Tradisi Tirakatan di Malam Suro, Bagi Orang Jawa Salah Satu Usaha untuk Mendekatkan dengan Allah SWT

 

Malam satu Suro  atau malam 1 Muharam sekaligus  malam menjelang tahun baru  kalender Jawa di bulan Suro, atau tahun baru Hijriyah. Hal ini karena, kalender Jawa pertama yang diterbitkan oleh Sultan Agung mengacu pada penanggalan Islam (Hijriyah)

Di malam Satu Suro ini, ada berbagai macam tradisi yang dilakukan. Salah satu tradisi adalah tradisi Tirakatan yang mengharuskan pelakunya tidak tidur semalam suntuk.

Sumber gambar instagram by: (@agus_waeee)


Tradisi Tirakatan berasal dari kata Thoriqot atau Jalan, maknanya agar  kita berusaha mencari jalan mendekat diri dengan Allah SWT lebih dan lebih dekat lagi. Dengan kita melakukan tradisi Tirakatan tanpa disadari ternyata kegiatan tirakatan ini juga telah meningkatkan kemampuan ketingkat yang lebih tinggi lagi, yaitu meningkatnya keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, maupun kemampuan pengolahan bathin dan kesabaran  kita untuk menghadapi berbagai cobaan dan tantangan hidup yang selalu ada selama hidup kita di dunia.

Sumber gambar instagram by: (@reendrazzt)

Sumber gambar instagram by: (@tikahkumala_m)

Tirakatan biasanya diperingati pada malam hari setelah magrib pada hari sebelum tangal satu biasanya disebut malam satu Muharam/Suro, hal ini karena pergantian hari Jawa dimulai pada saat matahari terbenam dari hari sebelumnya, bukan pada tengah malam. Tirakatan akan dipimpin oleh ustadz atau sesepuh di tempat itu. Tirakatan dimulai dengan melalukan doa bersama, berdzikir dan membaca ayat-ayat Al-Qur'an hingga tiba waktunya Isya'. Diakhir Tirakatan biasanya ditutup dengan acara makan bersama, dengan memotong tumpeng dan berbagai jenis jajanan pasar yang dianggap sebagai rasa syukur terhadap Tuhan yang telah memberi keberkahan di Tahun sebelumnya. (al) (ec)


Leave A Reply

Please Login to Leave a Reply