Tradisi Upacara Nguras Enceh atau Mengganti Air Gentong Di Makam Raja-Raja Mataram

 

Selain dikenal kelezatan kulinernya, kota Yogyakarta dikenal sebagai kota budaya dan tradisi. Berbagai acara dan upacara adat lampau masih dapat kita ikuti pada waktu-waktu tertentu. Salah satunya adalah Upacara Nguras Enceh atau Mengganti Air Gentong di makam raja-raja mataram di daerah imogiri. Tradisi ini dilakukan pada setiap tanggal 1 Sura khususnya pada hari Jumat Kliwon. Upacara ini berlangsung setahun sekali dan biasanya dihadiri oleh banyak orang dari berbagai daerah dan tujuan. Ada yang sekadar ingin menyaksikan upacara, ada yang ingin berwisata, ada yang ingin mengetahui makna dari upacara tersebut, dan ada pula yang datang dengan niat untuk mendapatkan berkah.

Makam Raja-Raja Mataram Di Imogiri

Lokasi makam rajaraja mataram berada kurang lebih 17 KM di tenggara kota yogyakarta, tepatnya di Dusun Pajimatan, Desa Girirejo, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Untuk mencapai lokasi makam raja-raja mataram di Imogiri, kita dapat menggunakan kendaraan pribadi atau angkutan umum. Anda dapat menumpang bus jurusan Yogyakarta–Panggang atau Yogyakarta–Petoyan dari Terminal Giwangan. Setibanya di Terminal Imogiri Bantul, Anda dapat melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sekitar 250 meter menuju kompleks Makam Raja-Raja Mataram. Berkunjung dan berziarah ke Kompleks Makam Raja-raja Imogiri terutama saat Upacara Nguras Enceh berlangsung, Anda tidak dikenai tiket khusus. Di area ini Anda dapat memberikan sumbangan seikhlasnya di kotak-kotak yang sudah disediakan.

Kompleks makan berada di sebuah puncak perbukitan yang tinggi, diantara pepohonan yang rimbun. Untuk mencapai Makam Raja-raja,  pengunjung harus mendaki ratusan anak tangga. Info yang terdengar kira-kira ada lebih dari 340 anak tangga, namun kepastian jumlahnya saat ini belum jelas. Konon jika berhasil menghitung dengan tepat jumlah anak tangga yang didaki, keinginan atau kehidupan yang lebih baik akan terjadi dikemudian hari.

Info yang didapat dari para abdi dalem yang bertugas di kompleks pemakaman, Makam Raja-raja Imogiri ini dibangun pada masa pemerintahan Sultan Agung, raja besar Mataram Islam. Bermula dari permintaan Sultan Agung untuk dimakamkan di Mekah, namun ditolak karena Sultan Agung dianggap sebagai raja yang tidak benar-benar Islam. Oleh Sunan Kalijaga, salah seorang penyebar Islam di Jawa, dilemparkanlah batu kerikil yang akhirnya jatuh di puncak bukit tempat Makam Raja-raja ini berdiri. Makam Imogiri ini didirikan tahun 1632.

Kompleks pemakanan ini dibagi menjadi dua, Makam Raja-raja Surakarta di sebelah barat dan Makam raja-raja Yogyakarta di sebelah timur. Kompleks pemakaman kerajaan Islam memiliki gaya bangunan Majapahit dengan nuansa Hindu yang kental, seperti terlihat pada gerbang yang bergaya gapura bentar. Sedangkan pintu-pintu makam yang sempit meninggi persisi seperti gerbang paduraksa di candi-candi Hindu.

Konon di bawah gerbang utama makam tersebut terdapat jenazah Patih Endarata, patih Mataram yang berkhianat dan membocorkan rahasia penyerangan Mataram ke Batavia. Dengan begitu secara otomatis pengunjung akan melalui dan menginjak jenazah patih mataram yang berkhianat tersebut.

Makam Raja-raja ini termasuk makam Sultan Agung memang boleh dimasuki oleh peziarah kecuali hari Jum’at dan hari-hari tertentu. Namun peraturan pemakaman ini, mengharuskan pengunjung untuk mengenakan busana kejawen. laki-laki memakai beskap dan jarik, sedangkan untuk perempuan mengenakan kemben.

Upacara Nguras Enceh Atau Mengganti Air Gentong Makam Raja-Raja Mataram Di Imogiri

Tradisi pemakaman di puncak bukit ini adalah suatu akulturasi antara Islam dengan tradisi Hindu di masa-masa awal perkembangan Islam di Jawa setelah sebelumnya agama Hindu mendominasi selama berabad-abad. Ciri tradisi Islam juga terlihat pada bangunan masjid tua yang ada di pelataran bawah makam.

