Sensasi Naik Kereta Tua di Ambarawa

Umumnya, orang hanya mengenal sebutan kereta api untuk kendaraan yang bergerak di atas rel. Bermesin diesel maupun bertenaga listrik, namanya sama saja, kereta api. Padahal, nama kereta api sesungguhnya berasal karena mesinnya digerakkan oleh tenaga uap yang dihasilkan dari ketel berisi air yang dipanaskan menggunakan api kayu bakar di dalam tungku lokomotifnya.

Ketika melaju, kereta api macam ini ditandai kepulan asap dari cerobongnya dan lengkingan suara peluit tut... tut... tut...

Kereta api macam itu sekarang sudah tak lagi beroperasi. Namun, kalau ingin merasakan sensasi naik kereta api uap, Anda bisa datng ke Stasiun Willem I di Museum Kereta Api di Ambarawa, Jawa Tengah.

Letak museum ini di belakang terminal bus Ambarawa. Dengan membayar tiket masuk Rp 5 ribu, kita bisa melihat koleksi 24 lokomotif kuno buatan tahun 1891-1966, koleksi alat komunikasi kuno, juga alat-alat petugas sinyal kereta api. Kalau ingin merasakan sensasi naik kereta api atau sepur tua, dulu ada kereta api bertenaga uap yang masih berfungsi. Lokomotifnya buatan tahun 1902 di pabrik Emil Kessler, Jerman.

Lokomotif tua itu bertenaga uap air. Tanki airnya menampung 3 ribu liter air. Untuk merebus airnya agar bisa menghasilkan uap dibutuhkan 2,8 ton kayu bakar. Kayu bakarnya harus kayu jati, karena dapat menghasilkan panas yang baik. Dengan panasmamadai, tekanan yang dihasilkan uap bisa konstan 12 atmosfer. Tarifnya mahal. Pada tahun 2007, sebagaimana dicatat Intisari, biaya yang dibebankan ke penumpang Rp 3,2 juta. Kecepatan kereta api ini 10 kilometer per jam. Lambat memang. Tapi itu sensasinya. Perjalanan melintasi sawah, bukit, dan rumah penduduk.

Kereta Wisata Rp 50 Ribu

Nah, sejak akhir 2014 PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) membuka paket wisata kereta api uap dari Statiun Ambarawa ke Statiun Tuntang di Jawa Tengah. Harga Tiket Kereta Api Uap Wisata Ambarawa-Tuntang ini adalah Rp 50.000,- per orang. Kereta api uap wisata Ambarawa-Tuntang ini menempuh perjalanan sekitar 12 kilometer.

Dengan kecepatan 5 kilometer per jam, wisatawan bisa menikmati pemandangan di sepanjang perjalanan. Selain pemandangan hijaunya persawahan, wisatawan juga bisa melihat panorama Gunugn Ungaran, Gunung Merbabu, dan Danau Rawapening.

Kereta api wisata ini menggunakan lokomotif berbahan bakar solar. Karena jika menggunakan lokomotif uap yang berbahan bakar kayu biaya operasionalnya cukup mahal mencapai Rp 15 juta sekali perjalanan. Kereta wisata ini hanya beroperasi di hari libur dan Minggu saja. (ade/berbagai sumber)


Leave A Reply

Please Login to Leave a Reply