Telusur jejak Gereja Tua Mojowarno Jombang

Siapa yang tak kenal dengan kota Jombang? Kota yang terkenal sebagai kota santri, karena banyaknya pondok pesantren dan salah satu kota yang mempunyai pondok pesantren terkenal, yaitu; Tebuireng. Namun, siapa sangka kota yang dikenal sebagai kota santri justru terdapat gereja tua yang menjadi sorotan khalayak bahkan wisatawan.

Gereja tua lazim disebut Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) yang beraliran Calvinisme, gereja tersebut berlokasi di Kecamatan Mojowarno, tepatnya sekitar delapanbelas kilometer dari pusat Kota Jombang. Lokasi GKJW Mojowarno juga tak jauh dari makam mantan Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Pondok Pesantren Tebuireng, yang jaraknya tak sampai lima kilometer.

Munculnya Gereja Kristen Jawi Wetan ini diprakarsai oleh Kasan Jariyo, yang kemudian menjadi pemimpin awal jemaat Kristen di Mojowarno. Konon, pembangunan gereja kuno ini dimulai sejak 24 Februari 1879. Setelah memakan waktu selama dua tahun pembangunan gedung gereja, akhirnya terselesaikan.

Diresmikan pada 3 Maret 1881 dengan menelan biaya total sebesar 25.000 Gulden (mata uang Belanda yang sekarang sudah berganti menjadi euro sejak tahun 2002). Semua uang tersebut dari penjualan hasil bumi oleh para petani dan masyarakat sekitar Mojowarno, yang dikumpulkan secara sukarela.

Dari segi bangunannya, gereja seluas 2.537 meter persegi ini masih mempertahankan keasliannya hingga saat ini. Terlihat dari arsitekturnya masih kental bergaya kolonial Belanda. Selain itu, juga terdapat bangku-bangku tua yang ada sejak gereja didirkan, pun ada banyak lampu-lampu kuno yang tergantung, mimbar untuk khutbah yang klasik, dan satu set gamelan (alat musik Jawa), berada disisi kanan mimbar. Dan yang paling terkenal disini adalah lonceng tua terletak di lantai dua, yang ada sejak tahun 1873 hingga saat ini.

Pada bangunan depan, mata akan terkesima dengan tulisan yang menghiasi gevel gereja. Baris pertama dan kedua yang berbunyi, “Duh Gusti, ingkang kawula purugi sinten malih? Paduka kagungan pangandikanipun gesang langgeng”. Sementara baris ketiga yang berbunyi, “Margane slamet rahe pamenthangan”. Lirik tulisan itu seolah menyimbolkan wujud kepasrahan jemaat Jawi Wetan pada Sang Kuasa.

Selain unik, bentuk bangunan, peribadatannya di gereja ini juga digelar hanya menggunakan bahasa Jawa. Dan saat melantunkan lagu-lagu rohani, umat Nasrani juga menerjemahkannya dengan bahasa Jawa sembari diringi dengan alat musik gamelan.

Puncak ramainya jumlah jemaat gereja ini biasanya pada dua momen, pertama terjadi pada saat acara kebaktian dan yang kedua adalah pada saat diselenggarakannya tradisi jemaat Kristen Jawi Wetan, yakni; perayaan Hari Raya Undhuh-undhuh. Merupakan sebuah ritual persembahan sebagai wujud ungkapan rasa syukur atas kelimpahan berkah.

Meskipun terkenal sebagai Kota Santri, di Mojowarno justru dihuni oleh mayoritas umat Nasrani. Namun, kehidupan masyarakatnya berlangsung damai dan saling bertoleransi. Dan saat ini, GKJW Mojowarno bisa dijadikan salah satu rekomendasi wisatawan untuk heritage walk di Jombang.

@inay/sumber insanwisata

 


Leave A Reply

Please Login to Leave a Reply