Enceh atau gentong yang ada di Kompleks Makam Raja-Raja Mataram ini berjumlah 4 (empat buah). Jika diurutkan dari arah barat ke timur, nama-nama enceh adalah Gentong Kyai Danumaya, Kyai Danumurti, Kyai Mendung, dan Nyai Siyem. Gentong Kyai Danumaya berasal dari Kerajaan Palembang, Kyai Danumurti dari Kerajaan Aceh, Kyai Mendung dari Kerajaan Ngerum di Turki, dan Nyai Siyem berasal dari Kerajaan Siam (Thailand).

Pada mulanya, enceh-enceh ini adalah tanda persahabatan antara Kerajaan Mataram dengan kerajaan-kerajaan lain. Sultan Agung (1613-1645) sebagai penguasa Mataram saat itu tidak bersedia diberi hadiah atau tanda kenang-kenangan yang berupa emas, intan, maupun berlian. Sultan Agung hanya menginginkan Enceh-enceh tersebut agar nantinya airnya dapat memberikan berkah kepada seluruh kawula Mataram. Namun, terkadang enceh-enceh tersebut juga dianggap sebagai tanda takluknya kerajaan-kerajaan lain di bawah panji-panji Kerajaan Mataram. Setelah itu, abdi dalem dibantu warga mengambil air cidukan tersebut.

Sehari sebelum Upacara Nguras Enceh dilakukan, terlebih dulu diadakan Upacara Ngarak Siwur (Siwur = gayung air dari batok kelapa dengan tangkai bambu). Keesokan harinya barulah Upacara Nguras Enceh dilakukan. Upacara Nguras Enceh juga dilengkapi dengan sesaji yang diperlukan, antara lain pisang, nasi, bunga mawar dan melati serta kemenyan. Sedangkan air diambilkan dari Sendang Bekung yang letaknya kurang lebih dua kilometer dari lokasi upacara.

Urutan upacara ini adalah pembukaan, tahlil, wilujengan, doa, pengalungan untaian bunga ke enceh, dan pengambilan air oleh abdi dalem berpangkat Tumenggung atau Ngabei. Setelah enceh penuh dengan air, masyarakat umum baru boleh mengambil air yang dianggap bertuah tersebut. Pengunjung dapat mengambil dan membawa pulang air berkah dalam gentong yang dipercaya berkhasiat menjaga kesehatan dan menyembuhkan penyakit. Air ini sangat bening dan menurut abdi dalem rasa dan warna air ini tidak akan pernah berubah meski disimpan selama bertahun-tahun. Pada bulan Sura atau Muharam gentong-gentong hadiah dari Palembang, Aceh, Thailand, dan Turki ini dicuci. Upacara Nguras Enceh atau mencuci gentong sangat sakral dan dihadiri oleh banyak orang yang memperebutkan air bekas cucian gentong-gentong tersebut.

Tradisi nguras enceh ini selalu menarik perhatian masyarakat terutama mereka yang mempunyai kepercayaan terhadap nilai kesakralan tradisi. Keikutsertaan masyarakat terhadap upacara yang merupakan peninggalan nenek moyang masyarakat Jawa ini adalah upaya untuk ngalap berkah dan tirakat. Tradisi ini juga merupakan wujud adanya hubungan yang erat antara masa lalu dengan masa kini dan masa depan.

Tradisi Ngalap Berkah adalah kepercayaan masyarakat Jawa yang yakin akan memperoleh berkah apabila mereka berpartisipasi dalam suatu upacara adat. Dengan berkah tersebut, orang Jawa berusaha memupuk pengharapan dalam mengarungi kehidupan mereka. Selain itu, mereka akan selalu ingat akan eksistensi dan hubungan mereka dengan Tuhan beserta alam lingkungan.

Minat masyarakat dalam mengikuti upacara ini cukup tinggi. Sebagian warga percaya, air enceh di Makam Raja-Raja Mataram Imogiri bisa menjadi sumber berkah jika diminum. Menurut kepercayaan, air enceh lebih baik langsung diminum daripada hanya dibasuh karena lebih merasuk ke dalam tubuh. Air jangan pula dimasak karena khasiatnya akan hilang. Air enceh bahkan dipercaya memiliki khasiat sebagai penyembuh penyakit maupun sebagai pendatang rejeki. Masih menurut kepercayaan kejawen, air enceh memiliki kandungan air zam-zam. Selain itu dengan mengunjungi Makam Raja-raja Imogiri, pengunjung dapat mengetahui kekayaan sejarah budaya dan tradisi Kerajaan Mataram Islam.(ec)


Leave A Reply

Please Login to Leave a Reply