Upacara Adat Grebegan Mulud, Tradisi Yang Diselenggarakan Keraton Jogja



Sebagai perayaan rutin memperingati bulan Mulud dalam penanggalan Jawa atau lahirnya Nabi Muhammad SAW, Keraton Yogyakarta selalu mengadakan upacara tradisi bernama Grebegan Mulud. Menurut sejarahnya Keraton Yogyakarta yang dahulu adalah kerajaan Mataram Islam yang mempunyai tradisi Jawa-Islam yang sangat kental. Hal itu yang menjadi alasan mengapa Keraton Yogyakarta selalau mengadakan upacara tradisi saat bulan-bulan atau moment besar di dalam penanggalan Islam.

Grebegan sendiri mempunyai makna sebagai sedekah Raja atau Sultan terhadap rakyat Yogyakarta yang telah mengabdikan dirinya kepada Keraton. Bahkan sebelum upacara adat Grebeg ini, Karaton Yogyakarta telah mengadakan rangkaian acara yang di mulai satu bulan sebelumnya. Dimulai dari Perayaan Pasar Malam dan Sekaten (PMPS) yang digelar untuk merepresentasikan sebagai pasar rakyat. Kemudian, rangkaian prosesi di lanjutkan dengan mengeluarkan gamelan yaitu Kyai Guntur Madu dan Kyai Nogo Wilongo dari dalam keraton menuju ke Masjid Gedhe Kauman , prosesi ini disebut Miyos Gongso. Tiga hari sebelum puncak acara dilakukan Tumplak Wajik, prosesi ini adalah menumpahkan Wajik (makanan tradisonal yang terbuat dari ketan dan gula Jawa) oleh Putri Sultan untuk kemudian sebagai bahan pembuat gunungan Grebeg.

Pada puncak acara, Gunungan Grebeg akan diarak keluar Keraton Yogyakarta dengan di kawal dengan berbagai perajurit Keraton Yogyakarta, sedangkan Gunungan ini nantinya akan diperebutkan oleh masyarakat. Terdapat tujuh jenis gunungan di dalam Grebeg Mulud ini yaitu; tiga Gunungan Lanang (gunungan laki-laki), Gunungan Wadon (gunungan perempuan), Gunungan Bromo, Gunungan Dharat, Gunungan Gepak, dan Gunungan Pawuhan, gunungan-gunungan ini semuanya terbuat dari sayur mayur, padi, serta kue kering yang merepresentasikan hasil bumi.

Gunungan ini nantinya akan diarak menuju Masjid Gedhe Kauman sebanyak lima buah Gunungan, satu Gunungan akan menuju Puro Pakualaman dan satu lagi menuju Bangsal Kepatihan atau kompleks DPRD DIY. Setelah di doakan Gunungan-gunungan ini akan di rayah  atau di perebutkan oleh masyarakat yang telah menunggu. Suara Gumregeg atau derap langkah masyrakat dalam merebutkan Gunungan di duga ssebagai asal mula penamaan Grebegan.

Masyarakat percaya hasil bumi serta sedekah yang di berikan Sultan melalui Gunungan ini akan mendatangkan berkah dan kemakmuran, tidak mengherankan apabila masyarakat menyebutnya dengan Ngalap Berkah atau mencari berkah dari Raja atau Sultan. Nantinya hasil bumi dan isi yang ada di Gunungan ini akan disimpan sebagai lambang kemamuran atau di taburkan di ladang sebagai perlambang dan pengharapan semoga panen yang akan datang akan lebih baik. (Hanung)

Leave a Comment