Upacara Pengerebongan, antara Keselarasan, Magis, Kekuatan

Hanya di Pura Pengerobongan, Desa Kesiman Petilan, Denpasar Timur tradisi yang sarat akan suasana magis digunakan untuk untuk mewujudkan keharmonisan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama manusia dan manusia dengan lingkungannya. Tradisi ini dikenal dengan nama Upacara Pengerebongan. Upacara yang diadakan setiap 201 hari setelah hari Galungan atau 8 hari setelah hari raya Kuningan di Bali ini terbilang unik. Pasalnya, dalam upacara ini terdapat tradisi ngurek (menusuk-nusukkan keris tajam ke bagian tubuh) yang dilakukan oleh orang-orang yang kerasukan.

 

sumber gambar: instagram by @sakhawangsa

sumber gambar: instagram by @xylobear

sumber gambar: instagram by @adityakusuma99

Tradisi ngurek bersumber dari ritual keagamaan di Bali. Ritual  ini dilakukan dalam keadaan tidak sadar dan bisa dialami oleh siapa saja, termasuk pemangku, penyungsung pura, anggota krama desa, tokoh masyarakat, orang dewasa atau anak-anak, laki-laki dan perempuan. Uniknya, walaupun mereka menusuk-nusukkan keris ke bagian tubuh mereka, tidak. .ada luka sama sekali di tubuh tersebut.

sumber gambar: instagram #pengerebongan

Karena berbahaya, saat ritual ini berlangsung, para pecalang (polisi adat) akan membatasi areal ngurek dengan pagar hidup agar masyarakat yang antusias menyaksikan tidak mengganggu dan tidak terluka pada saat warga yang kerasukan sedang memegang keris tajamnya.


Leave A Reply

Please Login to Leave a Reply