Tradisi Natal Kaum Mardjikers di Kampung Tugu



Jakarta tak hanya punya tradisi Betawi yang dekat dengan agama Islam. Sejatinya, penduduk Jakarta adalah campur-aduk beragam etnis dan agama. Untuk melihat sisi lain Jakarta kamu bisa menengok ke wilayah utara kota ini. Tepatnya ke Kampung Tugu yang termasuk dalam Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Kampung ini salah satu komunitas masyarakat tertua di Indonesia.

Kampung Tugu didirikan VOC, kongsi dagang Belanda pada 1661, atau sekitar 20 tahun setelah Belanda mengalahkan Portugis di Malaka. Sebanyak 23 kepala keluarga atau 150 orang ditempatkan VOC di sebuah wilayah rawa-rawa empat kilometer di tenggara Tanjung Priok.

Orang-orang Kampung Tugu generasi pertama tersebut merupakan keturunan Portugis campuran Gowa, India. Mereka datang ke Nusantara pada abad ke-15 untuk membeli rempah-rempah. Ketika Portugis kalah dari VOC di Malaka, mereka diboyong ke Batavia dan dijadikan budak selama 20 tahun. Lalu, VOC memerdekakan mereka dan menyebut komunitas ini “mardjikers” yang berarti orang merdeka.

Cerita lain, seperti ditulis Windoro Adi di buku Batavia 1740: Menyisir Jejak Betawi (2010), kaum Mardjikers adalah penduduk asli Benggala (Bangladesh), Malabar, Koromandel (India), dan Sri Lanka. Belanda memboyong mereka dari koloni-koloni Portugis yang direbut VOC. Tujuannya, tenaga mereka sebagai budak dibutuhkan untuk membangun kota. Pada pertengahan abad ke-17, Belanda bersedia memerdekakan mereka dengan syarat meninggalkan bahasa Portugis dan mengubah keyakinan dari Katolik ke agama Protestan.

Tugu dari “Por-Tugu-ese”

Waktu itu, mereka mulai membanjiri pinggiran Batavia. Bahasa Melayu-Portugis pun jadi bahasa umum. VOC kahawatir ini akan menjadi pengikat para perantau dan penduduk asli yang akan berujung pada pemberontakan. Karena kekhawatiran itu, tahun 1653 para budak dari koloni Portugis dibebaskan dari hidup di dalam kota benteng Batavia. Jadilah mereka orang mardjikers dan menjadi jemaat Gereja Sion yang berlokasi di sudut Jalan Pangeran Jayakarta dan Jalan Mangga Dua, Jakarta Barat.

Namun tradisi Melayu-Portugis tak langsung surut begitu saja. Dari kaum mardjikers ini lahir tradisi musik keroncong yang kini kita kenal sebagai Keroncong Tugu.

Menurut sejarahnya, keroncong dibawa orang-orang keturunan Portugis ke Nusantara. Musik ini sendiri cikal-bakalnya dari suku Berber di Afrika Utara yang pernah diduduki Portugis abad ke-8 dan ke-12.

Selain keroncong, kaum mardjikers juga mewariskan kosa kata Melayu yang akarnya berasal dari bahasa Portugis, seperti bantal (avental), bendera (bandeira), jendela (janela), gereja (igreja), keju (queijo), lemari (armario), dan macam-macam lagi.

Suasana tentram keturunan Portugis dari Asia Selatan di Batavia tak berlangsung lama. Mereka terdesak oleh kaum elit Belanda yang pindah ke Batavia. Menurut sejarawan Jakarta Adolf Heuken SJ, tahun 1661 mereka pindah ke kawasan Cilincing, Jakarta Utara. Di sini mereka mendirikan kampung baru. Orang menyebutnya Kampung Tugu yang asal katanya sendiri diambil dari kata por-tugu-ese.

Tradisi Perayaan Natal

Di Kampung Tugu, kaum mardjikers membangun tradisinya sendiri. Setiap malam Natal, kata Heuken, anak-anak di sana membawa obor ke rumah-rumah keluarga mardjikers sambil berdoa dalam bahasa Portugis: Bintisinko dia di Dicember nos Sior dia bi mundu. Libro nos pekador. Ungu noti di kinta fera assi klar koma di dia andju di nos Sior dialegria (Pada tanggal 25 Desember Tuhan kita datang ke dunia. Selamatkanlah kami orang berdosa. Pada Kamis malam yang terang bagaikan siang, Tuhan menganugerahkan malam yang terang bagaikan siang, Tuhan menganugerahi kita kebahagiaan besar.)

Untuk menghormati Natal, mereka yang sudah dewasa, pada tanggal 24-31 Desember pantang minum minuman beralkohol. Pada Tahun Baru, mereka merayakan pesta mandi-mandi, pesta mencoreng wajah dengan bedak cair di rumah masing-masing. Maknanya sebagai wujud kesalahan telah dimaafkan. Pesta dilanjutkan dengan pesta lainnya, Rabo-Rabo.

Rabo-rabo adalah pesta adat saling mengunjungi rumah warga sambil menyanyikan lagu-lagu natal. Kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi seperti halal bihalal ala umat Islam ketika lebaran.

Rabo-rabo diawali dengan mengunjungi gereja-gereja terdekat di Kampung Tugu. Kemudian mengunjungi satu persatu rumah warga sambil menyanyi dan menari diiringi musik tradisional Keroncong Tugu. Ketika berkunjung ke sebuah rumah mereka akan saling memberi salam dan meminta maaf.

Mardjikers di Kampung Tugu juga membuat sajen yang terdiri dari ikan pindang, ikan cue, kue kering, kopi manis, kopi pahit, susu, air putih, dan rokok. Ada pula yang menaruh peti kayu berisi beras di sudut kamar tidur sebagai harapan rumah tak putus oleh rezeki.** (ade/berbagai sumber)

Leave a Comment