Taman Baca Kesiman Bali, Dari Koleksi Buku Langka Hingga Ruang Alternatif untuk Anak Muda Kreatif



Mau membaca buku-buku alternatif yang tidak bisa kamu temukan di perpustakaan umum atau toko-toko buku? Atau sekedar ingin nongkrong di cafe dengan konsep kebun dan menikmati menu makanan dan minuman yang berbasis bahan baku organik? Taman Baca Kesiman di Jl Sedap Malam 238, Denpasar, Bali berdiri untuk menjawab  kegelisahan minimnya ruang alternatif yang memberikan pilihan bagi kita untuk berhenti sejenak pada hiruk pikuk dunia pariwisata di Bali.

Kamu bisa menemukan buku-buku berat sekelas Das Kapital-nya Karl Marx, Sejarah Tuhan karya Karen Armstrong, Pilihan Tulisan “D.N Aidit” hingga novel terkenal tetralogi Pulau Buru-nya Pramoedya Ananta Toer. Sambil membaca kamu bisa mengambil tempat duduk di dalam ruangan perpustakaan yang nyaman dan berpendingin udara, bisa lesehan di serambi, atau mencari kursi dan meja kosong yang bertebaran di halaman sekitar kebun organik.

“Pendirian taman baca ini untuk berbagi akses buku-buku bagus pada khalayak umum, agar minat baca khusus-nya di Bali semakin meningkat,” kata Robert Hutabarat (43), eksponen aktivis angkatan 1998 yang didapuk menjadi kurator koleksi buku Taman Baca Kesiman. Untuk menarik minat masyarakat datang, pihak pengelola mengadakan diskusi buku rutin, nonton bareng film dokumenter, hingga live musik dari band-band alternatif Bali.

Taman Baca Kesiman didirikan oleh Agung Alit, seorang aktivis dan wirausahawan sosial. Ia adalah pemilik Mitra Bali, sebuah perusahaan perdagangan berkeadilan atau fair trade. Ia mulai membuka Taman Baca Kesiman pada Juli 2014, dengan mengusung sebagian besar buku-buku koleksi pribadinya ke ruang baca publik ini. Luas areal Taman Baca Kesiman berdiri di atas tanah berukuran sekitar 20 meter kali 60 meter yang terdiri dari perkebunan tanaman dan sayuran organik, ruang perpusatakan yang menyatu dengan dapur café, gazebo dan toilet yang terpisah dari bangunan induk.

“Pembaca buku yang serius masih sekitar 5-8 orang per hari, itu dengan ukuran rata-rata per orang membaca 2 jam per hari, sisanya pengunjung yang hanya ingin menikmati suasana kebun dan kafe,” kata Robert. “Pada bulan Februari ini kami akan mengadakan Bulan Pram, untuk memperingati ulang tahun Pramoedya Ananta Toer ke 90 tahun pada 6 Februari 2015,” pungkas Robert. (Arief)

Leave a Comment