Tana Toraja, Wisata Megalitikum Populer di Sulawesi Selatan

Datang ke Toraja, memasukinya bak wisata kuburan, kalau kata orang. Jadi, selain belajar sejarah, kalian juga akan belajar tentang kematian, menghormati, dan mengetahui kasih sayang akan keluarga. Pun belajar akan teladan dan filosofi hidup mereka yang masih berlanjut hingga sekarang. Kini, mayoritas warga Toraja beragama Kristen Protestan.

Disini terdapat Tongkonan yang menjadi tempat tinggal leluhur sebagian masyarakat Toraja, merupakan salah satu yang tertua di masyarakat Toraja dan kini menjadi tujuan wisata populer di Kabupaten Toraja Utara.  Dalam tradisi Toraja, rumah tongkonan merupakan satu kompleks rumah adat, berikut lumbung padi—simbol masyarakat agraris. Tongkonan Kete’ Kesu’ memiliki enam rumah adat dan dua belas lumbung padi. Satu rumah tongkonan dihuni oleh sekeluarga besar. Tongkonan dibangun, lalu diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Semuanya berjajar rapi menghadap utara-selatan. Terdapat juga banyaknya tanduk kerbau yang melambangkan status sosial dalam masyarakat.

Persis di belakang kampung, jika kalian berjalan sedikit ke selatan, maka terdapat jalan setapak yang mengarah pada sebuah tebing kapur. Disekitar kompleks Tongkonan terdapat menhir-menhir yang digunakan untuk upacara kematian. Terdapat tebing karst, di celah-celah tebing terdapat permakaman yang disebut 'Erong' — sejak ratusan tahun silam, dan tradisi tersebut berlangsung hingga saat ini. Semakin tinggi lokasi liang tebing, semakin tinggi pula status sosial keluarga. Sementara, di kaki tebing terdapat beberapa bangunan beratap genting yang ruang dalamnya digunakan untuk permakaman, disebut ‘Patane’.

Di Kete' Kesu' juga terdapat patung replika yang menyerupai orang yang sudah meninggal, akrab disebut ‘Tau tau’. Wajib kalian tahu, patung-patung ini biasanya mengenakan baju yang ia sukai semasa hidupnya. Kini, Kete Kesu makin tersohor, disisi lain juga membuat banyak maling berdatangan. Meskipun sudah sengaja disurukkan ke liang-liang goa, puluhan tau-tau laku jadi sasaran pencuri untuk kemudian dijual di pasar gelap. Karena mereka tahu bahwa budaya Toraja mahal harganya dan jual-beli patung mayat bisa jadi penghasilan yang tak sedikit. Kini ceruk-ceruk yang berisi tau-tau itu dipasangi jeruji besi.

Budaya Toraja semakin terkenal unik, telah menjadi wisata megalitikum yang tengah populer, tidak heran bila mereka membuka diri kemudian turis berbondong-bondong masuk, memenuhi rasa ingin tahu, dan menemukan sesuatu yang unik untuk diceritakan. Jika kalian berwisata ke Sulawesi bagian selatan, sempatkan sebentar singgah ke Toraja dan belajar akan ceritanya.

@inay


Leave A Reply

Please Login to Leave a Reply