pada 1644, VOC Belanda dan Ternate bergabung menyerang Spanyol, mendesak mereka keluar dari Maluku dan Sulawesi Utara. Mereka kembali ke pos mereka di Filipina. Orang Minahasa lantas pindah keyakinan dari Katolik ke Kristen yang dibawa Belanda. Salah satu warisan yang tertinggal dari Spanyol adalah cabai.

Rasa pedas cabai rupanya cocok bagi orang Minahasa yang merupakan petani gunung di daratan yang sejuk. Bahan makanan “impor” itu lantas bercampur dengan rempah yang “panas” dari pedalaman, seperti cengkeh, pala dan jahe, serta bawang merah, serai, balakama (kemangi), daun kunyit, dan daun lemon (jeruk).

Dari situ orang Minahasa mencipta makanan khas yang serba ber-cabai alias rica-rica. Ada berbagai sebutan bagi racikan bumbu yang sama. Jika dimasak di penggorengan atau kuali disebut garo rica. Sedangkan rica-rica sebutan jika lauknya dibakar. Rica-rica bisa dipakai untuk memasak ikan, daging, dan ayam. (ade)


Leave A Reply

Please Login to Leave a Reply