Upacara Bakar Linggis; Cara Suku Kajang Menemukan Maling

 

Suku Kajang merupakan salah satu suku di Indonesia yang masih memegang teguh tradisi nenek moyangnya hingga kini.  Secara geografis mereka tinggal di wilayah Desa Tana Toa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan dan berjarak sekitar 60 kilometer dari pusat kota Bulukumba.

Mereka dikenal sebagai suku yang sangat menghormati alam, ideologi mereka disebut sebagai "tallase kamase-mase", berupa prinsip hidup yang memerintahkan masyarakat untuk hidup bersahaja. Tidak memiliki keinginan berlebih dalam sehari-hari, misalnya pakaian, makanan, dan lain-lain. Mereka sebisa mungkin menekan keperluan hidup agar tidak mengganggu kelestarian hutan.

Bahkan bila ada yang berani mengambil hak yang bukan miliknya, Suku Kajang mempunyai pengadilan adat yang dinamakan upacara attunu panrolik (membakar linggis).

Seperti dalam terjemahannnya, upacara tersebut membakar linggis sampai merah membara untuk ditempelkan kepada tiap orang yang dicurigai sebagai maling atau pencuri. Biasanya pengadilan ini yang dipimpin oleh ammatoa (ketua adat) dan dilakukan bila dalam perkara kriminal atau pencurian tanpa diketahui siapa pelakunya.

Nantinya seluruh warga akan dikumpulkan dan setiap orang yang dicurigai akan diminta untuk memegang bagian linggis yang merah membara.  Percaya atau tidak, tradisi ini digunakan sebagai tes kejujuran tiap warga yang dituding menjadi terduga. Jika yang memegang tidak terluka sama sekali, artinya bukan ia pelakunya. Sebaliknya, jika terluka, maka dipastikan dia pelakunya.

Yap, selain besi linggis nan membara tersebut dipegang oleh pelaku, nantinya ujung linggis yang membara juga ditaruh di atas tumpukan jerami dan langsung terbakar. Fungsinya sebagai pengingat masyarakat untuk bersikap benar, barang siapa yang melakukan pelanggaran maka akan diselimuti ketakutan akan panasnya bara besi linggis tersebut. Tetapi, jika merasa benar, seseorang tidak perlu takut sama sekali.

***

Seru ya bila menjelajah dan mengenal adat suku asli dari Indonesia ini, namun perlu dicatat nih bagi para pengunjung yang datang di daerah ini harus mengikuti aturan adat yang berlaku. Tidak boleh menggunakan kendaraan modern, kamu pun hanya boleh menunggangi kuda atau berjalan kaki. Pengunjungpun harus mengikuti khas pakaian adat kajang yang berwarna hitam itu. Tertarik?

Sumber referensi: seputarsulawesi dan ammatoa.com

Artikel lainnya:

1. Pasang Ri Kajang, Tradisi Suku Kajang Pelestari Hutan

2. Baduy, Negeri Dimana Waktu Berhenti

3. Sigajang Laleng Lipa, Saling Tikam Dalam Sarung

 

 

 


Leave A Reply

Please Login to Leave a Reply